Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 28# Kembalinya The Kurcil Smart


__ADS_3

Dua hari di bujuk secara baik baik oleh Dusit dan Simi, Ama tetap tidak ingin melakukan keinginan orang itu, sehingga kesabaran Dusit di buat habis. Ama saat ini sedang disiksa dengan cara tidak manusiawi oleh Ken yang ditonton langsung oleh Simi dan Dusit serta beberapa anak buah mereka termasuk Asok. Layar laptop pun menyala, memperlihatkan Ayah Dusit yang melakukan video call demi bisa menonton keras kepalaannya gadis yang di ikat lemah di kursi.


"Apa kulitmu perlu di beri sentuhan, baru mau menuruti perintah kami , eum? Cara membuatmu puasa dua hari, tidak mempan. Tapi ku yakini, kalau besi panas ini menggores wajah cantikmu, kamu baru akan menangis darah." Ken saat ini sedang memanaskan ujung besi untuk membuat Ama setuju menyempurnakan sistem bom nuklir yang rencananya bom tersebut akan diluncurkan ke tanah air pertiwi.


"Saya lebih baik mati daripada di manfaatkan oleh manusia manusia keji seperti kalian, Bangsat!"


Suara Ama sangat lemah. Dua hari dikurung di ruangan isolasi tanpa makan dan minum membuatnya dehidrasi parah. Bisa dibayangkan, betapa lemahnya tubuh itu tanpa ada asupan yang masuk. Bibir yang pucat dengan mata sayu, Ama masih berupaya mempertahankan dagunya terangkat tinggi tinggi. Ia lebih memilih mati seorang diri, daripada membunuh masyarakat-masyarakat yang tak berdosa, kalau kalau ia mampu menyempurnakan ledakan paling terdahsyat tersebut.


"Tunggu, Ken. Jangan lakukan!" Orang yang berada di balik video call tersebut menghentikan Ken yang hampir saja menempelkan besi yang sudah di panaskan di wajah Ama.


Ama yang sempat menahan nafas dengan mata tertutup pasrah, lantas membuang nafas sedikit lega.


"Kenapa harus dihentikan, Ayah?" Dusit mendengus kesal.


Tidak menjawab anaknya, pria yang memakai topeng di balik layar tersebut, berbicara penuh politik ke Ama dengan berkata, "Kamu dan Ken, bisa menguasai pemerintahan Indonesia kalau misi kita berhasil. Aku tidak akan meminta hak keuntungan di Negara Indonesia, kecuali khusus untuk Thailand untuk ku. Pikirkan lah baik baik. Toh, namamu itu sudah di cap ******* oleh Negaramu di sini, saatnya kamu membalas dengan cara meluncurkan satu atau dua bom untuk mengecoh mereka semua. Kamu tidak akan diburu __"


"Berisik sekali suaramu! Telingaku hampir penuh dengan kotoran," ejek Ama mensarkas orang yang suaranya tidak asing, tapi Ama sendiri lupa, siapa pemilik orang bertopeng yang identitasnya masih tidak mau di ketahui.


"Jangan sampai menyesal, Purnama. Ken dan anak buah ku yang lainnya memang gagal mendapatkan salah satu keluargamu di sini, karena Dibi dan sahabat mu dari tim Kurcil menjaganya ketat. Tapi... Apa kamu melupakan Lautan dan dua orang yang bersamanya di Thailand sana, eum...?"


"Brengsek!" Ama sontak memberontak brutal yang sialnya, rantai yang melingkar di tubuhnya semakin melukainya kalau ia bergerak meski sedikit saja.


"Hahaha..." Ayah Dusit tertawa sinis melihat ketidakberdayaan Ama. "Orang orang ku di sana saat ini bekerja keras menemukan persembunyian Lautan, Abian dan wanita yang bernama Vanila. Tunggu saja waktunya, Ama. Cepat atau lambat, kamu akan patuh pada perintah kami!"

__ADS_1


Aaarggh...


Ama hanya bisa menjerit murka yang main di tinggal semua orang setelah ayah Dusit di balik layar tersebut lanjut mentitah semua untuk meninggalkannya.


***


"Utan, kamu harus minum obatnya." Di sisi Vanila, gadis itu memaksa Lautan untuk meminum obat. Tidak mau ribut, Utan menelannya. Setelah nya, ia bertanya keberadaan Ama.


"Ah... Itu, mmhh..."


"Jangan bilang sedang mencari angin lagi?" tebak Utan yang itu itu saja alasan Vanila. Ia tidak sadar kalau waktu yang ia lewati sudah dua hari karena efek obat yang menenangkan. Sekarang saja, Utan merasa mengantuk lagi.


"Dua hari, Ama tidak pulang pulang." Abian bersuara yang baru datang dari pencariannya ke Ama. Ia dan Vanila sempat bertengkar karena tidak bisa mencegah Ama untuk pergi seorang diri saat ia tidak berada di tempat tempo hari itu. Mencari orang di negara asing tersebut, Abian tentu saja kesusahan. Lebih lebih, ia tidak bisa bertanya ke orang orang sembari memamerkan foto Ama yang notabenenya adalah buronan negara itu juga sekarang.


"Iya, saya sudah mencarinya tapi nihil. Handphone nya pun susah untuk dihubungi."


"Tapi, kenapa saya tidak merasakan waktu berlalu cepat?" Lautan masih bingung sembari mengeluarkan hapenya yang sialnya malah lowbet.


"Karena obat yang diberikan Vanila."


Pengakuan Abian, membuat wajah Vanila tertunduk salah.


"Maaf, saya hanya menuruti keinginan Ama, Utan. Dia tidak ingin kamu atau kita semua terluka __"

__ADS_1


Dor...


Dor...


Dor...


Tembakan obat bius, tiga kali melayang tak terduga ke arah Utan dan lainnya oleh orang orang yang tidak terdeteksi Kedatangannya. Para anak buah ayah Dusit, berhasil menemukan persembunyian mereka karena beberapa menit yang lalu, saat Abian berkeling mencari Ama seorang diri, pria itu dilihat tanpa sengaja oleh rombongan suruhan Dusit. Mengikuti Abian sampai ke rumah tua tersebut dan berujung, tiga kawan Ama tersebut, sudah pingsan ke lantai tanpa ada perlawanan karena pergerakan pasukan khusus anak buah Ayah Dusit itu seperti angin.


***


Di Indonesia, The Kurcil Smart yakni mantan tim hebat Ama itu, terlihat berkumpul yang sedang sibuk membagi tugas. Sudah lama dibubarkan karena dulu mereka memutuskan untuk hidup damai dan normal saja, kini The Kurcil Smart sepertinya akan kembali bersatu demi keselamatan Purnama.


Karena di dukung oleh Dibi - polisi yang tak lain teman Ama juga, kini Tim Kurcil Smart yang di goli sepuluh orang termasuk Ama dan Lautan, tidak lagi peduli dengan mata mata dari TNI yang sedang mengintai gerak gerik mereka akan suruhan Tuan Fren yang tak lain adalah Komisaris Kolonel TNI.


Menganggap kepolisian tidak becus menangkap ******* perempuan seperti Ama, tugas Dibi dan rekannya diambil alih oleh Fren yang nampak menggebu gebu.


"Aku, Guruh, Petir dan Vay sebagai ahli retas, akan pergi ke Thailand." Topan, ketua The Kurcil yang terkenal paling ganas di antara anggota The Kurcil itu yang membagi tugas. "Badai, Pelangi, dan kalian Twins, tetap di Indonesia dan jaga baik baik keluarga kita semua. Ingat, Simi si pembelot Negara itu, ada di Thailand sekarang. Tapi, anak buahnya atau mungkin otak dalang kekacauan semua ini, mana tau ada di Indonesia. Jangan beri cela sedikit pun bagi orang yang ingin mencelakai keluarga kita. Bunuh siapa pun orangnya, paham semuanya?"


Semuanya serempak bersuara 'paham' akan maksud instruksi Topan- sang ketua.


"Kalian berhati hati lah, kalau butuh bantuan, segera hubungi kami." Pelangi, salah satu wanita di antara anggota The Kurcil, berdiri dari kursi. "Biar keselamatan keluarga kita semakin aman, saya juga akan meminta bantuan Guntur untuk mengirimkan beberapa anak buahnya."


Usulan Pelangi yang akan mengikut sertakan suaminya, disetujui oleh semuanya. Tanpa berlama-lama, mereka bubar. Topan, Guruh - kakaknya Ama, serta pasutri Petir dan Vay, menuju ke Bandara. Sementara yang lainnya, empat orang itu sengaja mengumpulkan seluruh keluarga di rumah besar Vay yang mempunyai ruangan bawah tanah.

__ADS_1


__ADS_2