Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 36# Pengaktifan Sistem Peluncuran Nuklir


__ADS_3

Di ruangan lainnya, Ken kini menghajar Dusit membabi buta. Mantan militer yang memilih bergabung di SSA itu, sekarang berhasil membuat anak seniornya- Fren babak belur.


Bugh... Duargh... Ken dengan tega membenturkan tubuh Dusit ke tembok. Ia tak peduli akan suara erangan Dusit yang melolong pilu minta dikasihani. Simi yang sudah terluka dari awal akan tembakan dari Dusit di lorong ventilasi beberapa jam yang lalu, saat ini hanya bisa menjadi penonton kesengsaraan sang suami bejatnya tersebut. Andai pun kondisinya baik baik saja, Simi tidak akan pernah mau menolong orang yang tak punya hati seperti Dusit itu.


"Kamu ingin membunuhku dengan cara licik, eum...?" Ken melampiaskan amarahnya. Mendapat pemberitahuan dari Simi tentang Dusit ingin meracuninya, membuat Ken murka. "Kerja keras ku membantu Ayah mu, kalian akan membayarnya dengan pengkhianatan, hah? Rasakan...!" Kekuatan mantan militer Ken, tidak bisa diremehkan juga. Dusit yang kabur dari genk Ama, malah jatuh ke tangan Ken yang tidak di duga duganya kalau Ken sudah mengetahui perintah dari Ayahnya itu.


"Ken... Ka-kamu salah paham. Ki-kita lagi diadu do-domba." Dusit terbata bata dalam berkelit yang saat ini sudah tergolek di lantai. Salah satu lubang hidungnya sudah meneteskan darah segar.


Sejenak Ken melirik Simi yang terikat lemah di depan nuklir besar yang akan di luncurkan Ken tanpa sepengetahuan Fren di Indonesia sana.


"Simi punya bukti percakapan mu dengan Asok!" seru Ken geram, tidak ingin dimanfaatkan lagi. Dusit yang mendengarnya, melirik tajam Simi yang malah menghadiahnya senyum miring padanya. Seperkian detik, Dusit kembali melolong sakit ulah Ken yang menendang nendang sekujur tubuh nya. "Setelah ini, Ayah mu juga akan saya hancurkan dengan cara memfitnahnya. Lihat nuklir buatan kita..." Ken memaksa wajah Dusit berpaling. "Saya akan luncurkan sekarang dan yang kena batu nya adalah Ayah mu. Dengan bukti bukti yang saya miliki, Ayah mu yang akan menjadi tersangkanya."


Dusit tidak punya tenaga lagi untuk sekedar membalas bacotan Ken. Sementara Simi memelotot mendengar pengakuan Ken. Sembari berkata dengan cara lemah lembut pertemanan anggota sesama SSA, "Ken... Ini belum terlambat untuk mempertanggung jawabkan segalanya. Jangan menjadi orang yang tamak__"


"DIAM!" Bentak Ken menggelegar sembari mengikis jarak ke Simi yang duduk terikat. Ia tidak suka mendengar suara sok suci Simi menurutnya. "Saya sudah menunggu hari ini dengan lama, Simi." Ken mencengkeram dagu Simi kuat dengan posisi wajah sangat dekat. Sejurus membuang kasar wajah itu ke kiri. "Cepat programkan peluncuran nuklir atau kamu tidak akan bertemu dengan anakmu."


Simi berdecak kesal. Ken dan Dusit sama saja yang selalu membawa nama anaknya untuk menekan paksa dirinya melakukan hal keji yang sangat timbalbalik dari nurani nya.


Simi yang tidak tahu akan keadaan Jane yang sekarang bersama dengan kelompok Ama yang terjebak di ruangan beracun akan kelakuan Ken, mau tidak mau memprogramkan kunci peluncuran nuklir dengan bantuan buku catatan sistem Ama yang berhasil di ambil oleh Ken dari tangan Dusit tadi.


Tangan terikat Simi yang barusan di lepas oleh Ken barusan, sekarang berselancar di atas keyboard. Sesekali, Simi meringis karena rasa sakit bekas tembakan di bagian perut nya, seakan berdenyut denyut perih menggerogoti tubuhnya. Bibirnya yang pucat pasi terlihat membulat membuang nafas kasarnya.

__ADS_1


"Sistem yang di buat oleh Ama sebenarnya masih cacat, Ken. Sebenarnya masih butuh waktu untuk menyempurnakannya, akan tetapi waktu yang kalian berikan tidak sesuai, kami mengambil jalan tengahnya. Alhasil, nuklir hanya bisa lepas dua jam sekali. Tidak bisa bersama sama sesuai keinginan kalian kemarin yang akan meluncurkan dua nuklir berturut turut dengan arah tujuan Indonesia dan Thailand dalam waktu yang sama," terang Simi jujur.


"Apa kamu sedang membohongi ku?" Ken menaikkan satu alis nya, menatap penuh selidik Simi yang seketika menggeleng mantap ke arahnya.


"Aku berharap, hati nuranimu masih ada, Ken." Simi masih mencoba meyakinkan Ken. Namun pria yang penuh dengan ambisi itu seakan-akan menulikan telinganya. Ken malah memerintahkan Simi untuk bekerja cepat. Juga berkata, "Luncurkan ke Indonesia dulu. Harap harap, Fren masuk ke jajaran korban ledakan dahsyat ini."


Ingin sekali Simi melumpuhkan Ken akan kekeras kepalaan pria itu. Tapi apalah daya, tenaganya benar benar terkuras akan rasa sakit luka tembak di perutnya. Demi bisa bertemu dengan anak nya, Simi pun memutuskan untuk mengikuti keambisian Ken.


Sementara Dusit yang tidak mendapat perhatian dari dua orang di depannya, segera mengambil kesempatan untuk kabur secara diam diam. Ia mencoba bergerak tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dalam hati berjanji akan membalas Ken dan kelompok Ama suatu nanti. Isi kepala Dusit saat ini hanya kabur dan mau mengadukan segala nya ke sang Ayah. Berharap pun, Fren mengirim bala bantuannya.


Dalam waktu yang sama, Ama dan teamnya masih berusaha mencari jalan keluar dari ruangan yang penuh dengan udara gas beracun.


Duargh... Duargh... Duargh...


Tiga kali hantaman pintu dari lima pria sekaligus, belum membuat pintu besi itu goyah. Sampai pada akhirnya, kekuatan tenaga Utan, Topan, Guruh, Petir dan Abian, berhasil merusak pintu.


"Ayo keluar, Ama." Utan dan Abian kompak berseru. Vanila hanya mampu menelan kasar ludahnya, manakala Utan main melewatinya, alih alih memapahnya keluar yang juga merasakan tubuhnya terasa lemah dan hampir pingsan.


Vanila tanpa sadar keluar di tuntun Vay. Perhatiannya hanya pada Utan yang memapah Purnama secara bersama dengan Abian.


Sementara Jane, anak Simi itu digendong oleh Petir.

__ADS_1


Mendapat udara bebas gas beracun, semuanya mengambil pasokan udara bersih rakus rakus.


Ama yang sedari tadi memberikan nafas buatan untuk Jane, keadaannya paling memperhatikan. Ama batuk batuk dengan dada terasa sesak. Berjongkok membelakangi orang-orang dengan sekali memuntahkan darah. Tanpa mengeluh, Ama bangkit dan mencoba memperlihatkan air mukanya sebaik baik mungkin meski bibirnya sudah mengatakan pucat pasi.


"Kita harus keluar dari pabrik. Ayo...!" Seru Topan. Tapi, Ama yang tahu persis keadaan akan kacau kalau pergi tanpa merusak sistem peluncuran nuklir, menolak pergi. Masih punya sisa sisa kekuatan yang ia paksakan untuk sang tubuh, Ama pun segera mengatakan hal sesungguhnya pada orang-orang di depannya.


"Bajingan sekali!" Guruh - kakak Ama itu mengumpat geram.


"Vay dan Petir, tolong bawa Utan, Abian, dan Vanila serta Jane pergi dari sini. Mereka semuanya sudah tidak baik baik saja."


"Aku ingin ikut membantu mu, Ama." Utan menserga. Tidak setuju dengan perintah Ama.


"Jangan memperkeruh dan memperlambat keadaan. Orang terluka bisa apa, hah?" Ama berkata judes meremehkan Utan karena berpikir itu adalah jalan tepat untuk meluluhlantakan keras kepala Utan.


Tanpa ingin mendengar apapun lagi, Ama mengambil langkah-langkah panjang yang langsung di ikuti Topan dan Guruh di belakangnya. Utan yang masih kekeuh ingin ikut, terhenti saat Vanila berkata, "Aku juga membutuhkan mu, Utan. Bukan hanya sahabat mu itu yang hampir mati. Aku pun sama!" Vanila mendahului orang orang di depannya beranjak pergi setelah melupakan unek unek nya. Utan serba salah. Ingin membantu Ama, tapi kini Vanila ngambek tidak jelas menurutnya di waktu yang tidak tepat.


"Vanila!" Mau tidak mau, Utan mengikuti Vanila yang mungkin saja nyasar seorang diri.


Abian serta pasangan suami istri bin Petir dan Vay, cuma saling pandang sejenak menyaksikan tingkah Vanila yang terbaca cemburu.


"Percayakan Topan dan Guruh yang akan melindungi Ama. Perkataan Ama memang benar, kalian semua harus keluar dari sini dengan selamat terutama anak kecil tak berdosa ini yang perlu di tolong nyawanya," tutur Petir mendelik ke anak kecil yang ia gendong. Abian sekadar mengangguk paham. Meski ia pun mengkhawatirkan keadaan Ama.

__ADS_1


__ADS_2