Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Ku tagih janjimu


__ADS_3

Dengan suara bergetar Khadijah mulai menampakkan wajahnya di layar ponsel Bilal.


"Papa mana ..." ujarnya gemetar dengan mata yang tak tertahan lagi oleh air mata.


Fatimah mulai tersenyum ketika melihat wajah sang putri begitu baik dan sehat. Wanita itu kemudian menampakkan wajah Rahman perlahan, tapi tetap saja papa Khadijah tak mau menatap wajah sang putri. Ia lebih memilih menutup ke dua matanya dengan posisi bibir yang tak seimbang ketarik satu sisi kebawah.


*


*


*


"Kenapa si pa, harus ditutupi segala sama Khadijah. Aku rindu ..."


"Maafin Khadijah ya pa, semua ini salah Khadijah!" tegasnya dengan terisak-isak sendirian.


Dadanya terasa begitu sesak dan penuh kala menatap wajah sedih sang papa yang tak mau sama sekali menatapnya sedikitpun.


Khadijah pun langsung memutuskan sambungan telepon itu dengan cepat dan kembali ke tempat tidurnya sebelum ke dua kakaknya kembali terbangun.


Setelah semalam penuh Bilal dan Abizar berjaga secara bergantian, kini keduanya bersiap untuk mengantar Khadijah kembali ke pondok karena kondisinya berangsur membaik. Dan Al telah memperbolehkannya untuk segera kembali ke pondok agar tidak merasa suntuk dirumah sakit.


"Abang akan mengantarmu." ucap Abizar sambil menenteng tas milik Khadijah.


Masih dengan sikap acuh, Khadijah berlalu dan segera masuk kedalam mobil dibangku paling belakang.


"Hei manusia aneh, itu bangku masih kosong ditengah ..."

__ADS_1


"Maju!" sembur Bilal dengan sebuah candaan.


Sekali lagi, Khadijah benar-benar sedang tak ingin bersenda gurau hari itu . Dia masih dengan kukuh mempertahankan sikap dinginnya sambil menatap embun yang tertinggal di kaca mobil pagi hari itu.


Abizar yang sejak tadi mengamati keduanya, lantas memberikan sebuah isyarat pada Bilal untuk menghentikan aksinya saat itu juga.


Setibanya di pondok.


Saat Khadijah turun dari dalam mobil, terlihat para santriwati tengah bersiap untuk melakukan pemanasan sebelum berolahraga. Dan mau tidak mau, mereka juga menatap kehadiran ke dua kakak lelaki Khadijah disana.


Keduanya begitu menjadi primadona hanya dalam hitungan menit dihari itu, betapa tidak Abizar kala itu tengah mengenakan seragam dinasnya sebelum berangkat bekerja. Sementara Bilal masih dengan santainya menggunakan pakaian casual nya.


"Hah, apa itu suaminya!" seru seorang santriwati yang tengah mengamati ketiganya.


Yah, gosip itu saat ini tengah merebak luas ditelinga para santriwati disana.


"Gila sih kalau itu suaminya, keren abis!" sahut gadis satunya.


"Siapa suruh kalian bergibah dipagi buta begini hah!" sapa Komariyah dengan ke dua tangan yang melingkar di pinggang.


Tapi, kedua mata gadis tersebut masih sibuk menatap pemandangan yang begitu mempesona hari itu. Seakan tak boleh terlewatkan kembali oleh keduanya untuk disaksikan.


"Waaaaah." serunya kembali ketika Bilal melirik ke arah mereka tanpa sengaja.


Tak ada maksud lain bagi Bilal saat itu, ia hanya ingin sekedar tahu kegiatan apa saja yang di ikuti sang adik disana. Tapi mereka dengan pedenya beranggapan jika Bilal merespon keduanya.


"Astaga ..."

__ADS_1


"Itu kakak Khadijah, kalian mau embat juga hah?" teriak Komariyah kesal sambil menarik ujung hijab keduanya masing-masing.


Alhasil hijab itupun menutupi kedua wajah mereka disana.


"Iiih, mbak Komar nih. Kita lagi cuci mata, mumpung nggak ada yai ..." imbuhnya dengan memprotes keras.


"Begini nih, kalau generasi micin . Otaknya laki aja terus."


"Ingat toh, bapak ibumu kirim kesini buat belajar jadi anak baik. Bukan anak ajinomomoto tau!" elaknya dengan kesal.


"Huuuu..." keduanya menyeru kesal pada Komariyah.


*


*


*


Setelah kepergian keduanya, kini Komariyah pun melancarkan aksinya untuk menghampiri ketiganya yang hendak memasuki kamar Khadijah.


"Eits setop!" cegahnya sambil merentangkan kedua tangannya hingga ujung ke ujung pintu lainnya.


Khadijah hanya melipat alisnya dan memandang kesal tanpa berbicara.


"Adap dan peraturan noh!" tunjuk Komariyah pada sebuah papa berisikan sebuah peraturan tepat tergantung di atas kepalanya.


Abizar dan Bilal saling berpandangan dan sepakat untuk berkata " Kami kakak Khadijah."

__ADS_1


Komariyah yang sejatinya tahu tentang hal itu, kini berlagak pikun mendadak dihadapan keduanya dengan cepat sambil terus memutar-mutar kepalanya kesana dan kemari.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2