
"Aaarggh..."
Sampai di taman belakang, bagai orang kesetanan, Lautan mengerang tertahan dan mengamuk memukuli tiang gazebo dengan telapak tangan lebarnya, sehingga menimbulkan kemerahan yang tidak berasa bagi pria yang sedang mengutuk dirinya sendiri sebagai orang yang paling 'bodoh.'
Vanila yang masih setia mengikuti, tidak berani mendekat yang sampai saat ini, Utan belum menyadari keberadaannya.
"Come on, Utan. Vanila ada bersama mu sebagai calon pengantin mu. Tidak seharusnya, hati mu berpaling di waktu yang tidak tepat untuk nama Ama. Kamu harus merelakannya, meski berat untuk di jalani."
Mendengar itu, hati Vanila sakit dengan dada terasa sesak mendapati kalimat mengejutkan Utan. Masih ingin memastikan, Vanila hanya membisu dengan telapak tangan membekap mulutnya sembari membuka lebar lebar telinganya mendengar kenyataan pahit yang kembali mencuat dari bibir Utan.
"Apakah aku harus secepatnya menikahi Vanila, agar nama Ama di hati ku pergi yang entah kapan dia masuk mengisi perasaan ku? Tapi, kasihan juga Vanila. Argh, kenapa jadi rumit begini?"
Itu tandanya, Utan hanya terpaksa?Menjadikannya Pelarian saja? Kecewa hati Vanila mendapati kenyataan pahit itu. Inikah balasannya karena awalnya ia mendekati Utan dengan maksud tertentu akan perintah Abian? Vanila terus bermonolog dalam hati sembari mundur mundur pergi tanpa suara.
Pergi, Vanila menyetir mobilnya dengan bibir bergerak getir diiringi derai air mata berlinang di pipinya. Ia membutuhkan ketenangan untuk mencari jalan keluarnya akan kisah asmaranya yang tiba-tiba menjadi rumit seperti benang kusut.
Tadi, karena gugup mendapati cincin pertunangan yang terlaksana secara tak terduga, Purnama izin ke kamar mandi. Tapi, Ama tidak sengaja menyaksikan kekesalan dan pengakuan perasaan Utan dari balik jendela kamarnya yang berseberangan langsung dengan tempat yang di pijaki Utan.
"Jadi, dia juga ... mencintai ku?" Ama tersenyum bahagia di balik jendela kamarnya. Namun, seketika luntur saat tersadar akan Vanila yang ia lihat pergi membawa wajah sedihnya. Ya... ekspresi Vanila tadi pun tak luput dari matanya. Tidak mungkinkah, ia bahagia di balik penderitaan wanita lain yang Ama akui, kalau Vanila itu adalah wanita baik-baik meski sikapnya manja dan ambekan.
Selain itu, Ama juga dilema dalam kebingungan akan keadaannya yang sudah menjadi tunangan Abian pun. Meski belum resmi menikah, tetap saja menggagalkan rencana pernikahan tidak semudah membalikkan telapak tangan karena ada dua pihak keluarga besar yang harus ia hadapi. Ama hanya bisa duduk galau nan pasrah di tepi kasur nya.
***
__ADS_1
Malamnya, Ama menghampiri apartemen Utan. Karena sudah bersahabat dari kecil, Utan pernah memberikan akses masuk ke unit mewah itu dengan bebas.
Buka pintu, Ama disuguhkan ruangan yang gelap gulita dengan aroma tidak sedap mengotori udara. Segera, ia meraba tembok untuk mencari stop kontak lampu.
Ama terpaku di tempat. Di atas sofa yang tidak jauh darinya, ada Utan yang duduk mabuk dengan penampilan berantakan. Mata memerah itu menatapnya dengan pancaran sendu menyedihkan.
Lautan tersenyum polos. Berkata lirih, "Ama..." sembari berdiri dengan susah payah dan berjalan sedikit sempoyongan, Utan sudah berada di depan gadis yang sudah membuatnya kacau hari ini.
"Apa kamu ingin tau rahasia ku, Ama?" Karena mabuk, Utan tidak bisa mengendalikan ucapan dan perbuatannya. Tapi, ia sadar akan segala yang ia utarakan. "Sini, aku bisikin."
Ama masih diam saat Utan tiba tiba memeluknya dengan erat. Dalam dekapan itu, Utan berkata, "Aku mencintaimu, Ama. Entah kapan kamu berhasil menguasai hati ku yang tadinya ada nama Vanila di sana."
Pelukan itu kian mengerat. Ama masih setia membisu dengan perasaan campur aduk.
"Aku ingin kamu menjadi milikku. Tapi, kamu memilih Abian. Dan ... Vanila ..." Utan terbata bata. "Kalian berdua memang wajib memiliki pendamping yang baik. Tidak seperti aku yang brengsek ini."
Ama reflek menggeleng. Tidak setuju akan ucapan Utan yang menghardik diri sendiri.
"Aku merelakan mu bersama Abian, Ama. Asalkan, kamu bahagia dengan pilihan mu. Dan untuk Vanila, aku bukan pria yang tepat untuknya." Ya... Meski Ama menjadi milik Abian, Utan tetap tidak bisa menikahi Vanila karena hatinya itu sudah berkhianat. Ia tidak mau lebih jauh menyakiti Vanila lebih dalam lagi dengan cara menjadikan wanita itu sebagai istri nya tanpa adanya cinta lagi atau bisa dibilang 'terpaksa dan mencoba keberuntungan.'
"Kalau aku mengatakan, aku juga mencintaimu, bagaimana?"
Mata Utan berbinar. Dagu Ama yang masih ia tahan, tak dilepasnya. Malah, kepalanya kian maju untuk mengambil kemanisan bibir wanita yang tiba-tiba menahan nafas gugup nya. Belum sempat saling menempel, suara barang jatuh dari ambang pintu utama yang masih terbuka sedikit, mengganggunya.
__ADS_1
Vanila yang ada di sana sejak awal. Hapenya yang terjatuh, ia pungut dan segera berlari meninggalkan tempat yang membakar hatinya.
"Vanila...!" Ama mengejarnya dengan perasaan bersalah. Sesama wanita, ia sadar diri telah menyakiti hati wanita yang masih berstatus kekasih Utan.
Sementara Utan, ia pun ingin menyusul. Akan tetapi, kepalanya yang berat karena alkohol, membuatnya menabrak sisi kusen. Dan... Pingsan.
Karena pintu lift kebetulan terbuka, Vanila masuk dan segera menutupnya agar Ama tidak bisa menggapainya.
"Vanila, Please... Kita harus bicara!" teriak Ama sembari berlari ke arah lift yang separuh pintunya sudah tertutup.
***
"Apa?!"
Abian terkejut dengan cerita Vanila. Gadis itu sudah menceritakan apa yang ia ketahui tentang Ama dan Lautan. Saat ini, ia berada di kediaman Abian.
Dengan besar hati, Vanila berkata, "Kita harus merelakan pasangan kita masing-masing. Mereka saling mencintai, sekuat apapun kita berkonspirasi, cinta dan kasih sayang tetap akan menemukan jalannya yang tepat." Vanila tersenyum kecut. Lebih tepatnya, ia mengejek diri sendiri. "Awal yang tulus, akan berujung baik. Tapi kita...? Berawal dari konspirasi. Dendam mu ke Ama berubah cinta. Pendekatan ku ke Utan, karena membantu mu. Kita menuai hasil luar biasa yaitu patah hati."
"Aku tidak akan merelakan apapun yang sudah hampir menjadi milik ku, Vanila!"
"Abian, please ... berhenti bersikap egois!"
"Diamlah!"
__ADS_1
"Kamu yang harus diam dan berpikir baik baik demi kebahagiaan masa depan mu!" Vanila menepuk pundak sang sahabat. Lalu pergi meninggalkan Abian yang mencerna kata bijaksana Vanila.