
"Akkh!"
Erangan Furqon yang telah di dorong sekuat mungkin oleh Bilal, hingga kepalanya terbentur tepat di ujung meja.
"Astaghfirullah, Bilal !" ucap Rahman tegas dengan sorot mata penegasan.
"Istighfar nak!" sahut Fatimah tak kalah terkejutnya.
"Maafkan Bilal pa ,ma."
"Cepat , jelaskan!" teriak Bilal setelah meminta maaf pada kedua orangtuanya.
Masih dengan tatapan penuh keheranan, baik Rahman dan Fatimah masih belum mengerti juga apa hal yang tengah terjadi sebenarnya.
"Ada apa ini?" imbuh Rahman bingung.
Lantas Furqon segera bangkit dari duduknya untuk berdiri tepat dihadapan Rahman. Sambil menahan rasa perih disudut kepalanya yang berdarah terbentur meja , pemuda itu nampak menyiapkan dirinya dengan gugup.
"Siapa kamu nak, kenapa Bilal bisa semarah ini padamu."
"Jangan takut, katakan ." terang Rahman membela Furqon.
"Sa-ya ..." tangannya bahkan ikut gemetar ketika hendak berbicara.
"Iya." sahut Rahman singkat dengan pandangan saksama.
Furqon pun melanjutkan perkataannya dengan nada gemetar.
"Saya yang telah menghamili Khadijah pak." jelasnya.
Mendengar pengakuan Furqon , Rahman seketika mengangkat satu tangannya begitu tinggi di udara mengarah pada Furqon. Tapi belum sampai tangan itu melukai Furqon, Rahman mengucap istighfar berulang kali hingga mengurungkan niatnya.
*
*
*
__ADS_1
"Cepat bawa pergi pemuda ini dari sini nak!"
"CEPAT!" teriak Rahman yang terlihat masih menahan emosi yang sudah berada dipuncaknya.
Bersamaan dengan itu, Abizar yang baru saja hendak memasuki rumah telah mendengar segalanya. Dan turut menyeret Furqon untuk dijebloskan kedalam penjara hari itu juga.
"Tolong beri aku kesempatan bang, aku akan bertanggung jawab!" teriak Furqon sayup-sayup terdengar masuk hingga kedalam rumah. Tapi sama sekali tak dihiraukan oleh kedua kakak Khadijah yang sudah sangat murka dibuatnya.
Setibanya dikantor polisi, setelah Abizar membuat laporan kini Furqon telah resmi ditetapkan menjadi tersangka disana.
Dibalik jeruji ia terus berteriak nama Bilal dan Abizar tanpa henti, ia memohon untuk diberikan satu kali lagi kesempatan.
"Tolong, aku tidak mau disini !"
"TOLONG WOY!" teriaknya tak tahu malu.
*
*
*
Masih dengan sikap yang angkuh, Komariyah bahkan tak mau menatap Khadijah sedikitpun.
"Kita menepi sebentar untuk makan ya." ujar Al sambil melirik jam tangan miliknya, hari itu malam makin larut dan Al sadar Khadijah harus segera mengisi perutnya yang kini telah terbagi menjadi dua bagian jatah.
"Asyiiikkk..." sahut Komariyah kegirangan.
"Nggak perlu mas, eh dok." Khadijah menolaknya dengan kikuk, bahkan ia masih tak bisa menetapkan panggilan untuk Al disana.
"Panggil dong gus Al..." imbuh Komar dengan wajah sewotnya.
"Nggak papa, cukup panggil Al saja juga boleh." tegasnya dengan menepikan mobil miliknya untuk mencari lahan parkir.
Setelah tiba ditempat makan sebuah warung pecel lele, ketiganya lantas duduk. Masih ada keraguan tersirat dalam benak Khadijah malam itu.
"Aku tidak mungkin ikut makan malam hari ini, aku sama sekali tak membawa uang." gumam Khadijah menjaga gengsinya, tapi satu hal yang tak dapat ia hindari lagi bahwa perutnya telah berdemo sejak tadi.
__ADS_1
"Ayo pesanlah," ajak Al.
"Makan saja, nanti aku akan makan dipondok saja." tolak Khadijah dengan canggung.
"Mana ada jam pondok malam-malam keluyuran makan, kamu ini kalau disuruh baca peraturan susah bener yah!"
"Batas jam makan malam itu ya jam tujuh!"
Komariyah menjelaskan dengan nada khasnya, yang terkesan membentak.
"Sudah sudah, biar saya pesankan sama saja ya." ucap Al melerai Komariyah yang tanpa ada jeda dan titik koma saat menjelaskan.
"Iiih, mas ini loh. Aku kan lagi jelasin, anak baru kayak dia kan perlu di training si mas. Dan yai bilang itu tugasku!" protes Komar dengan kesal.
Setengah jam lamanya ketiganya menunggu makanan itu untuk tersaji disana.
"Silahkan gus." sapa seorang laki-laki yang juga mengenali Al dengan mudah.
"Silahkan mbak,"
Makanan itu masih tersaji dan belum mendekat pada mulutnya, Khadijah sudah merasakan mual begitu hebat didepan Al dan Komariyah.
"Diiiiih, nggak sopan sekali si ..." protes Komariyah dengan wajah jijiknya.
Tanpa berlama-lama, Khadijah pun segera pergi dari hadapan keduanya dengan menutup mulutnya seerat mungkin. Ternyata aroma ikan goreng itu, sangat memicu dirinya untuk merasakan mual begitu hebat disana.
"Mas, lain kali diner berdua saja. Itu anak kota tapi kelakuannya kampungan banget, lihat bebek goreng aja kudu muntah!"
"Kayak orang hamil saja!"
Seketika ucapan Komariyah juga memicu Al tersedak hebat sambil mengangkat gelas miliknya.
"Uhuk-uhuk."
Al mencoba menepuk dadanya sekencang mungkin ketika terbatuk berulang kali .
"Loh loh mas, ada apa kenapa?"
__ADS_1
...BERSAMBUNG...