
Flasback beberapa menit yang lalu setelah Simi berhasil mengerjakan apa yang di suruh Ken. Pria itu langsung mengikat Simi kembali berikut memasangkan bom di perut Simi. Selesai, Ken keluar dari pabrik selisih beberapa menitan dari kedatangan Ama dan dua rekannya ke ruangan penyekapan Simi.
Di luar pabrik, Ken kebetulan bertemu dengan Utan yang awalnya, sahabat Ama itu hendak menyusul Ama setelah berhasil membujuk Vanila untuk pergi bersama golongan Vay dan lainnya.
Utan yang mendapat kesempatan bagus membalas perlakuan keji Ken yang menyiksanya, segera saja menghadang pria itu yang terlihat terburu buru akan pergi dengan cara langsung berlari menendang punggung Ken dari belakang.
Pria itu tersungkur ke depan. Namun sigap berdiri dengan cara elegan.
"Oh ... kamu sudah bebas dari gas beracun dan itu tandanya, Ama serta lainnya pun demikian? Atau ... Mereka mati semua?" Ken menyeringai ejek.
"Bacot!" Bagh bugh bagh bugh... Utan menyerang seketika.
Tonjokan serta tendangannya, di tangkis epik oleh Ken yang beladirinya juga tidak bisa disepelekan. Mantan militer khusus itu, balik menyerang Utan sehingga pertarungan terlihat sengit di bawah gelapnya malam.
Meski Utan sebelumnya sudah terluka karena habis di rantai berikut dihajar, kekuatan sahabat Ama itu masih bisa mengimbangi keahlian Ken.
Braak...
Tendangan mengecoh Utan yang awalnya ingin menipu gerakan tangan, berhasil mengenai Ken sampai sampai pria itu terpental ke tumpukan bambu bambu kering.
__ADS_1
Ken tentu saja belum menyerah sebelum lawannya ia bunuh. Oleh sebab itu, ia bergegas bangkit dengan tangan membawa bambu sepanjang dua meter perkiraan.
Awal penyerangan Ken menggunakan bambu, masih bisa di hindari Utan, tapi lama lama ia kualahan juga. Sehingga, Ken berhasil memukul kepalanya. Darah segar membasahi pelipis. Pandangan Utan sedikit buram tapi masih berusaha menjaga kesadarannya.
"Cuih ... mati kamu!" Kembali, Ken mengayunkan bambunya ke arah wajah Utan. Tapi, Utan dengan sigap menunduk dan secepat kilat memegang ujung bambu yang dipegang oleh Ken.
Dari kejauhan, sedari awal pertemuan tak sengaja Utan dan Ken, ada Dusit memperhatikan perkelahian sengit dan hebat di depan nya itu, dengan senjata api ada di tangan.
Dusit bimbang, harus menembak Ken atau Utan terlebih dahulu?
"Teman Purnama lebih dahulu," putus Dusit lalu segera memusatkan ujung senjata nya ke arah Utan yang masih berkelahi sengit bersama dengan Ken.
Dor ...
Bukan Utan yang melolong keras kesakitan, melainkan Ken. Dusit salah sasaran karena Utan yang masih memegang ujung bambu yang juga dipertahankan oleh Ken, tertarik spontan ke depan, tempat Utan sebelumnya.
Ken tumbang dengan perut tertembak. Utan yang penasaran peluru dari mana asalnya, segera memutar matanya. Akan tetapi, Utan tidak melihat tanda-tanda keberadaan kehidupan lainnya di tempat minim pencahayaan tersebut.
Tidak mau tertembak oleh orang yang belum terlihat, Utan segera bersembunyi cepat. M
__ADS_1
"Siapa orang nya dan di mana keberadaannya?" gumam Utan.
Dusit, setelah melesatkan senjatanya yang cuma satu isi peluru nya, pergi begitu saja karena tidak mau menjadi bulan bulanan Utan yang pasti akan membunuhnya kalau terlihat oleh lawannya yang sedang kesetanan itu. Lebih lebih, ia sudah terluka akibat perlakuan Ken yang menghajarnya. Ia takut, Utan tidak bisa ia lawan.
"Setidaknya, aku berhasil membunuh Ken." Dusit menyeringai puas. Saat ini, ia sudah berada di atas pesawat khusus milik SSA, bekas pakai Simi dan Ken ke tempat terpencil tersebut.
Mendengar suara khas pesawat, Utan yang masih dibuat bingung oleh siapa penembak Ken, akhirnya keluar dari persembunyiannya. "Apa orang yang pergi itu adalah orang sama yang menembak Ken?" gumamnya bertanya tanya sembari menatap langit, lebih tepatnya memandang kepergian pesawat yang semakin tinggi dari permukaan dan berujung menghilang di balik malam nan awan tebal mendung.
Merasa kepalanya berkunang kunang, Utan pun berjalan sempoyongan dengan tangan menepis darah yang mengotori pelipis kirinya.
Sejenak, Utan berhenti. Menggelengkan pelan kepalanya untuk mencari kesadaran. Ia ingin membuktikan kepada Ama kalau ia masih kuat meski terluka fisik. Ia ingin menjadi sahabat yang selalu ada untuk Ama, baik duka maupun suka.
Kreek ... tidak sengaja, kaki Utan menginjak sesuatu. Segera, ia menunduk mengambil benda berbentuk remot timer khusus. "Shiiit... Saya tidak sengaja mengaktifkannya," desis Utan geram merutuki dirinya sendiri. Lama bergaul dengan Ama, ia jelas mengenali remot timer bomb tersebut.
Oleh sebab itulah, waktu Ama dan Simi yang berusaha mematikan sistem peluncuran nuklir, sia sia saja. Bukan Ken yang mengaktifkan timer nya, melainkan Utan secara tidak sengaja terinjak.
Waktu kini, nuklir meluncur ke angkasa dengan kecepatan tinggi. Dari luar pabrik, Utan menangadakan kepalanya, atensinya mencari cari suara gerumuh hebat dari nuklir yang meluncur bak hembusan angin.
"Oh ... Tuhan!" Utan membelalak ke arah langit. Ia merinding sendiri menyaksikan bencana pelepasan nuklir yang akan menghancurkan tempat yang di tujunya.
__ADS_1
BOOM...
Alih alih radius luncurnya sampai ke Negara Ama, nuklir meledak di atas angkasa akibat peledak raksasa penghancur hebat itu, menabrak pesawat yang di tumpangi Dusit. Inilah namanya, senjata makan tuan.