
Byuur...
"Bangun!"
Dengan tega, Asok menyiram tubuh Ama menggunakan air dingin satu ember untuk membangunkan gadis yang tertidur dalam keadaan terikat di kursi.
Sontak, Ama gelagapan dibuatnya. Menatap Asok dan Dusit secara bergantian dengan sangat sinis yang berdiri jumawa di hadapannya.
"Marah, eum?" Dusit menarik rambut belakang Ama hingga wajah gadis itu mendongak ke atas.
Ama tidak mengadu kesakitan, lebih tepatnya menahan rasa pedas yang menyerang kulit kepalanya efek tangan kasar Dusit yang kian menjambak rambutnya. Ia tidak mau membuat musuhnya di atas angin kalau kalau ia terlihat lemah di depan mereka.
Simi yang baru masuk bersama Ken, langsung melerai bentak suaminya tersebut. Tapi, Simi malah dibentak dan diancam balik dengan berkata, "Kamu hanya budak, tidak patut membentak ku!"
Plakk...
Wajah Simi merah di buat tamparan Dusit. Saat wanita itu ingin melawan, Dusit menyebut nama anak perempuannya. Membuat Simi mendadak seperti patung. Di sini, Ama mulai paham setelah mendengar keceplosan Dusit yang akan membunuh anak Simi katanya. "Dia dalam ancaman?" batin Ama yang sedikit luluh untuk Simi.
"Dan kamu..." Dusit kembali menjambak rambut Ama. "Ku akui, kamu memang gadis kuat yang tahan dengan siksaan, Ama. Aku juga salut dengan pendirianmu itu. Akan tetapi, detik detik berikutnya, saya pastikan kamu akan menangis darah." Dusit berbisik sinis di sisi daun kuping Ama yang hanya menampilkan wajah datar datar songongnya ke Dusit pertanda ia tidak peduli dengan omongan pria tersebut. Hal itu, membuat Dusit kian kesal setengah hidup.
"Ken, pasang proyektor," titah Dusit sembari mendorong kepala Ama ke depan. Ama meringis akan tetapi ia tetap menyembunyikan rasa sakitnya.
Entah apa yang akan Ken perlihatkan melalui proyektor. Setelah siap, Ken memerintahkan Asok untuk meredupkan lampu. Hanya sinar pantulan proyektor di dinding sana yang menerangi ruangan isolasi sekarang ini.
Beberapa detik berlalu, layar proyektor memperlihatkan Vanila dan seorang anak perempuan imut di dalam sebuah kurungan besi yang terangkat menggunakan mobil crane. Di bawah sana, ada bendungan waduk pembuangan limbah zat nuklir yang berbahaya kalau tertelan masuk ke dalam tubuh.
"VANILA... !"
"JANE...!"
__ADS_1
Ama dan Simi, kompak berteriak dengan mata membulat lebar menyaksikan dua kurungan besi yang perlahan diturunkan ke air kotor kehijauan penuh dengan limbah.
"Hahaha...!" Dusit tertawa puas. "Kalau kalian berdua tidak bekerja dengan baik, maka mereka akan tenggelam di dalam air beracun itu."
"DUSIT, BANGSAT!" Simi murka. Ia mengikis jarak ke arah Dusit akan tetapi berhenti saat Dusit berkata, "Berani menyentuh kulitku dengan kasar, maka anak mu taruhannya."
Aaarggh... Simi dan Ama hanya bisa mengerang murka tertahan.
"Ama, Please. Setujui saja dan mari bekerja sama!" Simi memohon seraya menjambak frustrasi rambutnya sendiri yang sudah berlutut di depan Ama.
Melihat Ama sekedar bergeming, Ken kembali mengatur layar proyektor ke tempat lain. Ada Utan dan Abian yang terikat tangannya ke atas menggunakan rantai. Kedua pria tersebut di siksa dengan cara di pukuli.
"Aaarggh....!" Air mata Ama berkaca kaca. Ia tidak tega melihat Utan, Abian dan Vanila di bawah ancaman kematian. Ingin mengamuk ke orang-orang jahat di depannya, ruang geraknya terkunci total. "BANGSAT! Lepaskan ikatan ku, Dusit!"
"Hahaha... Aku bukan orang bodoh, Ama. Dan cepat beri keputusanmu. Saya beri waktu lima menit atau kalau tidak, empat orang akan merenggang nyawa di depan matamu." Dusit tertawa diikuti Ken serta Asok.
"Empat..." Dusit mulai menghitung. Ama masih menimbang nimbang keputusan nya sembari mata terus menatap Utan dan Abian yang di hajar habis habisan sampai wajah kedua pria itu lebam lebam. Tak kuasa melihat, Ama melirik ke dua kurangan besi, ada Vanila dan anak Simi yang pingsan di dalam kurungan tersebut yang sedikit lagi akan menyentuh air.
"Satu__"
"Aku setuju, Bangsat!" Terpaksa Ama menyetujui keinginan Dusit demi keselamatan empat orang. Masalah penggagalan meluncurnya nuklir tersebut, Ama akan usahakan nanti untuk mencari tahu cara menggagalkannya. Terpenting untuk saat ini, keselamatan orang terdekatnya terlebih dahulu.
Simi yang tegang, bernafas lega. Ken dan Dusit saling lirik lalu kompak tertawa jumawa.
"Asok, beri dia makan dan minum. Saya ingin kinerjanya bagus dan gesit. Kecerdasan Ama adalah hal utama tentang persisteman peluncuran nuklir, jadi beri nutrisi otaknya dengan baik."
Asok langsung menurut. Pergi meninggalkan tempat untuk mengambil makanan yang dipesankan sang bos mudanya.
" Dan kamu, Istri ku. Layani aku di kamar terlebih dahulu karena itu memang tugasmu. Ssstt... Diam, jangan protes atau anak lucu mu akan ku tenggelamkan."
__ADS_1
Lagi, Simi tidak bisa berbuat apa apa kecuali patuh. Merelakan tubuhnya di jamah dengan kasar tanpa cinta dari sang suami yang sialnya ia dibodohi dengan kebaikan bullshit Dusit di awal pertemuannya.
Tinggalah Ken yang berada di depan Ama. Pria itu, menarik kursi kayu dan duduk santai berhada hadapan dengan Ama.
"Apa kamu ingin aku dongengkan sembari menunggu makanan mu datang, Ama."
"Cuih, wajah mu saja sangat muak aku lihat, Ken. Apalagi suara penuh tipu muslihat mu itu."
Hahahaha... Ken tertawa kecil mendengar kalimat penuh kesal Ama padanya.
"Hem, meski kamu tidak setuju, aku tetap ingin bercerita masa lalu ku."
Ama menguap malas mendengar kedegilan Ken yang mulai bercerita.
"Tiga tahun lalu, aku adalah pemimpin SSA, tapi kedatangan Luxi, menggeser posisi ku. Aku jadi kacung Luxi yang sok berkuasa itu. Aku dendam padanya. Harusnya, semua pujian keberhasilan SSA, jatuh padaku. Tapi apa? Luxi lah yang tinggal memetik hasil nya, apalagi saat kedatangan mu bergabung. SSA semakin dipandang oleh Negara. Aku? Ck, tetap dikucilkan. Sampai Ayah Dusit menawarkan kerja sama untuk ku tentang pembuatan nuklir di pabrik ini dan hasilnya adalah kekuasaan lebih tinggi dari Luxi. "
" Siapa orang yang menjadi Ayah Dusit, eum?" Tadinya, Ama sangat malas mendengar celotehan Ken, tapi Ken menyinggung orang yang menjadi otak kekacauan semuanya itu.
Dengan berbisik, Ken berkata, " Fren. Komisaris kolonel TNI, mantan senior ku di dunia kemeliteran, sekaligus orang yang bertanggung jawab di dalam gudang persenjataan negara."
Pantas saja senjata dan bom buatanku dengan mudah disalah gunakan, ternyata si tua bangka Fren, batin Ama kesal. Dalam hatinya pun, Ama ingin meminta maaf kepada Luxi yang sempat ia curigai sedari awal.
" Harusnya, kamu tidak membuka identitas bos besar, Ken. " Ternyata, Asok sudah ada di ruangan tersebut dan mendengar pengakuan Ken. Otomatis, jam tangan canggih milik Ama yang masih di pake oleh Asok itu, merekam bukti baru lagi untuk Ama gunakan membersihkan nama baiknya. Ama menyeringai diam diam.
" Tak apa, Asok. Ama akan tutup mulut, nanti!" Ambigu sekali ucapan Ken yang Ama artikan 'tutup mulut' adalah kematian untuk nya. Fix, Ken pasti punya rencana busuk padanya.
"Thailand dan Indonesia yang tadinya punya ikatan persahabatan negara, akan saling bermusuhan jika bom nuklir di luncurkan, Ama. Dan saat itulah, aku dan Fren akan menggunakan kesempatan bagus untuk menguasai pemerintahan."
"Adu domba anter negara, tidak semudah itu, Ken." Ama bersuara sembari mengunyah santai makanan yang disuapkan Asok padanya. Ia memang butuh tenaga, bukan karena ingin bekerja totalitas untuk menjadi kacung orang orang tamak kekuasaan. Akan tetapi, Ama cuma ingin memulihkan tenaganya untuk melawan saat punya kesempatan.
__ADS_1