
Braak...
Dor...
Ama menendang pintu tersebut secara kasar. Di susul Utan yang langsung menembak lampu lampu ruangan sehingga menimbulkan keadaan gelap gulita untuk mengecoh kelompok Aroon. Dalam bertarung, bukan hanya kekuatan yang digunakan Ama dan Utan, melainkan kecerdikan otak pun di imbangkan.
Ama dan Utan yang sudah merencanakan dengan apik, sekarang memakai kaca mata anti kegelapan, membuat mereka memudahkan untuk menembak para anak buah Aroon tepat sasaran.
Dor, dor, dor...
Tembakan terdengar saling bersahutan. Aroon cs yang tidak bisa melihat, melesatkan pelurunya secara random tanpa mengetahui titik keberadaan sang lawan. Kadang kala, mereka malah menembak kawan sendiri.
"Bedebah...! Tangkap siapa pun orangnya!" Rekan Aroon yang dipanggil bos di telepon tadi, mengerang murka mendengar suara erangan demi erangan anak buahnya yang tumbang terkena tembakan.
"Mati kalian!" Peluru memberondong ke arah Ama dan Utan secara acak dari Aroon dan sang Bos yang masih belum sempat dilihat wajahnya oleh Utan dan Ama. Sepasang sahabat itu, terpaksa bersembunyi di balik sofa demi menghindari timah panas yang bisa saja menyasar mengenai tubuh.
Saat Utan ingin membalas, satu peluru berhasil menyerempet lengan kanannya. Senjatanya otomatis terjatuh dengan pekikan , "Aaarggh." Membuat Ama menoleh dan segera mendekati Utan sembari menembak membabi buta ke Aroon yang langsung membanting tubuhnya tiarap ke belakang sofa.
"Sial!" Aroon mengerang tertahan karena Ama berhasil menembak sisi bahunya.
"Hadapi mereka!" Bos itu berniat kabur setelah mentitah Aroon. Takut terkena tembakan, Pria tersebut menghantamkan tubuhnya ke jendela . Braak... Pecah berkeping keping. Pria itu terjun bebas sampai terjatuh di atas atap mobil yang terparkir, lanjut berlari dan tidak mempedulikan teriakan histeris orang-orang sekitar yang menyaksikan aksi ekstrim nya.
Aroon menyusul melompat. Ia tidak mau mati dengan cara menuruti perintah konyol sang rekan.
"Utan, kamu tidak apa apa?" cemas Ama sembari berjongkok di depan Utan yang duduk asal asalan di lantai.
"Kejar, Ama. Jangan hiraukan aku, ini cuma luka biasa." Utan bangkit setelah senjatanya sudah ketemu yang sempat masuk ke kolong meja.
Melihat keadaan Utan tidak terlalu parah. Ama pun berlari ke arah jendela.
Braak... Remek atap mobil orang yang sedari tadi di buat ajang pijakan dari lantai dua. Menoleh ke arah kiri dan kanan. Kedua target mengambil arah yang berlawanan membuat Ama bingung harus mengejar siapa terlebih dahulu?
__ADS_1
"Ama, minggir!"
Gegas Ama turun dari atap mobil tersebut, karena seruan Utan dari lantai dua. Sahabatnya itu ikut melompat dengan wajah terlihat menahan sakit di bagian lengannya yang sudah meneteskan darah sedari tadi. Membuat Ama memikirkan keadaan Utan yang terluka.
"Pulanglah, Utan. Jaga keselamatanmu!" Ama berseru sembari mengejar Aroon, membiarkan rekan Aroon lepas dengan terpaksa karena ia tidak tega menyuruh Utan. Takut, sang sahabat terluka lebih parah.
Namun, Utan yang merasa mampu, tidak menghiraukan titah Ama. Pria itu mengejar rekan Aroon. Ia ingin membalas tembakan orang tersebut.
Tiingg...
Kedua pria itu tidak mempedulikan suara klakson mobil yang bersahut sahutan akibat rekan Aroon menyeberang jalan asal asalan. Hampir saja Utan tertabrak mobil karena nekat juga menyeberang dengan langkah berlari.
Makian terdengar dari para pengguna aspal itu untuk Utan dan rekan Aroon. Tapi keduanya tidak peduli, terus berlari larian sebisa dan semampu mungkin.
Dor...
"Argh..."
"Mampus!" pekik riang Utan. Ia berhasil menembak kaki sang target saat hendak melompat naik ke bus. Pria itu terjatuh, tapi bangkit lagi dan sejenak menoleh ke arah Utan yang hendak menangkapnya karena beberapa langkah lagi dari posisinya.
"Kamu..?" Utan tertegun sejenak, mencoba mengingat wajah pria yang baru saja terlepas topinya. Pria tersebut tidak asing . Sejurus, kembali tersadar karena rekan Aroon ternyata orang yang pernah ia tonjok di mall itu, Dusit Fren.
Pria itu menyeringai bengis ke Utan. "Apa kita pernah bertemu? Siapa kamu, eum?" Dusit hanya bertemu dengan Utan yang berkumis menyamar, jelas ia tidak mengenali Utan.
"Tidak perlu tau!"
Kondisi berdarah darah yang seimbang, Utan yang terluka di bagian lengan, Dusit bagian kakinya. Akan tetapi mereka memilih berduet karena sekonyong-konyongnya, Dusit menyerang Utan yang tadinya ingin menembak Utan yang sama sama menodong pistol, tapi peluru mereka kompak kehabisan isinya.
Keduanya berkelahi sengit di trotoar. Jab dan flying-kick, saling membeli. Utan berhasil menonjok pipi kiri Dusit. Lanjut menendang kuat pria itu ke arah jalan raya. Selamat nyawa Dusit, karena tidak ada mobil yang melintas.
"Biadab!" Dusit murka. Bangkit cepat dari aspal. Utan yang tidak mau memberi kesempatan Dusit melawan, kembali menendang perut pria itu. Kali ini, Dusit limbung ke tanah. Tangannya menggenggam tanah kering tanpa diketahui Utan.
__ADS_1
Pelipis penuh keringat dingin dan lebam lebam, tidak dipedulikan oleh Utan, hasratnya cuma ingin melumpuhkan pria tersebut dan akan ia bawa ke hadapan Ama untuk diinterogasi.
Whuut...
"Hais..." Mata Utan kelilipan akan lemparan tanah Dusit yang tak terbaca. Dusit mengambil kesempatan bagus itu dengan cara menonjok wajah Utan dan terakhir menendang kuat perut Utan. Sahabat Ama itu terhuyung ke aspal. Tiing ... Ada mobil yang menyalakan klakson keras yang jaraknya sangat nanggung untuk me-rem mendadak. Telat sedetik menggulingkan tubuhnya, kepala Utan pasti akan pecah terinjak ban mobil. Sang sopir pun, refleks membanting setir dan segera me-rem mendadak.
"UTAN?!" Abian dan Vanila lah yang berada di atas mobil. Keduanya yang bosan di penginapan, memilih menyewa mobil dan berjalan jalan menikmati malam penuh bintang Negara Gajah putih tersebut, namun tidak terduga mereka bertemu dengan Lautan yang keadaannya sudah berdarah darah dan babak belur area.
Abian segera menepikan mobil dengan benar sebelum ada mobil lain yang melintas di jalan sepi tersebut. Vanila bergegas turun setelah mobil berhenti sempurna, menghampiri Utan yang tidak peduli dengan kehadirannya. Pacar nya itu lebih sibuk memutar mutar pandangan mencari keberadaan kaburnya Dusit yang menghilang cepat.
"Kemana dia?" murka Utan masih mengabaikan keberadaan Vanila. Karena kesal akan kegagalannya, Lautan pun melampiaskannya dengan cara meninju ninju angin kosong.
Vanila bergidik ngeri melihat sosok lain dari sang pacar. "Utan, ayo pulang. Kamu terluka __" Vanila terjeda. Utan main naik ke kemudi, padahal Abian baru keluar dari sana. Tidak mau ditinggal, Vanila dan Abian cepat cepat masuk tanpa banyak bertanya terlebih dahulu karena mengetahui Utan dalam suasana hati yang tidak bersahabat.
Utan mengendarai mobil itu untuk mencari keberadaan Ama. Ia tidak akan pergi tanpa sang sahabatnya.
Sementara di sisi Ama yang memburu Aroon, kini keduanya berada di atas jembatan penyeberangan jalan raya.
"Sial, dia terus mengejarku!" gerutu kesal Aroon yang kini tenaganya hampir habis karena ngos-ngosan. Tidak mau tertangkap yang kini Ama atau Amora yang ia kenal, Aroon mencoba menguatkan dirinya untuk terus kabur dari kejaran wanita serigala menurutnya.
Ama yang benar-benar tidak mau kehilangan targetnya, detik itu juga menarik bom dari saku jaketnya yang ber_ frekuensi ledak kecil.
Whuut ... Melemparnya ke tangga jembatan penyeberangan tersebut yang hendak dilewati Aroon. Ledakan yang diciptakan Ama, mampu mengundang pasang mata orang orang yang berada tidak jauh dari jembatan penyeberangan tersebut. Mobil yang ingin melintas di bawa sana pun, tiba-tiba menghentikan laju karena takut oleh ledakan yang mungkin saja ada susulannya.
Aroon terpojok. Di depannya api berkobar, di belakang sana api neraka sesungguhnya.
"Menyarah atau nyawa melayang?!" Ama tidak mungkin membunuh Aroon, karena pria di depannya ini adalah satu-satunya sumber info untuknya. Ia cuma menggertaknya.
"Cuih ... Kamu pikir, akan mudah menangkap saya? Panic of Button sudah saya aktifkan. Polisi setempat akan datang. Dan kamu, buronan Negara Indonesia, akan menjadi buronan Negara ku kalau kalau berani membunuh ku. So, lebih baik bekerja sama dengan ku. Kita ciptakan apa yang seharusnya terjalin antara mu dan Bosku sedari awal rencana kami, bagaimana, Nona Amora binti Purnama?" Aroon bernegosiasi balik.
Ama sedikit bingung dengan kalimat Aroon. "Itu tandanya, sedari awal kamu sudah tau saya adalah Purnama, bukan Amora yang mendapat KDRT?"
__ADS_1
"Hahaha..." Aroon tertawa ejek. "Betul sekali!"
"Apa mau kalian dari saya?" Ama to the point.