
Kepulangan Ama di sambut haru nan lega oleh Maminya - Jum. Di pintu utama itu, Maminya sudah memeluk erat erat sang anak bungsu dengan tangis kasih sayang seorang ibu.
"Kamu itu perempuan, tapi kelakuan mu sangat melebihi Abang mu." Suara Jum tersedu sedu sesak di dada. "Mami ingin sekali memukul bokongmu!" Hiks... Jum kembali tergugu gugu dengan punggung itu di elus elus oleh Ama yang sebenarnya getar getir menatap takut takut sang Papi yang sedang bersedekap dada di belakang sang Mami dengan wajah datar susah di artikan oleh Ama. Marah kah atau merasa lega anak bungsu nya pulang dengan keadaan selamat?
"Biarkan dia istirahat, Mi." Akhirnya, si Papi mengeluarkan suaranya juga. "Selesai itu, Papi menunggu mu di ruanga kerja."
Ama hanya menghela nafas pelan mendengar hal tersebut. Pasti akan omelin sadis sadis manja. Harus minta bantuan sama sang Mami kalau menyangkut sang Papi tegasnya ini.
"Papi tidak maukah di peluk, Ama?"
Gema menggeleng. Ama jemberut melihatnya.
"Ama pergi lagi nih__"
Tuk...
Setelah mendapat jitakan manja, Ama malah tersenyum karena sang Papi yang susah di baca air mukanya ini, sudah memeluknnya erat. Apalagi mendengar suara lirih sang Papi yang mengatakan, "Papi bangga padamu! Lakukan apapun yang menurut mu baik!"
Ama kian mempererat tangannya di tubuh sang Papi dengan tangis tanpa suara tersembunyi di dada Gema.
***
__ADS_1
Seharian penuh, Ama tidak keluar dari kamar yang sejak lama ia tinggalkan. Layar tv, sedang trending dengan kasus dirinya yang sudah dibebaskan dari cap buronan Negara. Pujian dan rasa terima kasih banyak padanya yang sudah berhasil membebaskan ledakan dari rencana busuk Fren, telah Ama kantongi dari berbagai sumber.
Hebohnya pemberitaan itu, membuat relasi usaha usaha Gema- sang Papi, satu persatu menelepon dan ada juga yang datang langsung untuk meminta maaf yang sekarang ini berada di ruang tamunya.
"Terimakasih untuk kedatangan kalian semua serta ajakan untuk berbisnis lagi." Gema sengaja menggantung ucapannya karena membiarkan empat relasinya di depan itu bergantian berlomba lomba memuji muji dirinya yang katanya punya anak hebat, pemberani dan pujian pujian yang sangat muak di dengar oleh Gema. Kemarin kemarin saja, orang orang yang kompak pada membawa putra nya ke hadapannya ini, menghujat dan mencaci dirinya sampai ke titik terendah. Sekarang...? Cuih, Gema ingin sekali meludah untuk mengingatkan segala hinaan mereka yang mengatai anaknya ******* yang patut di bakar hidup hidup di tengah-tengah masyarakat.
"Oh ya, Pak Gema. Ini adalah Raffa, anak saya yang punya bisnis di Singapore. Putri Anda sepertinya sangat serasi dengan Putra saya."
To the point sekali orang orang di depannya. Ketiga nya yang juga membawa putranya tak mau kalah membanggakan anak anaknya secara bergantian.
" Ehem... " Gema berdeham sejenak sebelum menjawab. Akan tetapi, mulutnya terkatup akan istrinya yang berceletuk tak kalah to the pointnya dengan berkata pedas menyindir keras, "Putri saya mantan ******* loh. Nggak takut apa suatu saat nanti anak saya yang luar biasa bandelnya itu ngebom gedung gedung lagi dan berujung semua orang menghujatnya dan bahkan ada yang tega menginginkan anak saya di bakar hidup hidup."
Hening seketika. Wajah wajah penjilat pengusaha di depan Jum itu, kompak menunduk malu yang merasa tersindir pedas.
"Maaf maaf? ngapain harus punya sopan santun sama orang-orang yang sok benar." Jum kian bertingkah menjeda sang suami yang masih memilih kosa kata sopan dan benar. Sebagai manusiawi, ia hanya mengeluarkan unek unek nya membalas perlakukan hina para mantan relasi suaminya yang berlalu. Enak saja, setelah meludahi nya secara tak kasat mata, orang orang di depannya yang tebal muka, datang berbaik baik sikap. Mereka pikir, memaafkan begitu saja begitu mudah apa? Sorry, Jum bukan orang yang punya kepribadian hati selembut sutra.
Merasa benar apa yang di katakan sang istri, Gema pun akhirnya blak blakan menolak kerja sama lagi dalam urusan bisnis dan juga menolak niat empat orang di depannya untuk menjodohkan anak anak mereka.
Empat orang itu, pergi dengan rasa kecewa membawa putra masing-masing.
"Menyebalkan!" gerutu Jum jengkel. Baru ia dan sang suami ingin beranjak dari ruang tamu, Art mereka datang mengabarkan kalau ada Abian serta keluarganya berkunjung. Gema dan Jum saling pandang sejenak. "Masalah lagi," gumam Gema dalam hati. Lalu memberi titah sang Art agar menyuruh tamunya masuk.
__ADS_1
"Pi, gimana dong. Abian masih menuntut tanggung jawab kah?" cemas Jum sama saja tidak bisa membela sang Putri jikalau menyangkut tingkah Ama yang pernah menjadi pengantin pengganti penggagalan pernikahan Vay dan Abian. Putrinya itu yang bersalah bersama sahabat sahabatnya - mantan Kurcil Smart yang ikut membantu kesuksesan Petir - Kakak Utan untuk menculik Vay di hari H acara.
"Entahlah, Mi," ucap pelan Gema karena tiga tamu nya sudah ada di depan mata.
Dengan takzim, Gema menyambut keluarga Abian. Menyuruh mereka duduk lalu mentitah sang Art untuk menyuguhkan minum.
Setelah menaruh bokongnya di sofa, Abian langsung memutar matanya, mencari cari keberadaan gadis licin yang selama ini di buronnya sebagai target calon istrinya.
"Ama ada, Om?" Daripada penasaran, Abian lebih memilih bertanya ceplos.
"Ada, di dalam kamar. Semenjak pulang. Ia tidak keluar kamar. Panggilan Om untuk berbicara empat mata pun, belum diindahkannya," tutur Gema.
Abian mengangguk paham. Sejurus, melirik sang Papa. Paham akan lirikan tersebut, orang tua Abian to the point menyampaikan niat baiknya untuk melamar Ama untuk Abian.
" Tanpa persetujuan Purnama, meski saya sebagai orang tuanya, tetap tidak bisa mengiayakan. Tapi, kalau Abian benar-benar serius tanpa ada embel embel dendam pada Purnama, tentu niat baik kalian akan saya bicarakan serius pada Ama. Namun tetap, keputusan ada pada Purnama. Putri saya dan Putra andalah yang akan menderita suatu kelak nanti, jikalau ada pemaksaan dalam sebuah tali pernikahan. Abian, kamu tahu kan arti sebuah peribahasa; Jalan dengan kaki yang patah, maka kelihatannya jelas pincang pincang. Pernikahan yang terpaksa, akan cacat ujung ujungnya," tutur Gema panjang kali lebar yang terdengar bijak dan di pahami oleh Abian dan keluarganya.
" Beri saya kesempatan untuk mendekati anak, Om Gema!"
" Saya izinkan. Kalau kamu benar benar mencintai wanita, maka menghargai keputusannya adalah salah satu rasa itu."
Jum yang mendengar penuturan sang suami, jadi meleleh dibuatnya. Itulah sifat asli sang suami. Meski tak pernah romantis di pertontonkan di depan orang, tapi suaminya itu sejatinya luar biasa paling nomer satu mengagungkan dirinya sebagai pasangan.
__ADS_1
Diam diam, di balik tembok pembatas, Ama mendengar percakapan dua keluarga di depan sana.
"Dilamar?" gumamnya pelan.