
"Nah, kebetulan mbak Komar sudah ada disini." sambut Al .
"Miss Riyah sayang ..." Komariyah menjawab dengan mengeratkan kedua rahangnya pada Al.
Wajah Al mendadak kaku seketika.
Sedangkan Khadijah yang sejak tadi menyaksikan tingkah konyol Komariyah hanya tersenyum miris.
"Yok, tak terne nak kamar." ucap Komariyah.
Mendengar ajakan itu, Khadijah masih saja diam mematung dan berdiri disana.
"Hei, ayo!" sentak Komariyah .
"Maaf, maksud mbak Komar mau ngajakin kamu buat ke kamar yang akan kamu tempati nantinya." jelas Al dengan telaten.
Rupanya Khadijah begitu sulit menerjemahkan ucapan dan bahasa Komariyah yang terasa asing ditelinganya.
"Jangan mentang-mentang anak kota, mau deketin ayang beb ku Al. Jaga sikap, jaga mata, jaga mulut." cerca Komariyah bertubi-tubi.
Ia memberikan seluruh wejangannya terhadap Khadijah tanpa rasa sungkan. Setelah melintasi beberapa kamar para santriwati lainnya, kini Khadijah telah sampai pada sebuah kamar yang letaknya tak begitu jauh dengan pemandangan tepi sawah.
"Kriieett."
Decit suara pintu kayu yang tengah terbuka dengan lebar sempurna. Kamar itu memiliki dua bagian pasang pintu disana, dengan aksen ukiran di atasnya menjadi nilai klasik tinggi pada pintu tersebut.
"Entah kenapa yai membedakan dirimu disini, toh biasa saja dirimu. Bahkan aku ragu kalau kamu bisa mengaji dengan baik!" ketus Komariyah dengan sombong.
Khadijah hanya terus terdiam sambil menggelengkan kepalanya.
"Baca baik-baik setiap peraturan disini yang sudah sangat jelas ditembok itu!"
"BRAKK." suara pintu setengah dibanting oleh Komariyah untuk ditutup.
Khadijah lantas mengelilingi kamar itu disetiap bagian sudutnya. Dan kini matanya mulai beralih pada semua peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan dipesantren itu.
Disana ia harus bangun seawal mungkin, bahkan dirinya harus mengenakan hijab dengan baik disetiap harinya. Dan banyak hal lainnya dalam kesehariannya nanti.
Ia memutuskan untuk segera membaringkan tubuhnya diatas kasur yang tak senyaman miliknya, tapi juga tidak begitu buruk untuk ia tempati. Perutnya terasa kram saat menempuh perjalanan yang cukup panjang hari ini.
"Aku mohon, bekerja samalah dengan baik bersamaku." imbuhnya sambil mengusap perutnya.
Sholat berjamaah pertama kali.
"Mana gadis itu, bukannya sudah ku suruh untuk baca baik-baik setiap poin yang menempel ditembok itu!" ujar Komariyah dengan geram.
Ia pun memutuskan untuk menjemput khadijah dikamarnya, bukan hal baru bagi Komariyah ketika tengah mendapati santriwati baru disana. Dirinya lah yang harus bekerja extra lebih sabar menghadapinya.
"Dok dok dok."
"Dijaaaah..." teriaknya sesuka hati menyebut nama.
__ADS_1
Dengan menahan kantuk yang teramat luar biasa, apalagi badannya terasa begitu ngilu disetiap sudutnya Khadijah berusaha bangkit dari atas ranjang.
"ASTAGA!" sahutnya terkejut.
"Hei, astaghfirullah. Bukan astaga!" teriak Komariyah tak kalah kerasnya.
Dengan mengenakan setelan mukenah putih bermotif bunga biru, Komariyah menjemput khadijah untuk segera menunaikan sholat bersama. Bersamaan dengan itu, adzan pun berkumandang dengan merdunya.
"Hah, apa kau tak dengar itu!"
"Bebeb uda manggil buat sholat!" imbuh Komariyah heboh ketika tau suara Al melantunkan adzan dengan begitu baik.
"Ssstttt." sangkal Khadijah sambil menempelkan ujung jarinya dibibir kecilnya.
"Diam , adzan!" imbuh Khadijah mengingatkan Komariyah.
Bukanya ia menerima dengan baik saran Khadijah, Komariyah terus mengomel dan meninggalkan Khadijah sendirian.
Khadijah yang tau bahwa dirinya sudah sangat terlambat untuk segera menunaikan ibadah berjamaah, segera membersihkan seluruh tubuhnya dan melakukan sholat sendirian didalam kamarnya.
*
*
*
Seperti biasanya, ketika sholat maghrib telah usai ditunaikan. Para santri putri dan putra berkumpul untuk melanjutkan makan bersama sebelum kegiatan selanjutnya dimulai.
"Komar, dimana gadis itu?" tanya yai Mumtaz .
"Dikamar yai !"
"Bahkan tadi sudah saya jemput, tapi dia tidak keluar juga." protes Komariyah.
Melihat hal itu, Mumtaz memaklumi sikap Khadijah dengan baik. Terlebih dalam hal ini, ia tengah berusaha untuk memposisikan sebaik mungkin disana sebagai orang baru.
"Biarkan dia menyesuaikan dirinya dengan baik." imbuh yai Mumtaz terhadap Komariyah .
"Beruntung yang ngasih perintah panjenengan yai, calon ayah mertua sendiri. Jadi saya tidak akan berberat hati melakukannya." jelas Komar bahagia.
Mumtaz memang telah menganggap gadis itu layaknya seorang anak kandung sendiri, karena Komariyah kecil sudah tumbuh besar disana sejak awal berdirinya pondok tersebut.
Tak berselang lama, Al menghampiri sang ayah yang sedang memperhatikan semua para santri dengan baik.
"Assalamu'alaikum." sapanya, yai Mumtaz pun meneruskan salam Al dengan lirih.
"Ayo makanlah, habis gitu lanjut kita tadarus bersama." titah sang ayah.
"Baik." sahut Al menurut.
"Tapi ayah, tentang santri baru itu..." suara Al terdengar ragu bahkan ia terlihat menghentikan penjelasannya dengan mendadak.
__ADS_1
"Ayah sudah tau semuanya tentang dia, tinggal kita saja yang mengarahkannya dengan baik disini. "
"Dan sudah ayah atur juga segalanya untuk dia disini ."
Seakan tak percaya , jika sang ayah telah mengetahui segalanya tentang Khadijah dengan sedetail mungkin.
"Terutama kamu, ayah telah berjanji kepada kedua orang tua Khadijah untuk selalu memantau kehamilannya. Dan ayah harap kamu bisa memantaunya dengan sebaik mungkin juga Al." pinta Mumtaz dengan segala pertimbangan terbaiknya.
Mumtaz menuruti semua permintaan sang ayah dengan anggukan.
Ditengah obrolan mereka berdua, tiba-tiba saja khadijah baru saja keluar dari kamar dan berjalan mendekat kepada mereka dengan kepala tertunduk.
"Assalamu'alaikum ..." sapanya dengan wajah tertunduk dan melipat kedua tangannya didepan.
Bahkan Khadijah bisa mengenali Mumtaz dengan baik meski keduanya belum bertemu sebelumnya, ia sangat terbiasa berjumpa dengan para tamu sang ayah yang dulu sering dijumpainya ketika sewaktu kecil .
Pria dengan jubah panjang putih dan mengenakan sebuah udeng-udeng diatas kepalanya serta menyelempangkan sebuah sorban panjang dipundaknya, khas dengan seorang yai pada umumnya.
"Dari mana saja nggak ikut berjamaah tadi, bukankah aku sudah menjemputmu tadi."
"Tidur lagi ya!"
"Dasar pemalas."
sambut Komariyah yang takkan mengijinkan Khadijah berada didekat kedua orang terpentingnya.
"Itu jilbab pakai yang bener, bukan kayak makai handuk begitu ." cecarnya bertubi-tubi.
Khadijah yang sama sekali belum memiliki ilmu untuk mengenakan hijab dengan benar, hanya mampu menyampirkan satu helai pashmina panjang yang sudah disiapkan dengan sang ibu.
"Komar, biarkan dia belajar sendiri nantinya." imbuh Mumtaz dibalik punggung Khadijah.
Gadis itu bahkan hanya terlihat menutupi bagian ujung rambutnya yang masih terlihat sempurna dikeningnya.
"Baik yai ..." patuh Komar sambil menundukkan kepalanya.
*
*
*
"Katakan, apa yang sedang kau bicarakan tadi bersama dengannya!"
Tak sengaja , Bilal yang sempat mendengar percakapan mencurigakan Furqon memintanya untuk mengulang kembali.
Wajahnya seketika pucat pasih, dan salah tingkah dibuat Bilal.
"Siapa seorang gadis yang telah kalian perkosa malam itu!"
"Apa itu terjadi dikawasan dekat dengan pertokoan himalaya. Dan dia adalah gadis berambut panjang bergelombang dan memiliki kulit cukup putih!"
__ADS_1
Tutur Bilal dengan tegas menyebutkan semua dengan rinci ciri-ciri Khadijah disana.
...BERSAMBUNG ...