
Kebaya berpayet ngepres di body goals Ama melekat sempurna. Ia risih dibuatnya, apalagi kain rok nya yang sempit menurutnya itu menyusahkan dirinya melangkah.
"Ya ampun, tidak betah sekali. Enakan levis robek robek lututnya daripada baju ini. Percuma mahal, tapi menyusahkan buat apa coba?" Ama mendumel karena kain yang melilit sempit bagian bawahnya, hampir membuat langkahnya terjatuh. Kalau hari ini bukan lamaran resmi dari Abian, ia mana sudi berdandan ayu bak putri keraton.
Ceklek...
Dumelan Ama buyar saat pintu kamarnya dibuka oleh Vay. Di belakang sana, ada Pelangi - salah satu sahabat oroknya. Kedua wanita itu, pangling melihat penampilan Ama yang terkesan putri kemayu.
"Apa?" cetus Ama saat keduanya ketahuan menatap lamat lamat dirinya. "Ini sangat melelahkan. Ck, jadi wanita sangat sangat merepotkan pakai beginian segala." Ama lanjut mendumel di depan cermin tak mempedulikan kedua sang sahabat yang sudah berdiri di kedua sisinya.
"Lepas aja kalau nggak suka. Kalau Abian dan keluarganya menginginkanmu jadi bagian keluarga dari mereka, maka pasti akan menerimamu apa adanya, bukan?" Vay memberi saran suka sukanya.
Ama menyeringai. Benar juga kata kakak ipar Utan ini.
"Kalau kamu sudah menjadi istri Abian, aku yakin nih, Ibu mertuamu itu akan memaksamu memakai kebaya terus tiap hari. Kalau tidak menurut, kamu akan dicaci jadi mantunya." Pelangi menimpali. Terdengar menakutkan bagi Ama. Benar juga kata Pelangi. Buktinya, Ibunda Abian, kesahariannya berpakain adat. Mampus lah.
__ADS_1
"Mertua itu ibaratkatkan singa kalau sudah mengomel. Sehebat apapun dirimu di masa gadis mu, mertua tetap mertua yang egois. Ihh, pokoknya seram dah. Kalau aku jadi kamu, aku akan batalin," Vay berbisik setan.
" Kan, kamu nggak cinta." Pelangi pun menimpali meracuni keputusan Ama. Kedua wanita ini, telah diutus oleh Utan untuk meyakinkan Ama agar mundur sebelum terlambat.
"Batalin? Boleh juga!"
Asyik, Ama sepertinya termakan rayuannya. Vay girang dalam hati. Utan pasti senang mendengar keberhasilannya. Ternyata, tidak susah membujuk Ama.
"Tapi, Vay..." Ama menyeringai. "Kamu mau kan menjadi pengganti ku untuk Abian?"
"Gilakkkk!" Vay menoyor kesal jidat Ama yang tersenyum setan padanya. "Petir mau dikemanain?!"
"Kalian bukannya doain aku bahagia malah sebaliknya. Aku yakin, pasti Utan yang mengotori otak kalian berdua kan?"
Pelangi dan Vay kompak terdiam. Hal itu meyakinkan Ama bahwa Utan ada di balik tingkah keduanya. Seperti tadi, Utan terus mengirimi chat padanya dengan banyak kata kata menjelekkan Abian.
__ADS_1
" Aku harus keluar dan tidak akan mundur karena nama baik keluarga ku pasti akan rusak kalau kesalahan ku yang dulu, kulakukan lagi. Inilah saatnya aku bertanggung jawab pada Abian yang pernah aku gagalkan pernikahannya dulu."
Vay menunduk malu karena merasa tersindir. Dia adalah calon pengantin Abian dulu yang sempat membuat beberapa pihak keluarga malu akibat tingkah mereka semua termasuk Ama yang berperang penting waktu itu.
Sampai di ruang khusus rumah mewah Ama, dua keluarga inti Ama dan Abian sudah berkumpul. Para sahabat Ama pun hadir termasuk Utan. Ama sengaja mengundang semuanya di hari lamaran resminya supaya mereka semua yakin kalau ia bahagia dengan keputusannya. Satu hal harapan Ama yakni suatu saat hatinya benar benar bisa menerima Abian tanpa ada embel embel terpaksa lagi. Bukannya, cinta akan tumbuh seiringnya kebersamaan? Ya, Ama akan memperuntungkan kehidupan asmaranya.
"Kamu sangat cantik, Sayang." Jum memuji sembari beranjak meraih tangan sang putri yang tadinya diapit oleh Vay dan Pelangi.
Abian dan Utan saja tertegun melihat keanggunan gadis itu yang sekarang melempar senyum ke semua orang. Terakhir, mata dan senyum paksa Ama jatuh ke Utan yang langsung melengos membuang mukanya ke arah lain.
Vanila yang sudah curiga dengan perubahan sikap Utan yang acuh tak acuh belakangan ini terhadapnya, tidak luput matanya dari Utan dan Ama secara bergantian. "Apakah perkiraan ku benar, kalau Utan punya rasa pada Ama?" batin Vanila menerka. Jujur, ada rasa sakit hati di dalam dadanya. Dan monolog nya buyar saat Abian menyatakan lamaran sahnya kali ini diiringi dengan acara pertunangan langsung. Abian curi star tidak mau membuang buang waktu.
Ama yang mendengar hal tersebut, hanya bisa melongo sampai untaian demi untaian sakral mengenai lamaran dari wakil Abian, usai. Kali ini, ia sudah bermain jauh sehingga tidak bisa mundur lagi untuk menolak demi nama baik semua keluarga nya. Tersenyum paksa lalu mengatakan, "Saya setuju tunangan hari ini juga." Kalau tidak bisa mundur, maka maju lah pilihannya bukan? Ama akan menerima takdirnya sebagai istri dari Abian.
Mendengar itu, kedua tangan Utan mengepal sempurna. Lagi, Vanila melihat kekesalan Utan dalam diamnya.
__ADS_1
Saat cincin pertunangan melingkar ke jari Ama, Utan berangsur mundur. Berbalik tapi masih bergeming di tempat. Air mata Utan jatuh begitu saja tanpa permisi. Ia merutuki dirinya sebagai pria pengecut karena bisa bisanya ia baru menyadari perasaan cintanya ke Ama setelah sahabatnya itu akan dipersunting oleh Pria lain. Saat ini, ia tidak bisa berbuat banyak kecuali hanya menonton senyum bahagia sepasang di tengah tengah ruangan ini.
"I Love you." Ungkapan Abian yang tanpa jaim di depan orang banyak, membuat godaan demi godaan tercipta dari dua pihak keluarga. Ama sendiri hanya menunduk malu dengan senyum yang sangat di paksakan. Sementara Lautan, pria itu memegangi dadanya yang seperti ada batu yang menghantamnya. Lanjut pergi tanpa sepengetahuan orang lain kecuali Vanila yang mengikutinya diam diam.