
"Ama..." Panggil Lautan. Sang Empu nama baru tersadar kalau ia sama sekali belum melakukan aktivitas mandinya.
Buka pintu kamar mandi itu, lalu melongokkan kepalanya doang. "Apa kamu melihat orang lain di sekitar mu?" Suara Ama sangat pelan.
Lantas Lautan melirik ke sekeliling. Menggeleng sebagai jawabannya.
"Coba cek setiap kamar mandi. Ada nggak?"
Lautan menurut meski masing bingung. Tiga pintu sebagai fasilitas kamar mandi umum di kapal itu, ia buka satu persatu tetapi kosong semua. Lanjut berkata sembari mengikis jarak ke hadapan pintu yang ditempati Ama, "Kosong semua. Memang ada apa?"
"Aku mandi dulu. Sabar ya, nanti aku jelaskan." Braak...
Wajah Lautan terkena angin pintu itu, ulah Ama yang terlalu keras menutupnya.
"Dari tadi ngapain aja sih?" Dumel Lautan memandang sengit pintu di depannya. Ia kira, Ama sudah selesai mandi. Taunya disuruh nunggu lagi. Bukan apa apa, hal yang menjengkelkan itu adalah menunggu cewek beraktivitas mandi dan dandan yang lama pakai banget. Ah, ingat Vanila lagi yang punya kebiasaan serba lelet.
"Lagi apa ya dia?" Lautan rindu berat. Ia asyik melamun dalam beberapa menit memikirkan Vanila yang tersenyum, tertawa, ngambek dan hal manjanya. Kekasihnya itu memang tidak terlalu cantik apalagi seseksi Purnama yang punya tubuh goal model. Tapi ... Vanila itu manis pakai imut.
Ceklek...
Lamunan Utan buyar akibat kaget oleh pintu kamar mandi Ama yang dipakainya, terbuka begitu cepat. Ternyata, Ama tidak lelet seperti pacarnya.
"Ngapa liatinnya gitu amat? Apa masih ada busa shampo di rambut ku?"
Bukan masalah busa. Tapi... Tapi, kok ia baru tau kalau Ama itu punya kecantikan khas yang alami. Bibir polos tanpa lipstik itu, sangat cip*kable, ujung dagu Ama juga ada belahannya di padu mata bulat yang pas pada porsinya. Mana rambutnya basah acak acakan yang kian terlihat menggoda di naluri lelakinya. Haduh, deg degan tetiba jantungnya.
"Utan, ada apa?"
Utan berjengit kaget. "I_itu..." Tergagap sembari memikirkan alasan yang otaknya tetiba ngeblank. Saat sadar akan aroma shampo, ia pun dapat alasan yang valid, "Rambutmu, Ogeb. Dan kumis mu pun di kemanain__"
Tap, tap...
Suara Lautan terjeda karena ada derap langkah langkah seseorang. Ia yang panik, karena takut Ama terlihat wajah aslinya di depan orang yang entah siapa yang baru datang itu, segera masuk ke kemar mandi sembari mendorong Ama bersamanya dengan pergerakan brutal karena terburu buru. Alhasil, tubuh bagian depan mereka saling menyatu dengan punggung Ama terhempit ke dinding.
"Ada orang masuk," bisik Lautan menjelaskan cepat saat Ama ingin membuka suara, protes.
"Oh..." Ama cuma membulatkan bibirnya. Sejurus, matanya membola akibat menyadari posisi empuk bagi Lautan dan rugi besar untuk nya.
"Mundur__ hmmppt..." Ama langsung dibekap.
__ADS_1
"Jangan berisik. Cepat pakai penyamaranmu."
Ama mengangguk. Lautan melepaskannya.
"Tapi mundur dong. Ini sangat merugikan ku, tau nggak... " bisik Purnama geram. Lautan mundur tanpa dosa tersenyum kikuk. Ama hanya memutar mata malas.
Selesai menggulung rambutnya yang dilapisi topi, kumis dan bewok palsu, Ama dan Lautan pun keluar bergantian.
" Kalian gay ...?" Jimmi ternyata yang masuk ke ruangan itu. Menunjuk Ama dan Lautan dengan tampang shock karena mengira dua pria di depannya itu adalah ga* yang habis anu anu di dalam kamar mandi.
"Ah, kami saudara, Pak. Jangan pikir macam macam. Lebih baik kasih tunjuk kami barang barang Pak Guntur di taruhnya di mana?" Ama mengelak cepat. Lautan malah tersenyum santai dikira menyimpang.
"Eh, tapi buat apa?"
"Tentu saja ingin mengeceknya. Kan, kami telat datang bergabung dengan kelompok Pak Jimmi. Pak Guntur soalnya habis chat saya, minta foto barang yang akan dikirim ke Thailand."
Mendengar nama sang Bos, Jimmi langsung percaya saja. Ia pun memimpin jalan di depan menuju ke lantai penyimpanan barang kiriman Guntur.
"Jelaskan soal tadi," bisik Lautan menagih janji Ama dengan cara berbisik sembari mengikuti Jimmi.
Ama pun berbisik menjelaskan tentang niat orang yang sialnya ia tidak melihat wajah sang penelepon di kamar mandi tadi.
"Ck, memangnya yang borjuis pakai banget itu cuma keluarga mu. Meski Guntur dirampok habis habisan barangnya di kapal ini, tetap saja tidak akan bangkrut. Masalahnya, aku paling benci melihat ada kriminal di depan mata dan kuping ku. Lagian, kalau kita dibajak, kamu akan diam saja gitu?"
Lautan menggeleng sebagai jawaban kalimat pertanyaan Ama.
Mereka terus mengobrol diam diam sampai pada akhirnya berhenti di deck yang terdapat kotak kotak besar yang berderet deret.
" Barisan kotak ini yang akan diturunkan pelabuhan Thailand. Kalau itu, ke Negara tetangga lainnya," jelas Pak Jimmi sembari menunjuk barang yang dimaksudnya. Ama hanya mengangguk paham.
"Kalau area sana, itu barang Pak Guntur juga?" Ama sengaja mengulik. Bertanya tapi mata lebih fokus ke segerombolan orang yang ia yakini itu bukan anak buahnya Jimmi. Kelompok orang lain itu pun, melirik ke arah mereka dengan maksud tertentu.
"Bukan! Barisan ke lima adalah batas barang Pak Guntur. Itu milik orang lain. Sebenarnya, baru kali ini kita naik kapal umum. Biasanya, kapal yang sudah dikontrak oleh perusahaan Pak Guntur yang kita gunakan. Tapi berhubung kapal itu lagi sedang dalam perbaikan dan barang harus sampai dengan waktu yang sudah disepakati klien, jadi terpaksa kita naik kapal umum. "
Oh, kirain Ama dan Utan, Guntur pelit memfasilitasi. Rusak ternyata kapal kantor toh.
Selesai melihat letak barang yang jumlahnya sangat banyak, Ama dan Lautan pun pergi dari sana, menuju ke ruangan yang mereka tempati tidur untuk mengambil tas. Setelahnya, naik ke deck kapal tingkat paling atas. Sepanjang mata memandang, lautan biru lepas terbentang elok di sana.
Sebenarnya, Utan mengajak Ama untuk mencari orang yang menelepon tadi. Tapi jawabannya, "Ngapain capek capek di cari orangnya di tengah tengah kapal besar ini. Buang buang waktu."
__ADS_1
"Kok ngomongnya gitu. Katanya mau bantu Guntur?"
"Noh, lihat ke arah selatan."
Lautan mengikuti arah tunjuk Ama. Memicing teliti demi bisa melihat pergerakan yang merangkap ke arah posisi kapal mereka.
"Ada kapal yang mendekat. Secepatnya, komplotan yang ada di antara kita, akan ketahuan juga rupanya," sambung Ama yang diyakininya, kapal tersebut adalah pembajak yang sudah bersekutu dengan orang yang ada di kamar mandi.
Ama dan Lautan hanya bisa menunggu bahaya mendekat tanpa bisa mencegahnya dari awal. Ibarat kata; lawan menjual, mereka hanya membeli.
Dari kejauhan, Jimmi dan satu anak buahnya berjalan menghampiri keduanya yang berdiri di dekat besi pembatas kapal.
"Ini jatah makan kalian. Di makan ya!"
Ama tersenyum menyambut dua kotak nasi dari tangan anak buah Jimmi. Ternyata, tampang doang sangar, Jimmi beserta anak buahnya sangat welcome.
"Terimakasih. Ini memang isi senjata yang kami butuhkan," kata Ama ambigu sembari bergerak duduk bersila asal asalan di lantai kapal.
Utan tanpa kata lagi menyantap bagiannya. "Makan dulu sebelum di makan oleh takdir mendatang, Pak Jimmi." Utan juga berambigu di depan Jimmi yang garuk garuk kepala, bingung.
"Kalian aneh," tukas Jimmi mendengkus malas.
Ama dan Utan saling lirik. Tersenyum kompak kemudian, yang mereka pun tidak tahu hal apa yang membuat mereka mengembangkan bibir.
"Tobat juga perlu sebelum nyawa kita diambil. Betul kan, Pak Jimmi?" Ama kembali berkata ngaur untuk di dengar Jimmi sampai sampai alis pria itu terangkat dua duanya. Membuat Ama bersuara lagi, "Kalau saya mengatakan kapal yang semakin mendekat di sana, niat membajak kita, apa Bapak akan percaya?"
"NGGAK...!" Jimmi yang mengira Ama dan Lautan sedang mempermainkannya, menjawab ketus tanpa niat menoleh ke arah yang ditunjuk Ama.
"Oh, ya sudah. Tak apa, kalau saya dan Amir sih percaya. Habis makan, kami mau sembunyi."
Malas mendengar suara Ama yang menurut nya mabuk, Jimmi dan satu orang lainnya pergi dari hadapan keduanya.
"Ini, buat mu. Ambil buat jaga jaga." Satu senjata untuk Lautan keluar dari tas serta earphone khusus agar mereka bisa saling pantau meski posisi saling berjauhan. Wajah keduanya tidak lagi bercanda seperti layaknya yang dilihat Jimmi tadi. "Siap siaga sesuai plan singkat yang kita bahas tadi."
Lautan mengangguk paham. "Hati hati dan jaga diri baik baik, kita berpencar." Lautan menepuk bahu kanan Ama, lembut. Lalu pergi ke sayap kapal bagian kanan. Ama hanya mengangguk dan kembali menghabiskan nasinya, layaknya orang polos yang tidak tau apa-apa. Ekor matanya, mendapati tiga pria yang baru datang, berbicara pelan sembari melempar pandang ke arah kapal yang mendekat.
"Itu mereka komplotannya." Final Ama meyakini karena satu orang itu tidak sengaja menunjuk nunjuk ke arah kapal pembajak tersebut.
Sekonyong-konyongnya, Ama berbalik memunggungi tiga pria di belakang sana. Mencabut kumis dan bewok palsunya. Wajah cantiknya di balik topi berhodie itu terlihat. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis penuh trik dan intrik itu, hanya Purnama yang tahu.
__ADS_1