Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 24# Disalahkan dan Menyadari


__ADS_3

Suara sirene polisi terdengar yang ternyata Aroon tidak berbohong tentang Panic of Button kesatuannya.


Ama mengerang murka karena Aroon belum sempat menjawab pertanyaannya. "Cepat katakan apa yang kamu inginkan dari saya dan siapa otak dibalik rusaknya nama saya?" desak Ama sembari menodongkan pistolnya ke Aroon. Ia tidak peduli dengan tiga mobil polisi yang sudah terparkir di bawa sana, hendak mengepungnya. Suara peringatan pemimpin polisi pun melalui toa, sama sekali tidak di hiraukan Ama. Gadis itu malah mengancam balik, akan membunuh Aroon kalau polisi itu bergerak sedikitpun di tempat. Otomatis, polisi di bawah sana tidak jadi menginjak tangga jembatan penyeberangan tersebut.


"Hahha..." Bukannya menjawab atau takut ancaman Ama, Aroon malah tertawa ejek. "Kamu tidak akan nekat membunuh saya karena semua info yang kamu inginkan ada pada otak dan bibir saya __"


Dor...


Ama tidak suka disepelekan. Mulut nyinyir Aroon ia bungkam dengan memberi timah ke paha Aroon. Pria itu mengerang sakit. Membuat para polisi bingung harus bertindak apa. Wanita yang mereka hadapi ternyata sangat berbahaya. Salah sedikit, bisa bisa nyawa sang atasan taruhannya.


Merasa terdesak dan kurang kondusif menginterogasi Aroon, Ama segera menyandera Aroon untuk bisa lepas dari himpunan polisi yang memberinya aba aba agar menyerah saja katanya.


Tapi bukan Purnama namanya, kalau ia menyerah untuk saat ini.


"Kalau kalian menginginkan nyawa atasanmu selamat, maka beri saya akses untuk pergi!!!" Ama balas menyuarakan keinginannya ke polisi itu. Kepala Aroon sudah dihinggapi moncong senjata api miliknya.


"Menyerahlah, maka hukuman mu bisa mendapat keringanan nanti!" tawar polisi itu lagi.


Omong kosong dengan hukuman.


"Hitung sampai tiga, kalau kalian tidak menuruti saya, maka kepala dia akan berlubang di depan mata kalian semua!"


Terpaksa polisi itu menuruti keinganan Purnama, daripada kehilangan atasan yang mereka anggap Aroon adalah pemimpin baik. Tidak tau saja mereka, kalau Aroon adalah polisi kurup yang bekerja sama dengan orang orang pembelot Negara.


Mendapat kesempatan, Ama pun mulai berjalan penuh dengan kejelian menuruni anak tangga jembatan penyeberangan tersebut. Saat di unggakan tangga terakhir, klakson mobil menyapa Ama dari Utan, mengkode sang sahabat untuk naik.


Aroon yang tidak mau di bawa pergi oleh Ama yang bisa berbuat nekat, mengkode cepat anak buahnya dengan kedipan mata tiga kali seolah olah tembak wanita yang menyandranya.


Ketua polisi penyergapan itu, mengangguk paham kode Aroon. Sudut mata Ama tidak sengaja melihat kode yang dipikirnya mencurigakan. Sembari berjalan mundur mundur menghampiri mobil Utan yang ia pun sadari, ada Abian dan Vanila di dalam sana, Ama terus memasang mata dan telinganya dengan jeli, tidak mau kecolongan. Dan dor... Benar saja, satu polisi menembak ke arah kepalanya. Tapi, Ama yang sudah mewanti wantinya, refleks mengelak cepat bak angin dengan satu tangannya yang menyandera Aroon, ia gerakan sebagai tameng dari peluru. Alhasil, pipi Aroon menjadi sasaran empuk dari bawahannya sendiri.


"****!" Murka sang polisi. Tidak lagi berani menembak karena Aroon bisa saja lagi terkena timah dari kenekatan mereka.


"Bukan saya loh, tapi kalian sendiri yang mungkin menghilangkan atasan kurup ini." Ama menyeringai ejek, Aroon sekarat ulah kepolisian sendiri. Karena merepotkan, Ama yang geram main menembak kaki Aroon, lalu melepas nya begitu saja setelah berhasil mengambil hape Aroon, ia segera masuk ke dalam mobil yang di kemudi Utan.


"Kejar..." Seru polisi tersebut. Sebagian mencoba menolong Aroon yang entah masih bernyawa atau sudah mati.


Kejar kejaran mobil terjadi. Vanila yang shock, hanya meringkuk cemas di kabin belakang, dekat Ama yang sedang memaki maki kegalalannya sendiri yang tidak mendapat info akurat. Di depan, ada Abian dan Utan.


"Kenapa kamu melepaskan Aroon, Ama?" Utan tidak habis pikir.


"Orang sekarat mana bisa membuka mulutnya!" Ama memukul kaca jendela, melampiaskan kekesalannya. Ia tidak mau susah mengurus pengobatan Aroon. Biarkan polisi polisi itu yang menyelamatkan atasannya sendiri, kalau sudah sembuh, barulah dia akan memburu Aroon lagi untuk dimintai keterangannya. Itupun kalau nyawanya selamat.


Dor...


"Aaarggh...."


Tembakan yang tiba tiba mengenai badan mobil bagian belakang, membuat Vanila menjerit histeris.

__ADS_1


"Sialan!" Ama yang butuh pelampiasan mengeluarkan senjata nya lalu membuka jendela mobil. Ia sudah tidak pandang bulu lagi, biarpun polisi kalau tim itu menghambat jalannya, maka dianggapnya musuh pun.


Dor...


Dor...


Dua kali tembakan Ama, mengenai salah satu ban mobil dari dua kendaraan berwajib itu. Decitan suara ban yang bergesek dengan aspal, terdengar ngilu. Satu mobil di belakang sana, menabrak trotoar.


"Utan, awaaaas!" Abian berseru panjang menyadarkan Utan kalau di depan sana ada mobil polisi lain yang malang melintang.


Chiiit...


Utan me-rem mendadak. Depan belakang ada mobil polisi mengepung mereka. Di susul tembakan mengenai ban mobil sampai bocor yang mustahil untuk dikendarai lagi dengan sempurna.


"Damn! Kita terkepung!" Utan memukul setir mobil.


Ama mencoba tenang demi bisa selamat dari polisi yang belum saatnya ia harus menyerah.


"Setelah saya melempar bom asap beracun, maka selamatkan diri kalian. Usahakan jangan tertangkap. Utan, jaga keselamatan Vanila dan Abian." Ama memberi instruksi yang sudah siap mendorong pintu untuk ia keluar. Tapi, ia sejenak berhenti akan seruan Abian, "Hati hati..." Ama sekedar mengangguk. Entah bagaimana ceritanya, Abian dan Vanila bersama Utan, namun intinya kedua orang itu sudah terlibat dengan urusannya yang berarti Ama bertanggung jawab akan keselamatan Vanila dan Abian serta Utan pun. Salah satu mereka ada yang terluka layaknya seperti Utan saat ini yang terkena tembakan, maka itu adalah kesalahannya yang Ama emban dalam ketidakbecusannya.


"Utan, Abian," rengek Vanila panik dan cemas juga dengan keadaan Ama dan semuanya.


"Tenang ya!" Sebenarnya, keadaan Utan lagi tidak bersahabat karena lengannya terus berdarah darah. Abian yang tidak tega juga, mengeluarkan sapu tangannya, mengikat lingkaran lengan Utan, berharap memperlambat cairan merah itu.


Ama sudah berdiri tegak di samping mobil dengan para polisi depan belakang dari beberapa meter posisinya, sedang menodong senjata dengan sangat serempak.


Boom...


"Eh, bukan bom asap!" Ama salah ambil dari tas rupanya. Ledakan besar terjadi. Tapi bodoh amat bagi Ama, intinya ketiga orang yang ada di mobil harus ia bawa jauh jauh dari kepolisian.


Sesuai instruksi, Utan dan dua kepala lainnya cepat keluar dari mobil. Ama segera ditarik Utan." Ayo pergi!"


Vanila dan Abian cemburu melihat itu.


"Aku pacarnya loh. Dan seharusnya, kamu ada di dekat Ama."


"Ini bukan waktunya menggerutu. Sini, aku gandeng kalau kamu kepingin juga." Abian main sambar tangan Vanila dan berlari lari menyusul Ama dan Utan di depannya.


"Tunggu sebentar!" Ama berhenti dan menoleh ke belakang. Sontak saja, ketiganya pun berhenti.


"Kalian duluan saja!" Ama masih gemas dengan kegigihan para polisi yang masih saja ada yang memburuh mereka.


"Ayo..." Utan main sambar tangan Vanila yang masih di genggaman Abian. Lalu menuruti perintah Ama untuk pergi meski dengan berat hati.


Beda dengan Abian yang masih menonton aksi mengerikan Ama yang main lempar dua bom asap beracun, membuat para polisi itu tidak terlihat lagi efek asap tebal.


Saat berbalik yang hendak pergi, wajah Ama terbentur di dada Abian.

__ADS_1


"Kamu makannya apa sih?"


Entahlah, apa yang dimaksud oleh Abian. Ama yang tidak mau efek asap pengecoh itu menghilang, segera menarik tangan Abian untuk pergi.


Abian tersenyum. Ama ternyata peduli juga padanya.


"Aku salut padamu! Nanti, kalau kita punya anak banyak, ajarin mereka biar kuat seperti mu!"


"Cih, pikiranmu anak melulu! Ogah saya jadi istri rasa pabrik pembuatan anakmu!" Ama paling ngeri kalau mendengar suara gila Abian. "Pikirkan hari mu esok, kalau masih mau hidup, maka pergi jauh jauh dari misi berbahaya ini."


"Jujur, awalnya aku shock. Tapi, lama lama seru juga."


"seru dasmu!" sembur Ama ketus. Abian terkena sakit jiwa pikirnya. Baru sadar kalau ia terus menggenggam tangan Abian dalam langkah langkah panjang menyusul keberadaan Utan dan Vanila yang memberi kabar sudah mendapat tempat aman, Ama pun menepis tangan Abian.


" Kenapa dilepas?!"


"Please, Ebi. Ini bukan saatnya bercanda atau melempar godaan!"


Ebi? Biarkan lah, Abian anggap itu adalah sapaan manis Ama untuknya.


"Baiklah, setelah nama baik mu bersih, baru saya akan menuntut lagi tanggung jawab mu untuk menjadi pengantin pengganti Vay yang kamu gagal kan tempo hari itu."


Pening kepala Ama kalau sudah membahas hal intim itu. Ia lebih memilih menulikan telinganya sampai ia berada di dalam rumah tua yang kata info Utan, tak berpenghuni.


Saat ini, Ama dan Abian menyaksikan Vanila membantu membuka kancing baju Utan yang bersandar lemah ke tembok.


"Ya ampun, ini harus diobatin loh." Vanila ikut meringis saat menatap wajah Utan yang menahan sakit.


"Minggir!" Ama menggeser posisi Vanila secara paksa. Membuka ransel besarnya yang ia ingat kalau di dalam tas super jumbo nya itu ada P3K sebagai pertolongan pertama yang ia takuti akan membutuhkan secara tidak terduga.


"Kita harus membawanya ke rumah sakit, Ama. Alkohol pembersih dan obat merah serta perban asal asalan mu itu tidak menjamin." Vanila mencerocos yang tidak dipedulikan Ama.


"Ayo, Sayang. Kita ke rumah sakit." Vanila memaksa.


"Besok juga enakkan, Vanila. Aku mau istirahat __"


"Tidak, tidak. Kamu harus berobat." Vanila kekeh. Abian cukup jadi penonton akan perhatian Vanila yang berlebihan ke Utan.


"Ya, pergi lah. Itupun kalau Utan kamu relakan ditangkap polisi." Ama berceletuk ketus. Membuat Vanila tertegun. Lalu berkata tak kalah judes nya, "Ini itu semua karena mu. Utan terluka karena mu. Untung pelurunya tidak bersarang yang pasti harus dioperasi. Coba kalau iya, kamu lah orang yang harus bertanggung jawab__"


"Cukup, Vanila!" Utan membentak karena ucapan kekasihnya itu membuat Ama terdiam seribu bahasa dengan air muka mengakui kesalahannya. Ama berbalik badan, hendak meninggalkan ruangan kosong berdebu itu.


"Ama, kamu jangan keluar, tidak aman!" Kata Abian dan Utan secara bersamaan.


"Saya hanya ingin mencari angin. Istirahat lah!"


Benar kata Vanila, batinnya berkecamuk menyadari dirinya adalah biang masalah.

__ADS_1


__ADS_2