Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Perlakuan manis


__ADS_3

"Kemarilah, lebih dekat denganku. Aku akan obati lukamu."


Pinta Al setelah keduanya sampai diruangan, saat itu hanya mereka berdua didalam sana sementara Fatimah memutuskan untuk menunggu diluar.


Kini keduanya berjarak begitu dekat, hingga aroma parfum maskulin Al dapat tercium sempurna oleh Khadijah. Bukan hanya itu, deru nafas Khadijah juga begitu jelas di telinga Al.


Tanganya mulai perlahan menyentuh bagian lebam luka Khadijah, dan terlihat jelas jika Khadijah merintih kesakitan sepanjang pengobatan.


"Apa terasa sakit?" tanya Al sembari mengangkat sebuah kapas dari wajahnya, tetapi tatap matanya tak sedikitpun beralih dari sana.


Khadijah menggelengkan kepalanya lirih tanpa mengucapkan apapun .


"Baiklah, aku tahu kau wanita kuat..." puji Al dengan melanjutkan tugasnya.


Setelah usai pengobatan, Al nampak sibuk merapikan kembali kotak obat miliknya dan Khadijah terlihat beranjak berdiri dari tempat duduknya.


"Al ..."


"Iya."


"Terimakasih banyak buat semua bantuanmu hari ini..." ucap Khadijah dengan canggung.


"Apalagi kau harus berbohong seperti itu dihadapan Furqon tadi." imbuhnya dengan suara yang berat.


Al tentu tahu kemana arah pembicaraan Khadijah saat ini , sungguh dalam hati kecilnya begitu sedih karena begitu sulit baginya untuk menembus dinding hati Khadijah.


Entah sampai kapan setiap ucapan seriusnya hanya berujung penolakan dari wanita yang sudah mampu merebut hatinya.


"Tak masalah bagiku, aku hanya ingin dirimu aman." jelas Al

__ADS_1


Satu penuturan yang memiliki sejuta makna untuk Khadijah tapi entah apakah ia menyadarinya dengan baik.


Khadijah hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis.


"Cepatlah kembali ke ruangan, dan pulihkan tenaga mu. Lagi pula, ibu sudah menunggumu dari tadi diluar. Keluarlah agar ia tidak gusar didepan." titah Al.


*


*


*


"Dari mana kalian?" Suara Bilal sudah lebih dulu menggema diruangan Khadijah dengan di ikuti pandangan dari Rahman dan juga Abizar.


Mereka menatap dengan lekat setiap lebam diwajah sang adik begitupun dengan Rahman.


"Kenapa denganya ma?" seru Bilal dengan wajah panik .


"Argh!"


"Apa itu sakit?" Bilal mengernyitkan keningnya di ikuti dengan tarikan bibir di ujungnya naik ke atas.


Fatimah lantas mengajak duduk anak perempuannya dengan perlahan dan mulai menceritakan semua hal yang telah terjadi saat itu.


"Gila, aku rasa memang gangguan jiwa keluarga itu!" Seru Bilal dengan tangan yang telah mengepal.


Melihat tingkah sang adik, Abizar hanya menatapnya dengan pandangan penuh ketegasan. Ia tak ingin jika sikapnya terlalu berlebihan dalam hal ini.


"Yasudah , yang penting mama dan Khadijah baik-baik saja." pungkas Abizar.

__ADS_1


"Terus nggak ada yang tolongin kalian tadi ma?" Kejar Bilal dengan perkataan membara.


"Al yang sudah tolongin kita." sambung Khadijah dengan lirih.


"Hah, beruntunglah jika Al datang tepat waktu. Jika tidak ada Al aku akan memberikan pelajaran padanya. " imbuh Bilal.


Sejenak mereka semua menatap Khadijah dengan serentak sampai membuat gadis itu merasa tak nyaman dengan tatap mata yang menurutnya mengintimidasi disana.


"Ada apa , kenapa semua menatapku seperti itu?" tanyanya dengan gelisah.


"Menikahlah." sahut Abizar dengan menurunkan pandangan matanya disana.


"Yah aku setuju!" sambung Bilal.


Berbeda dengan Fatimah dan Rahman yang hanya terdiam namun tersenyum melihat wajah Khadijah.


"Kenapa dengan kalian ini, selalu memaksaku untuk menikah!"


"Apa kalian senang jika adik perempuan kalian ini akan salah jatuh dalam pelukan lelaki lagi?"


"Kenapa kalian sejahat itu padaku!" protes Khadijah dengan susah payah sambil menyeka air mata yang sudah menerobos dibalik matanya.


Ke dua kakaknya hanya bisa terdiam melihat semua ucapan Khadijah yang notabene tak pernah terbesit sedikitpun dibalik hati keduanya.


"Tapi Al ..." imbuh Bilal dengan segera namun terhenti kala Khadijah menatapnya penuh dengan amarah.


"Kenapa dengan dia ?"


"Laki-laki itu hanya merasa kasihan padaku kak, dan sekali lagi itu bukan cinta namanya. Mana ada rumah tangga yang akan berjalan dengan begitu manis jika hanya dilandasi dari rasa kasihan dan iba!" bentak Khadijah dengan penjelasan panjang lebar.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2