Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 35# Terjebak Gas Beracun


__ADS_3

Ke empat aksi mantan Kurcil Smart yang berseluncuran memanfaatkan pipa besi besar pabrik, dari atas sembari menembak musuh ke bawah, membuat Ama mempunyai kesempatan untuk menyingkirkan moncong senjata api Dusit yang menempel di kening Utan, karena pria tersebut sibuk mendongak ke arah empat orang yang membabi buta menembaki anak buah Dusit.


Senjata Dusit yang di tendang Ama terpental ke lantai. Dusit yang ingin meraih nya segera di tahan Ama dengan kembali mendendang senjata tersebut lebih jauh lagi.


"Vay, lepasin Utan dan Abian." Ama berteriak ke Vay yang sekarang dekat dengan Utan sembari menahan serangan serangan Dusit. Mereka berdua berduel tanpa senjata dengan Ama masih menggendong Jane di belakangnya. Gadis kecil itu benar-benar menepati janjinya yang tidak akan menangis dan menjerit meski di depannya ada hal mengerikan demi bisa bertemu dengan Simi.


"Kuncinya mana?" Vay bertanya sembari menebas dada anak buah Dusit di depannya. Empat sahabat Ama itu kompak kehabisan peluruh senjata api karena sedari di luar pabrik, sudah di gunakannya untuk membunuh anak buah Dusit yang berjaga, sampai akhir nya bisa masuk ke dalam pabrik melalui atap.


Pertempuran tanpa senjata api sedang berlangsung sengit. Topan, Guruh dan Petir serta Vay hanya memakai belati untuk membunuh anak buah Dusit yang masih banyak. Vanila sendiri segera bersembunyi demi menghindari perkelahian sengit itu.


Ama yang di tanya Vay, tidak menjawab. Ruang gerak Ama terhambat karena Ada Jane yang berpegang kuat di lehernya membuatnya sesak seperti tercekik. Alhasil, perut Ama terkena tendangan kuat Dusit. Ama muntah darah di buatnya. Ia hampir jatuh ke belakang, tapi Abian sigap memasang dadanya untuk menahan laju jatuh Ama, meski Abian susah payah karena kedua tangannya terantai ke atas. Tapi, Abian berhasil menjadi pantulan empuk untuk Jane yang berada di punggung Ama.


"Turunkan anak kecil itu, Ama__ Awaas..." Abian terjeda dan sigap memberi tahukan Ama yang ada bahaya dari satu anak buah Dusit.


Ama segera mengelak ke kanan sembari berbalik dan langsung menahan pergelangan tangan pria brewok yang hendak memukulnya pakai balok. Lalu gesit meninju hidung pria di depannya dengan sangat keras. Di tambah lagi, Ama memberi flying-kick ke perutnya.


Kesibukan Ama dan anak buahnya berkelahi di buat kesempatan Dusit untuk keluar dari sana.


Topan yang asyik menebas leher demi leher kacung Dusit dengan pergerakan ganas ganas santai, ujung matanya melihat Dusit keluar dari pintu baja merah itu. "Ama, buruan mu kabur!" Topan bersuara sembari melempar pisaunya ke arah pria yang hendak menyerang Vanila tanpa diketahui oleh gadis itu.

__ADS_1


Aaarg... Lolongan pria kesakitan tertancap belati leher nya yang tumbang di depan Vanila, membuat gadis itu menjerit dan tersadar dari keterpakuannya dari pemandangan mayat mayat berdarah ulah para sahabat Ama. Vanila kembali terkena mental, saat Topan yang sudah berjongkok di depannya, main menarik santai tak berdosa belati bergagang gold penuh darah itu. "Di sini bukan kamar cinderella yang asyik buat melamun, Nona. Gunakan senjata mu untuk melindungi diri atau kamu yang akan mati."


Topan pergi setelah memperingati Vanila yang cuma diam shock.


"Ama, buruan mu kabur!" Topan mengulang kembali seruannya karena Ama tadi tidak mendengarnya. Ia yang ingin mengejar Dusit, tapi terhenti lagi karena ada dua pria yang kembali menghadangnya. Vay, Petir dan Guruh pun masih sibuk dengan kacung kacung setia Dusit jadi tidak bisa mengejar bos dari lawan mereka.


Bugh... Kreek...


Akhirnya, anak buah Dusit berhasil di bunuh, Ama baru mendelik ke arah Topan yang saat ini berkelahi di tengah tengah Utan dan Abian yang di rantai.


Ama mempercayai empat sahabatnya yang pasti bisa membebaskan Utan dan Abian dan membereskan sedikit sisa lagi anak buah Dusit. Oleh sebab itu, ia pun menurunkan Jane yang niatnya mengejar Dusit sampai ke lubang neraka pun. Akan tetapi, gadis kecil itu tidak mau turun dari punggung Ama. Jane malah menangis sembari menagih janjinya.


Ama yang tidak tega, tidak jadi menurunkan Jane. Dan segera menghampiri pintu baja yang berniat akan mengejar Dusit.


Utan, Abian yang masih di rantai dan ke empat sahabat Ama lainnya yang sudah berhasil memberantas banyak anak buah Dusit, kompak mendelik ke arah Ama yang sedang mengumpat geram sembari menendang pintu baja tersebut.


Empat Kurcil itu menghampiri Ama. Guruh, sebagai kakak yang melihat adiknya baik baik saja, merasa senang. Pria beranak satu itu segera memeluk Ama sekaligus Jane yang masih di gendongannya di belakang sana.


"Woi, kampret. Ini bukannya lepasin dulu malah peluk pelukan!" Utan memprotes. Ia sudah capek di rantai dan di siksa. Eh, teman-teman nya malah melupakan. Kan kesal dirinya.

__ADS_1


Teriakan Utan itu membuat Abian tersadar dari termangunya yang sempat menyaksikan kesadisan Topan and the gank terutama Vay- mantan calon pengantinnya yang sama saja sadis nya seperti Ama. Ia tidak menyangka hal tersebut kalau kalau di balik wajah wajah baik mantan mantan Kurcil Smart itu mempunyai jiwa jiwa sikopat semua.


Saat ini, Ama dan lainnya terlihat mengelilingi Utan. Abian dan Vanila masih sibuk menguasai diri masing-masing yang masih shock melihat mayat mayat darah yang teronggok asal asalan di lantai.


"Kuncinya tidak ada, Utan," kata Ama merasa iba melihat wajah tampan sang sahabat yang lebam lebam.


Topan seketika mengeluarkan sebuah botol beling imut dari tas selempang kecil di depan dadanya itu. "Kalian tidak akan mungkin melupakan penemuan kita sejak kecil ini, bukan?" Isi botol tersebut adalah zat kimia buatan mereka yang pernah diperebutkan oleh beberapa klan Mafia pada masanya. "Jangankan rantai, seluruh tubuh kita saja bisa dibuat meleleh hanya dalam hitungan menit."


Rantai yang membelenggu tangan dan kaki Utan seketika lepas saat terkena tetesan zat kimia tersebut ulah Topan. "Ambillah, lepaskan Abian."


Ama menurunkan Jane terlebih dahulu dari gendongan punggungnya, lalu meraih botol zat hebat buatan Kurcil Smart dari tangan Topan. Seperti Utan, Abian pun bebas dari tetesan zat kimia tersebut.


"Terimakasih," kata Abian dengan suara lemah. Matanya menatap dalam netra Ama. Namun gadis itu berpaling cepat ke arah para sahabatnya tanpa bersuara satu kata pun. Bukan Ama merasa cuek atau tak tahu diri, dalam lubuk hati paling dalam, Ama mengemban berat rasa bersalah terhadap Utan dan Abian yang babak belur karena dirinya. Ingin mengucapkan minta maaf, tapi bagi Ama ini bukan waktu yang tepat untuk melow melowan.


"Kita harus keluar dari sini!" Seru Ama memberikan sisa zat kimia itu ke Guruh. "Bang, tolong buka pintunya," pintanya ke kakaknya tersebut dengan cara memakai zat itu lagi untuk melelehkan pintu baja di depan sana.


"Baik__"


Praang... Belum sempat Guruh meraihnya, botol yang dipegang Ama terjatuh, karena tiba-tiba ada bau gas berskala besar yang entah dari mana asalnya mengotori ruangan tertutup itu. Bukan hanya Ama yang sesak dibuat gas beracun itu, semuanya pun kena imbasnya yang kini kompak menahan nafas. Apalagi Jane yang masih kecil, sekarang terkapar di lantai dengan nafas sesak di dada.

__ADS_1


"Buka pintunya, cepat!" Ama berteriak sembari berlari menghampiri Jane. Semua orang yang terjebak di ruangan tersebut, kecuali Ama yang akan menolong Jane, berlari cepat ke arah pintu baja.


"Hahaha... Kalian akan mati semua." Ken, di balik layar sistem yang sekarang menyandera Simi dan Dusit, tertawa puas melihat Ama dan lainnya kesusahan bernafas akan bau gas beracun yang ia aktifkan. Dalam dunia kriminal, tidak ada teman. Bagi Ken, di mana ada kesempatan maka akan dimanfaatkannya untuk mendapatkan apa yang ia tuju selama ini.


__ADS_2