Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 30# Mencari Titik Lokasi


__ADS_3

Demi keselamatan orang orang terdekatnya, Simi dan Ama saat ini sedang bekerja sama mengerjakan sistem proyek bom raksasa di depan mereka berdua. Kostum serba hitam bak ninja yang hanya memperlihatkan mata di balik kaca mata putih khusus, kini terpasang melindungi tubuh dua wanita tersebut.


Tombol tombol yang butuh settingan apik fungsinya, berada di bawa perhatian Ama sekarang ini.


"Jangan sentuh itu!" lerai Ama ke Dusit yang turun tangan mengawasi langsung kinerja Ama dan Simi.


Lantas, Dusit segera mengangkat kedua tangannya dari tombol berwarna kuning yang sedari tadi menjadi perhatian Ama.


"Aku hanya ingin membantu," dumel Dusit beralasan.


"Oh, kalau begitu silakan kamu saja yang mengerjakannya!"


Dusit lebih memilih membungkam mulutnya daripada harus membalas perkataan penuh ejek Ama. Bahkan, gadis di sebelahnya sangat lancang mengatainya pria bodoh yang sok tau.


"Jaga bicara mu kalau masih menginginkan teman-teman mu selamat."


Ama menggertakkan gigi nya, kalah telak kalau Dusit sudah mengancam nya menggunakan keselamatan Utan, Abian dan Vanila.


Ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. Ama terus bekerja keras menyambungkan server demi server yang rencananya akan membuat sistem kunci peluncuran nuklir secara otomatis yang hanya perlu menekan satu tombol saja. Dusit yang antusias sampai sampai mengabadikan dengan kamera teleponnya yang rencananya akan di kirimkan ke Fren- sang Ayah yang menjadi otak proyek yang fungsinya akan disalah gunakan nanti.


***


"Hahahah..."


Di Indonesia, Fren yang berada di ruangan kebesarannya tertawa jahat setelah menonton pekerjaan Ama dan Simi melalui video kiriman anaknya.


Tidak sabaran, Fren melakukan video call bersama anaknya tersebut.


"Ayah...!" sapa Dusit riang.


Wajah dua pria yang berbeda usia tersebut terlihat bahagia.


"Kira kira, kapan akan selesai, Dusit?"


"Tunggu sebentar, aku akan menanyakannya!" Dusit yang tadinya menjauh ke sisi ruangan, kini beranjak ke arah Ama. "Kata ayah, selesainya kapan?"


Ama pura pura tuli.


"Purnama!"


Sengaja dia mengabaikan Dusit yang berada di belakangnya.

__ADS_1


"Simi, selesainya kapan?" Dusit jadinya bertanya ke Simi yang sedikit jauh dari posisi Ama.


Simi sekadar merespon dengan mengedikkan bahu sembari mengecek kertas catatan pensettingan yang diberikan Ama padanya.


"Kalian semua seperti orang bisu!" umpat Dusit kesal. Sang ayah yang menyaksikannya segera melerai anaknya untuk bersabar menghadapi dua wanita tangguh yang ia tebak memang sengaja mengejek sang anak.


"Bilang sama Pak komisaris kolonel TNI tapi KORUP SAMPAH itu---"


"Amaaaa, jaga mulutmu!" Telunjuk Dusit menghardik Ama dari posisi tiga langkah karena tidak terima ayahnya di hina. Tapi.... Ama mana peduli telunjuk Dusit. Gadis itu malah mendekati Dusit yang langsung saja bersiaga mengeluarkan pistol untuk dia todong ke arah wajah Ama.


Melihat tingkah Dusit yang terbaca gerak gerik nya yang takut padanya, Ama tertawa sumbang. Lalu berkata, "Tenanglah Dusit, selama teman teman saya berada di bawah kendali mu, maka saya masih tergolong kucing manis yang penerut. Saya cuma mau menyapa ayahmu. Boleh kan?"


Dusit tidak bersuara melainkan menatap layar habndpone nya seakan akan meminta persetujuan sang ayah.


"Berikan saja, Ayah juga butuh bertukar cakap dengannya." setuju Fren. Setelah hape ada di tangan Ama, gadis itu beranjak ke sisi ruangan sembari membuka kain penutup kepalanya. Masker dan kacamata putih tebal khusus pun Ama copot memperlihatkan seluruh wajah cantiknya.


Senyum miring terbit untuk Fren lihat.


"Satu bulan baru proyek ini akan selesai." bohong Ama yang cuma ingin mempermainkan Fren.


"Sayangnya saya tidak percaya."


"Saya memberi mu waktu hanya dua belas jam dari sekarang."


"STUPID! Memangnya mudah, hah?"


Di katain idiot, di seberang sana Fren malah terbahak bahak sinis.


"Purnama, Purnama ... saya bukan orang bodoh, tapi cerdik. So, jangan macam macam dan jangan coba coba membodohi saya. Aku sudah lama memantau kinerja mu mulai dari laporan Simi serta Ken yang merupakan rekan terpercayaku. Mungkin sebenarnya, sistem peluncuran nuklir memang sudah selesai akan tetapi kamu malah sengaja melambatkannya, iya kan? "


Tau aja dia. Sialan! Rutuk Ama dalam hati.


" Jangan sok tau jadi orang. Memangnya kalau saya mengerjakan dengan terburu buru apa kamu mau radiusnya meluncurnya hanya satu meter. "


Satu meter? Fren tersulut emosi. Satu meter itu namanya gagal total.


" Pokoknya, besok harus jadi. Kalau tidak, maka Dusit akan membunuh sanderanya. Ingat Ama, keselamatan mereka semua ada di tangan mu."


Rahang Ama mengetat. Ingin rasanya dia menggampol pria itu, yang sayangnya tidak bisa dia lakukan karena jarak dan tentunya pergerakan Ama terkunci tak kasat mata karena kelemahannya ada di Lautan dan dua orang lainnya yang menjadi sandera mereka.


" Besok akan jadi. Tapi setelahnya, lepaskan anakku!" Simi angkat bicara yang sedari tadi dia cuma menjadi pendengar dari kejauhan. Simi cuma ingin memastikan janji janji Fren tentang kebebasan sang anak setelah proyek yang Simi ketahui akan diluncurkan ke Negara Indonesia saat akan ada pemilihan pemimpin baru. Nuklir lainnya, Simi ketahui akan di luncurkan di negara tersebut itu juga. Fren ingin menguasai kerajaan Thailand seorang diri yang katanya masih masuk cicit raja di sana.

__ADS_1


Mendengar pengakuan Simi, Ama mendengus ke arah wanita itu dengan tatapan tajam.


"Haha... Mantu baik yang sangat Ayah sayangi." Puji Fren yang tentunya penuh makna ejekan untuk Simi dengar.


"Ambil nih, hapenya. Ngobrol sono sama mertua sampahmu!" Ama melempar keras hape tersebut ke arah Simi yang ogah ogah ditangkap oleh Simi karena ia juga muak dengan Fren. Alhasil ... pyarr... pecah terbentur oleh tembok. Simi mengelak alih alih menangkap hape yang melayang itu.


"Argh... Hape ku!" Dusit mengerang menatap nanar hapenya yang rusak.


Ama dan Simi santai santai tanpa dosa. Kedua wanita tersebut cuek dengan kembali mengerjakan proyek di depannya.


"Kalian... Arrgh..." Dusit murka tertahan. Rambutnya ia jambak kesal yang tadinya tangannya itu ingin mencekik Ama dari belakang. "Sabar, Dusit. Setelah kerjaannya selesai, baru kamu bebas melakukan apapun padanya," batinnya sembari menatap penuh minat tubuh profesional Ama yang tidak di sadari oleh sang Empu tubuh di karenakan membelakangi Dusit.


***


Di tempat lain, tepatnya di dalam sebuah mobil. Empat anggota Kurcil Smart yakni, Topan, Vay, Petir dan Guruh sedang sibuk mencari titik lokasi posisi Ama. Satu jam yang lalu, sahabat sahabat setia Ama itu, baru sampai di Negara gajah putih tersebut. Tidak mau membuang buang waktu, Vay yang ahli IT mencoba segala cara untuk menemukan signal terakhir handphone milik Ama atau pun Lautan.


"Ama susah terdeteksi," cicit kesal Vay yang berada di kabin belakang bersama suaminya - Petir.


"Utan, bagaimana?" tanya Topan. Ketua mantan Kurcil Smart itu yang mengemudikan mobil.


"Coba ku usahakan." Vay kembali mengoperasikan layar canggihnya. Seperkian menit mencoba, ia juga gagal. "Orang yang kita hadapi pasti orang ahli juga. Contohnya Simi, dia anggota SSA seperti Ama."


"Jadi, kita ke mana nih?" bingung Guruh. Seorang kakak itu pikirannya bercabang. Antara Adiknya- Ama dan keluarganya di rumah. Meski ada separuh anggota Kurcil menjaga keluarganya, tetap saja sifat manusiawi yang memiliki kecemasan tingkat tinggi.


Hening, mereka belum menemukan solusi. Petir yang menopang dagunya, tidak sengaja melirik jam tangan khusus milik sang istri yang jari jemari itu masih berlayar di keyboard.


"Topan, Guruh, kalian ada yang make jam tangan khusus Kurcil juga nggak?" tanya Petir sembari memamerkan jam mewah canggih miliknya yang sengaja di desain mewah oleh Guruh - sang penciptanya dulu. Kedua orang yang di tanyanya, kompak mengiyakan. Serta balik mengangkat tangan yang di lingkari jam tersebut.


"Apa kalian punya pikiran sama, kalau Utan dan Ama memakai atribut Kurcil?"


Vay seketika tersenyum penuh arti ke arah Petir. "Suami ku memang is the best." Puji Vay. Guruh dan Topan yang ada di kabin depan, saling lirik datar mendengar dan menyaksikan kebucinan pasutri di belakang sana. "Aku akan mengabari Kurcil lainnya untuk mengaktifkan button khusus miliknya," sambung Vay.


Paham dengan maksud Vay, tiga Kurcil lainnya di dalam mobil tersebut kompak mencopot jam masing masing. Membalik benda tersebut, lalu menekan sebuah tombol kecil yang ada di belakangnya. Semua server titik GPS akan terbaca satu sama lain kalau ke sepuluh jam itu diaktifkan. Itulah cara kerja alat canggih milik Kurcil Smart.


"Baik, aku akan mengabari Twins dan Pelangi untuk mengaktifkan milik mereka." kata Badai yang di telepon Vay.


Panggilan mati. Menunggu beberapa menit di dalam mobil yang jalannya sengaja di leletkan Topan, akhirnya layar laptop Vay menemukan titik keberadaan Utan dan Ama di satu tempat yang sama.


" Ayo, Pan. Tancap gas, Utan dan Ama sangat jauh lokasinya dengan kita. Di sini, kita harus menempuh perjalanan lima jam. Itu artinya, kita akan sampai jam dua belas lebih."


"Mengerjakan misi memang lebih kondusif di malam hari." kata Topan ambigu sembari menekan gas dalam dalam. Mobil itu membelah jalan dengan kecepatan tinggi. Seperti ular yang berliuk liuk, Topan sangat lihai menyalip sana sini di jalan kota itu.

__ADS_1


__ADS_2