
Imperial, jam tujuh malam. Ama datang ke taman tersebut memenuhi keinginan Abian.
Ia celingak celinguk mencari sosok yang membuat janji padanya. Namun, Ama sama sekali tidak melihat Abian. Kemana pria itu? Adanya, sepasang muda mudi dan beberapa gerombolan tongkrongan terlihat bercanda gurau di bawa sinar bulan yang menderang.
"Eh..." Ama terkesiap. Dari belakang ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia kira itu adalah Abian, namun seorang badut berhidung pinokio.
Badut tersebut melambai ceria. Lalu memberinya setangkai bunga mawar.
"Dari siapa __ Hei, mau kemana?"
Badut itu berlari pergi dengan bokong geol geol lucu. Ama sedikit terhibur dari laranya.
Menunduk menatap bunga yang ternyata ada sebuah catatan kecil. "Ikuti lari badut itu dan temukan bunga mawar di sepanjang jalan mu."
Alis Ama terangkat satu. Apa maksud dari Abian? Apa ingin membuat hal romantis. Entah, Ama tidak mau menebak nebak.
Jawabannya akan ia temukan kalau mengikuti instruksi yang ada.
Satu persatu, Ama mengumpulkan bunga yang berujung membawanya ke mawar terakhir. Di mana ia berhenti di tempat paling ujung taman. Sangat sepi dengan pencahayaan yang sedikit remang.
Bugh...
Saling tabrak punggung. Ama dan pria yang disangkanya Abian, saling berbalik.
"Vanila...?"
"Abian...?"
Kedua nya berseru bersamaan tanpa melihat wajah di balik kegelapan.
Namun, suara yang begitu familiar sudah meyakinkan masing masing kalau mereka salah mengenali orang.
"Loh, Utan?"
"Ama?"
Keduanya kebingungan, kenapa bisa bertemu orang yang bukan membuat janji?
"Aku kemari disuruh Vanila." Lautan menjelaskan dengan jujur.
"Dan aku kemari karena permintaan Abian." Ama yang tidak mau menimbulkan kekeliruan pun menjelaskannya cepat.
Keheranan keduanya buyar oleh suara musik romantis secara tiba-tiba dari balik tanaman.
Ama dan Utan kompak ingin bergerak untuk mencari suara tersebut. Namun terhenti saat kembang api meledak ledak di atas sana, seiringan lilin lilin elektrik menyala melingkari posisi mereka.
Utan dan Ama saling pandang, kembali menatap lingkaran lilin yang berbentuk love itu.
"Ini maksudnya apa__" Ama terjeda oleh suara Vanila di balik pohon yang tak jauh dari mereka.
Tanpa berhenti, suara Vanila menjelaskan semua kebenarannya, kenapa Utan dan Ama bertemu secara tidak kebetulan. Itu karena memang rencananya dengan Abian.
Bergantian, kini suara Abian yang terdengar tanpa ada sosok tubuh nya terlihat. "Ama dan Lautan, aku ingin mengungkapkan kebenaran. Tapi sebelumnya, aku ingin meminta maaf kepada kalian terkhusus kamu, Utan. Satu tahun yang lalu, sesungguhnya aku sudah menyadari perhatian mu ke Ama itu bukan semata sekadar persahabatan. Namun hal lebihnya yaitu cinta. Sayangnya, Kamu bodoh karena terlambat menyadari hal itu. "
Utan terdiam seribu bahasa. Memang betul perkataan Abian. Namun, saat Ama bergabung di dunia intel, jarak mereka sedikit menjauh, disusul kehadiran Vanila yang menghiburnya membuat ia dan Ama semakin mempunyai dunia masing-masing.
"Utan, maaf...!" Kini, suara Vanila yang terdengar. "Sebenarnya..." Semua kebenaran pun diungkapkan oleh Vanila dan Abian secara bergantian, yakni masalah konspirasinya ke Utan dengan licik Vanila masuk ke dunia Utan, mengambil perhatiannya secara bertahap. Juga, Abian mengakui dengan gamblang kalau ialah yang menyuruh Vanila - sahabatnya.
__ADS_1
"Sahabat?" Utan dan Ama kembali dibuat bergumam kompak.
Lautan yang ingin berhadapan langsung dengan pemilik suara di balik pohon sana, berlompatan melewati lilin elektrik itu, Ama menyusul.
Mereka dibuat melongo. Ternyata, tidak ada orang di balik pohon, hanya ada alat perekam suara.
"Kalian saling mencintai, kami berdua mundur dengan ikhlas. Cepat punya anak setelah menikah ya." Suara plong Abian dan Vanila bersamaan di kalimat penutup tersebut.
Masih dalam kehilangan kata kata, Ama dan Lautan kembali dikejutkan oleh sebuah pertunjukan biola yang memukau beriringan lampau led berwarna warni, menyala.
Lautan memusatkan atensi ke wajah Ama yang setia menatap pemain musik itu. Perasaannya yang sempat berkecamuk, jadi rileks dan bahagia. Ia juga tidak akan mempermasalahkan tentang awal kehadiran Vanila yang cuma sekadar mempermainkannya, karena mengakui kesalahan serta mengalah memuluskan jalan nya bersatu dengan Ama, sudah cukup membuktikan kalau Vanila dan Abian patut dimaafkan.
Sekonyong-konyongnya, Utan menggenggam jemari kanan Ama yang berdiri tepat di sampingnya. Dengan sat set bertanya mantap, "Will you marry me?"
Wajah Ama bersemu. Tidak ada lagi beban dan alasan untuk menolak Lautan. Abian dan Vanila ternyata mempunyai hati yang lugas. Dengan malu malu, Ama mengangguk mantap sembari tersenyum manis.
"Yess..." Lautan terpekik senang. Refleks memeluk erat Ama. Ia mengelus rambut itu dan berbisik mesra, "Boleh DP sedikit, nggak?"
Ama langsung menangadakan wajahnya. "DP apa, eum?" tanyanya sedikit galak. Jangan bilang, Utan minta 'tidur' lebih dahulu. Tonjokan Ama sudah gatal rasanya.
"Ini..." Tadinya, bibir yang mau diembat oleh Lautan. Namun menyadari siapa Ama yang susah dimodusin, Lautan pun hanya mengecup mesra kening gadis itu.
Di balik cahaya remang, Ama tersenyum simpul dengan wajah yang pasti merah merona. Ia bahagia sekaligus malu bermesraan di tempat terbuka.
Selanjutnya, Utan dan Ama menikmati alunan biola sembari berdansa.
"Abian, terimakasih. Dan maaf untuk mu." Ama bergumam dalam hati. Ini kedua kalinya ia menggagalkan pernikahan Abian.
***
Di waktu yang sama, Abian dan Vanila berlari ngos-ngosan dengan tangan saling bertautan ke arah jalan raya meninggalkan taman. Mereka sudah membuang kostum badutnya.
Abian ikut duduk. "Benar, mereka pasti sedang menikmati pacaran."
Vanila menepuk pundak sang sahabat yang duduk di sebelah nya itu. Tadinya, Abian semalam menolak melepas Ama, namun tadi siang, Abian menelepon nya dan mengatakan akan melepas Ama, sebelum menyesal dikemudian hari.
"Kamu baik baik saja kan?" tanyanya menggoda sembari menunjuk permukaan jantung Abian. "Aku ada tissue dan pundak yang kokoh untuk dibuat sandaran tangismu."
"Apaan sih." Abian cemberut sembari menepis tangan Vanila.
Vanila tersenyum lucu. "Jangan galak galak, orang baik dan punya hati yang ikhlas akan mendapat cewek lebih baik dari Ama. Percaya deh."
Ada taksi tiba tiba berhenti, tak jauh dari mereka duduk. Abian dan Vanila menoleh. Terlihat punggung dan gestur tubuh seksi di sana.
"Tuh, seperti cewek itu. Seksi sekali, itu sepertinya bidadari pengganti Ama yang dikirimkan Tuhan padamu secara tunai."
Abian termakan provokasi Vanila. "Masa? Coba aku tes goda ya."
Vanila mendukung mantap. Abian berdeham pelan. Lalu bersiul siul menggoda cewek itu.
Cewek berambut panjang lurus dengan body goals mendekati sempurna itu, berbalik. Abian dan Vanila tidak sabar ingin melihat rupa yang sedikit terhalang rambut panjang berkilaunya.
" Eh, ganteng. Godain aku ya?"
Mampus, lady man bin banci yang di goda Abian.
"Vanila, ka-kabur." Abian tergagap shock sembari menarik tangan Vanila yang terpaku seperti orang bodoh. Itu sih bukan bidadari tapi malaikat kematian.
__ADS_1
"Eh, ganteng! Jangan lari! Tanggung jawab atas godaan tadi." Banci itu mengejar Abian. Rok mininya sedikit diangkat demi bisa berlari cepat.
"Buruan, Vanila. Aku nggak mau jadi 'Buronan banci!
***
Beberapa minggu berlalu. Hari ini adalah waktu bersejarah indah untuk Ama dan Lautan yang sedang melakukan pernikahan sekaligus resepsi langsung.
Semua kerabat diundang Ama. Terlihat wajah wajah gembira di dalam ballroom pesta.
Beberapa rangkaian acara sudah terlewat. Ini saatnya adalah lempar bunga pengantin. Namun, Ama dan Lautan mengundur waktu. Keduanya menunggu kedatangan Vanila dan Abian. Semenjak kejadian di imperial, mereka tidak pernah saling bertemu satu sama lain. Rumornya, Vanila dan Abian bekerja sama memasarkan hasil rancangan koleksi butik Vanila ke beberapa Negara tentu.
Ama dan Lautan sudah mengirim online undangan pernikahan mereka. Berharap keduanya hadir. Sang mempelai masih punya hutang maaf dan kata terimakasih.
"Sepertinya, mereka memang tidak akan datang deh." Ama berbisik pasrah ke Utan. Kalau dari mata tamu yang duduk di berbagai arah, keduanya itu seperti bermesraan. Sehingga beberapa sahabat lainnya ada yang menggoda, "Sabar woi, sabar... Waktu hanya milik berdua, Ayaaaang."
Lautan mengabaikan godaan Angkasa. Tatapannya masih setia ke arah pintu masuk.
Senyumnya merekah saat melihat ada sosok yang mereka tunggu tunggu. "Mereka sudah datang, Sayang."
Ama mengikuti arah pandang Lautan. Benar, ada Vanila dan Abian yang berjalan beriringan dengan penampilan tak kalah mempesona nya dari tamu lainnya.
Tamu spesial nya itu masih jauh di sana. Namun seruan orang orang yang menunggu acara lempar bunga, terus berseru tidak sabar.
"Baiklah, lempar bunga akan segera berlangsung. Bersiap ya..." Ama dan Utan tiba-tiba membagi dua buket tersebut. Semua para tamu single yang sudah menghadang hadang jatuhnya bunga, dibuat heran. Mempelai pengantin, berjalan ke arah belakang, menuju ke Vanila dan Abian yang juga mengikis jarak bersamaan.
" Bunganya untuk dua tamu spesial ku." Ama memberikan bunga ke Abian. Begitupun Lautan ke Vanila. Mereka berempat menjadi pusat perhatian.
Vanila dan Abian belum merespon bunga tersebut. Mereka saling bersitatap. Ama memberanikan bersuara dengan nada penuh persahabatan," Maaf dan terimakasih."
"Bunga kalian kami tolak." kata Abian.
"Maaf dan terimakasih mu pun kami tolak." Vanila ikut bersuara.
Ama menekuk wajah nya. Abian dan Vanila terkesan dingin terhadap nya dan Utan.
"Karena semuanya itu tidak perlu. Kita mempunyai salah masing-masing, jadi kenapa masih mengungkitnya kan?" Abian menjelaskan dengan suara bersahabat, tidak seperti tadi.
"Dan bunga mu," Vanila melirik tumbuhan cantik itu di tangan Lautan. Lanjut berkata, "Aku dan Abian tidak membutuhkannya, karena kami sudah menikahi di luar negeri beberapa hari yang lalu." Vanila tersenyum sembari memamerkan cincin pernikahan nya. Ia dan Abian memutuskan menikah dengan mengandalkan peruntungan, tapi setelah bersama sama, beberapa hari kemudian, benih benih cinta hadir dalam sendirinya.
Awalnya, mereka menikah itu secara terpaksa. Abian selalu dicap buruk jodoh setelah rencana pernikahan dua kali gagal terus oleh orang orang terdekatnya sendiri. Orang tua Abian, memutuskan untuk mencari jodoh untuk sang anak, karena Abian tidak mau riweh, ia pun memutuskan untuk menunjuk Vanila saja atau tidak usah sama sekali jika keluarga besar nya menolak mantan anak pembantu.
"Astaga, rugi dong aku karena selalu merasa bersalah pada kalian."
Utan, Vanila dan Vanila terkekeh bersama akan ekspresi Ama yang cemberut.
"Intinya, kita harus percaya jodoh. Sekuat kuatnya kita mati matian mengejar dan mempertahankan orang yang bukan ditakdirkan, maka pasti akan sia sia." Utan mengangguk samar, setuju dengan kata-kata bijak Abian.
"Eh, btw... Selamat untuk kalian ya."
Dua pasang pasutri itu saling bersalaman. Terganggu akan suara Angkasa. "Jadi, acara lempar bunga nya bagaimana?"
"Kamu sepertinya kebelet kawin kah?" Ama berseru sembari memberikan bunga nya ke Angkasa. Sahabatnya itu tersenyum lebar mendapatkan bunga sakral.
Bunga Lautan segera ia lempar mencari jodoh Angkasa. Sengaja melemparnya ke arah cewek cewek. Dan jatuh pada sosok gadis gendut di sana.
" Mampus, jangan bilang cerminan pasangan ku nanti seorang wanita gendut." Angkasa kabur begitu saja. Gelak tawa mendominasi acara penuh kebahagiaan Ama dan Lautan. Pesta itu ditutup acara dansa romantis.
__ADS_1
***
Tamat deh ya. Hehehe ... Terimakasih untuk semuanya. 🙏😘😘😘 Salam karya baru,"Special Wife sang CEO."