Buronan Cantik

Buronan Cantik
Bab 44# Menyadari Perasaan Berujung Galau


__ADS_3

"Apartemen?"


"Eum, bukannya kamu mencari tempat mengobrol tanpa ada keramaian, bukan? Apartemenkulah tempatnya."


Dengan mata curiga, Ama menatap intens Abian.


"Jangan suudzon dulu. Aku tidak akan macam macam. Sumpah deh!" lanjut Abian sembari memamerkan jarinya yang berbentuk V saat menyadari tatapan aneh Ama.


Tidak bersuara lagi, Ama pun mendahului Abian berjalan ke lobby apartemen menuju lift.


"Jelas aku takut, secara dia kan badas," batin Abian yang masih terbayang bayang oleh sisi lain Ama yang bukan wanita biasa. "Salah sedikit, bisa mati di bom aku." Abian terus bergumam santai santai takut dalam langkahnya.


Sementara Lautan, pria itu terus membuntuti Ama. Ia berpikiran macam macam pada dua orang yang ia ikuti tersebut. "Ama mau ngapain di apartemen Abian, ya? Tidak bisa dibiarkan. Enak saja, Ama mau dikelabui sama tuh si Ebi udang." Lautan tidak sudi dan ada ketidak relaan di hati nya melihat Ama bersama pria lain.


"Wah, Sayang. Kamu di sini?!"


Lautan berjengit kaget akan kehadiran Vanila secara tidak sengaja bertemu. Dan suara cempreng gadis itu, membuat Ama dan Abian menoleh ke belakang. Alhasil, Lautan yang saat ini diunyel unyel manja pipinya oleh Vanila, ketahuan. Lift yang sudah terbuka di lantai satu itu, diabaikan Ama dan Abian. Keduanya mengambil jarak pada Utan dan Vanila.

__ADS_1


"Eh, ada Ama dan Abian juga. Kebetulan sekali ya kita bisa bertemu di sini. Kalian kok bisa bersama sama?" Action on, Lautan berlagak sok bodoh di depan Ama. Vanila segera saja melendot di lengan kekar Lautan.


Ama yang masih diam seribu bahasa, menatap aneh Lautan. Gerak gerik tubuh sahabat dari oroknya itu, seperti tidak biasa. Ama terlalu mengenal Lautan. Oleh sebab itu, Ama berceletuk ceplos, "Aku memang sengaja mau bertamu ke tempat Abian. Kalau kalian berdua, mau kemana?"


Bukan hanya Lautan yang kesusahan berkelit, Vanila pun demikian. Kekasih Utan itu, sebenarnya mau bertemu dengan Abian. Tak di sangkanya, akan bertemu dengan Utan dan Ama. Mampuslah, kalau hubungannya dengan Abian ketahuan. Vanila belum siap menceritakan awal kedekatannya dengan Utan yang hanya modus tapi berujung jatuh cinta betulan.


"Aku__" Tiba tiba Vanila mempunyai alasan elit saat menyadari kalau ia memegang galeri drawing milik butiknya. "Aku kemari mau bertemu klien. Dan orang nya adalah Abian. Betul kan, Abian. Kamu mengundangku kemari karena berencana memesan baju dalam acara formal lamaran resmi mu dan Ama, bukan?"


Abian yang ingin membantu Vanila, segera mengangguk. Kesempatan juga baginya yang ingin melihat reaksi Ama akan keseriusannya. Tapi wanita itu, masih datar datar saja ekepresinya. Beda dengan Lautan yang terkejut mendengar pernyataan Vanila. "Lamaran resmi?" Lautan bertanya meyakinkan pendengarannya sembari menatap Ama lekat lekat.


"Iya, Sayang. Abian berkata demikian padaku. Tapi tenang, akupun sudah punya sketsa baju pernikahan kita kok. Tak kalah kecenya." Kecerewetan riang Vanila, kembali mendominasi perbincangan di antara mereka. Senyum manis bahagianya, selalu menghiasi bibir Vanila.


"Sadar, Ama. Mereka saling mencintai. Jangan menjadi perusak di antara hubungan kebahagian sahabat sendiri. Meski tidak memiliki, setidaknya dia bahagia bersama pilihannya. Cukup bagimu melihat senyumnya." Dalam hati, Ama terus memperingati dirinya.


"Ama?"


"Ah, i-iya?" Ama tergagap. Ternyata, ia melamun di depan tiga orang di depannya. Utan sampai mengibaskan tangannya di depan wajahnya.

__ADS_1


"Apa benar Abian melamar mu?" Utan akan lebih afdol jika Ama sendiri yang menjawab. Walaupun sudah mendengar Vanila berceloteh, ia masih kurang percaya.


Abian sengaja diam karena ingin pun mendengar jawaban Ama yang sama saja penasarannya dengan Utan. Setelah bertamu ke rumah Ama bersama orang tuanya waktu itu, sampai saat ini, Ama masih menggantung niat nya yang belum ada jawaban sama sekali.


"Benar, Abian tadi siang melamarku. Dan..." Ama sejenak mengatur nafasnya dan mengumpulkan keyakinannya untuk menjawab keputusan yang sangat besar dalam hidupnya. "Aku menerimanya!"


Suara Ama terdengar ragu. Tapi jawabannya itu sudah membuat Abian merasa ingin bersalto salto dan meninju ninju udara. Beda dengan Utan yang mati matian menahan diri. Entah kenapa, ada rasa aneh dalam hatinya. Ia merasa tidak setuju dengan keputusan Ama menerima Abian.


Saat Lautan ingin beranjak pergi begitu saja, Vanila segera menahan tangannya. "Mau kemana? Lebih baik kita semua melihat sketsa gambar baju pengantin ini. Kan, kita berempat akan segera menikah."


"Setuju. Ayo, ke tempatku!" Abian sangat bersemangat menimpali kata-kata Vanila. Ia segera menggenggam lembut tangan Ama di sertai senyum manisnya. Sejurus, menarik Ama untuk melangkah beriringan bersamanya. Ama hanya manut seperti boneka.


Di belakang sana, dengan lengan dirangkul Vanila, satu tangan Utan terkepal erat, buku buku kukunya sampai memutih saking eratnnya tinjunya itu.


"Kenapa aku cemburu?" Lautan baru menyadari, kalau ketidak sukaannya melihat Ama di perlakukan istimewa oleh Pria lain, karena dirinya punya perasaan suka pada sahabatnya itu. Dulu, Ama hanya dekat pada pria yang merupakan sahabat sahabatnya termasuk dirinya, sehingga ia tidak pernah cemburu. Tapi, kali ini kehadiran Abian lah yang membuka matanya lebar lebar.


"Oh, Shiit..." Lagi, ia bergumam kesal saat menyadari ada Vanila yang sudah berstatus calon istrinya.

__ADS_1


Lautan galau jadinya. Begitupun Ama yang terpaksa saat ini digandeng Abian demi membunuh rasa sukanya agar keharmonisan Lautan dan Vanila tetap utuh.


__ADS_2