
Laporan Ama sedang dalam proses pengetikan oleh seorang polisi setempat yang sialnya bukan Aroon yang berada di depannya.
Sembari menjawab pertanyaan sang polisi tentang KDRT yang dilakukan suami gadungannya, mata Ama sesekali mencuri ke sekeliling ruangan. Ingin memastikan keberadaan Aroon.
Beberapa polisi di meja kiri kanan serta pojok belakang, tapi orang yang ia cari tidak nampak batang hidungnya. Lirik lagi ke arah dinding, di sana ada struktur nama nama polisi dan pangkatnya. Wow... Anuman Aroon ternyata bukan polisi biasa. Pangkatnya sudah menjadi IRJEN setara dengan pangkat Dibi - polisi satu satu nya yang Ama percayai saat ini.
Drrrt...
Atensi Ama dan polisi tersebut, terganggu akan dering ponsel pria yang ia temui di perbelanjaan tadi.
"Maaf, saya harus pergi karena ada meeting yang tidak bisa saya tunda. Nona, kalau pun masih butuh pernyataan saksi ku seperti tadi, maka ambillah kartu nama ku ini. Saya pamit!"
"Terimakasih bantuan Anda, Tuan. Dan maaf sekali lagi atas kesalahpahaman suami saya yang menyebabkan pipi Anda lebam begitu." Ama menjawab sembari menarik kartu nama pria tersebut yang bertuliskan 'Dusit Fren'.
"Tidak apa apa, permisi."
Beberapa menit kepergian Dusit, Ama meminta izin menggunakan toilet kepolisian. Di setujui oleh polisi di depannya.
"Belok kiri setelah lorong ya, Nona," kata Polisi itu memberi arahan jalan ke Ama.
Bukannya berbelok kiri, Ama malah ke arah berlawanan secara diam diam. Naik ke lantai dua tanpa ada yang melihatnya karena para polisi di lantai satu pada sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Lorong di depannya cukup sepi, sehingga suara derap kaki dari kejauhan bisa Ama dengar. Semakin dekat langkah kaki itu, Ama pun bingung harus bersembunyi di mana. Sial, tidak ada cela untuk mengelak kecuali masuk ke sebuah ruangan yang ada di sampingnya.
Ceklek...
"Kamu siapa?"
What the ****! Ama merutuki diri sendiri, ada penghuninya ruangan yang ia masuki.
"Saya__" Ama terdiam sejenak saat menyadari name tag di dada seragam sang polisi. Inilah orang yang ia cari cari. Dalam hati, Ama menyeringai puas karena ia sudah berada di ruangan kebesaran target tanpa capek capek lagi. "Saya hanya wanita tertindas sedang mengajukan laporan KDRT, Pak. Niat hati nyari toilet, tapi saya nyasar kemari."
Nyasar? Kurang percaya sih. Tapi, Aroon yang punya mata buaya darat, terpesona dengan kecantikan dan keseksian Purnama. Meski pipinya lebab biru keunguan yang mungkin wanita itu tidak berbohong mendapat KDRT, tetap saja kecantikan Purnama tidak bisa mengalihkan atensinya barang sesaat.
"Pak, toilet di mana? Saya kebelet, uhh ..." Ama sengaja mengeluh manja sembari berdiri gelisah memegangi bagian pahanya demi mengalihkan tatapan curiga Aroon.
Aduhai, sangat montok dan menggairahkan meski cuma mendengar lenguhan cewek ini. Kulit putih mulus di lapisi dress merah ketat dengan panjangnya cuma di atas lutut. Jelas memancing hormon testosteron Aroon.
"Pakai saja toilet khusus saya, itu pintunya..." tunjuk Aroon ke arah kanan. Ama mendelik ke pintu coklat yang ditunjuk Aroon. Kembali menatap Aroon lalu tersenyum sangat manis sekilas, sengaja berlanggak lengngok seksi ke kamar kecil itu. Mata Aroon jelas tidak mau kehilangan kesempatan menyaksikan kemolekan bokong empuk Purnama. Dinilai dari wajah, Ama memang terlihat wanita cantik mempesona yang tidak akan terduga mempunyai skills mematikan. Perangai wanita itu sangat menipu lawan seperti Aroon yang Ama yakini pria itu punya sisi predator kenikmatan dari lawan jenis.
"Utan, apa kamu mendengarku?" Di dalam toilet, Ama mencoba berbicara dengan Utan melalui earphone kecil yang baru ia pasang di telinganya. Keran air sengaja ia nyalakan supaya Aroon tidak mendengarnya berbisik bisik dengan Utan.
"Masuk..." Jawab Lautan dengan laptop di pangkuannya, menunggu Ama selesai melakukan tugasnya yang bertujuan utama Ama masuk ke ruangan Aroon, tak lain cuma ingin memasang penyadap suara serta kamera mini demi bisa mengawasi gerak gerik Aroon.
Ama dan Lautan ingin bermain cantik karena mereka yakin Aroon aslinya hanyalah salah satu pion orang dibalik teka teki yang ia hadapi. Andai Ama mengikuti hasrat kejamnya, maka dengan mudah ia sudah menembak kepala Aroon sedari tadi saat pria itu sibuk menatap tubuh pulennya. Akan tetapi, ia tidak akan gegabah. Seperti hama tumbuhan, Ama ingin memberantasnya sampai ke akar akar.
__ADS_1
"Siapkan laptop."
"Sudah dari tadi. Kamunya saja yang lelet bertindak."
Sianying, memangnya mudah apa memasang penyadap di kantor polisi tanpa ketahuan. Harus hati hati serta butuh trik tipu tipu halus. Artinya, ia rela jadi wanita genit di depan Aroon.
Kesal dengan ejekan Utan, Ama tidak mau bersuara lagi. Matikan keran, lalu hendak buka pintu. Tapi, Ama urungkan karena ia samar samar mendengar Aroon sedang menelpon dan bertanya tanya tentang wanita yang berpakaian baju merah. Itu tandanya, ia dong. Ama menaruh daun telinganya ke pintu.
"Jadi, benar adanya ada wanita yang melapor KDRT?"
Pasti Aroon itu menelpon bawahannya yang ada di lantai bawah. Ama menyeringai. Inilah kenapa ia rela mendapat tonjokan hebat Lautan yang awal rencana cuma butuh gamparan doang. Totalitas memang dibutuhkan demi mencapai keinginan yang akan ia gapai.
"Ah, tidak ada masalah. Saya bertemu dengan wanita itu yang nyasar mencari toilet. Selamat bekerja!"
Aroon sudah selesai acara neleponya. Ama pun merapikan rambut pirang sweet caremelnya. Buka pintu yang ternyata Aroon sudah menyambutnya yang tak jauh dari depan pintu toilet.
Aroon tersenyum ramah. Dibalas senyum manis oleh Ama. Lanjut, wanita itu meringis pelan , "Aww..." sembari memegangi tulang pipinya yang memang sakit kena tonjokan kuat Utan. Ia lakukan demi bisa menarik rasa simpatik Aroon.
"Pasti sangat sakit ya? Sini... Sini duduk dulu."
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Aroon menyambut baik diri nya di dalam ruangan kerjanya ini.
"Tapi, saya harus pergi, Pak. Takut, suami saya akan bertambah marah kalau tau saya sedang melapor ke polisi." Lain di hati, lain di mulut dan juga lain tindakan yang Ama berkata sembari mengenghempaskan bokongnya ke sofa.
"Saya__ maksudnya, kami pihak polisi akan menjamin keselamatan mu dari suami mu yang kasar itu." Aroon meralat. Ia sepertinya juga sedang bersiasat mengambil perhatiannya dengan membawa alibi kekuasaannya sebagai polisi yang mengayomi masyarakat. "Wanita secantik kamu, sungguh-sungguh sangat disayangkan kalau dipukuli," sambungnya.
"Terimakasih, Pak. Anda sudah menghibur hati saya yang sedang risau ini. Saya takut pulang, Pak. Cemas suami saya datang dan bisa saja berbuat semena mena memperlakukan saya. Bahkan, kerap kali dia menggauli istrinya sendiri dengan sangat brutal."
Curhatan kibulannya sudah mengena belum ya? batin Purnama.
" Menggauli?" spontan Aroon berceletuk. Banyaknya kata kata Ama, hanya satu itu yang membekas di otak kotornya. Ia malah berfantasi liar membayangkan tubuh seksi pulen itu sedang toples sempurna di depannya. Mendadak Aroon menelan ludah mupengnya.
"Sabar ya. Kamu aman jika bersama saya." Elus tangan Purnama yang bermaksud memenangkan wanita yang dianggapnya polos. Mulus sekali.
Ama sendiri ingin sekali menggigit tangan Aroon sampai berdarah darah. Tapi sabar, nanti ada saatnya.
Mereka terus mengobrol sampai waktu beberapa menit berlalu. Ama belum punya kesempatan untuk menempelkan penyadap suara serta kamera berukuran mini yang ia ambil di markas SSA sebelum pergi dari gedung kesatuannya itu. Muak sebenarnya mendengar celoteh Aroon yang ujung ujungnya menggombal. Pura pura nyaman saja sampai ia terbatuk batuk.
"Boleh minta minum?"
"Ah, maaf, maaf. Saya lupa menawarkan mu minum saking asyiknya saya menghibur wanita cantik seperti mu."
Hoekk ... Lautan sedari tadi berekspresi mual di seberang earphone, yang masih aktif di kuping Ama, Aroon tidak akan melihat alat kecil itu karena tertutup oleh rambutnya yang tergerai.
" Jijik sumpah dengar dia gombal terus. Buru ah, jangan kelamaan di sana. Atau aku akan datang ke sana membuat kekacauan."
__ADS_1
Ama tidak bisa membalas ocehan kesal Lautan karena adanya Aroon di sebelah duduknya.
Ngapa tuh pria? Tadi, di mall, Utan berang menghajar orang yang bernama Dusit Fren cuma karena pria itu memegang pinggangnya dengan durasi beberapa menit dan kenapa pula mendengar Aroon menggombali nya jadi sewot terus menerus? Ama bertanya tanya. Apa Lautan cemburu? Ck, mana mungkin. Pria itu kan bucin parah sama Vanila.
"Tunggu sebentar ya, saya ke pantri di lantai satu. Spesial untuk mu, saya akan buatkan dari tangan saya sendiri. Sabar, oke...!"
"Eum, kalau ada, saya mau teh hijau ya, Pak." Sengaja Ama meminta yang sedikit rumit, biar Aroon lama buatnya.
"Sip..."
Aroon akhirnya meninggalkan ruangan. Cepat cepat Ama menaruh penyadap suara. Selipkan masuk ke sela sofa. Untuk camera kecil bulat berukuran kelereng bentuknya, ia menaruhnya di pot bunga plastik hias yang ada di depan sofa. Ama berharap semoga Aroon tidak menyadari ruangannya sudah si sadap.
"Ama, buruan." beo Lautan.
"Sabar, bawel. Tinggal hapenya." Kebetulan, hape Aroon di tinggal di atas meja kerjanya. Gegas Ama memasang GPS khusus dan mengotak atiknya cepat untuk memudahkan dirinya menyadap segala aktivitas hape Aroon juga. Ia pernah belajar di Vay cara meretas hape meski belum jago jago amat.
"Selesai..." seru Ama melapor. Lautan pun di seberang sana perlu mengakses sebentar untuk mensetting penyadap dan kamera sudah berfungsi dengan baik atau belum.
"Oke, kerja bagus. Semuanya sudah oke. Saya menunggu mu di cafe seberang jalan."
Sedetik Utan melapor, pintu ruangan pun terbuka. Aroon datang membawa baki di atasnya ada dua cangkir putih.
"Maaf, sedikit lama ya."
"Tidak kok. Saya malah tidak enak hati sudah merepotkanmu." Sekarang, masalah Ama untuk out dari ruangan itu. Main pergi saja? Adanya nanti akan di curigai.
"Di minum ya?" Cangkir sudah di atas meja. Belum Ama menyahut, telepon kantor Aroon berbunyi. "Tunggu sebentar, saya angkat dulu."
Ama cuma mengangguk. Aroon pun mengangkat nya. Sedikit mencuri pendengaran, orang yang menelepon sepertinya Komisaris tertinggi, karena Aroon sering mengatakan, siap komandan.
"Maaf ya, Amara. Saya ada tugas, harus pergi sekarang juga."
Itulah yang Ama mau. Soal Amara? Ia memang menyamar menggunakan nama itu.
"Iya, Pak. Saya tidak apa apa. Sebenarnya, saya juga tidak enak hati berlama-lama di ruangan Bapak. Takut ada isu buruk mencemarkan nama baik Anda." Ama berdiri dari sofa.
"Jangan khawatirkan itu dan sebenarnya saya berencana untuk mengajak mu makan malam." Aroon membuka pintu untuk Ama.
"Itu bisa diatur nanti, Pak. Bapak tinggal telepon saya saja. Kan, kita sudah bertukar nomer." Ama tersenyum penuh arti mendengar niat Aroon. Kesempatan bagus pikirnya.
Mereka turun ke lantai satu bersama. Di ruangan pelayanan terlihat beberapa polisi yang berhadapan dengan orang pelapor.
Bugh...
Bahu sisi kiri Ama tidak sengaja ditabrak oleh seseorang di pintu masuk lebar itu.
__ADS_1
"Maaf__ Ama?"
Aih, mati. Vanila orang yang menabraknya itu. Di belakang Vanila ada Abian yang juga berekspresi kaget melihat nya. Alamakk... Mana Aroon masih ada di sebelahnya. Mampus dah.