Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Sebelah mata


__ADS_3

"Al, lain kali pergilah sebelum malam datang jika bersama dengan Khadijah."


"Tak baik nak, nanti akan mengundang fitnah."


Sembari berjalan lirih dan melipat kedua tangannya ke belakang, Mumtaz memberikan wejangannya kepada Al.


Tentu sebagai seorang anak, Al bisa memahami apa maksud sang ayah dengan baik. Ia juga tidak mungkin akan mengelak permintaan Mumtaz disana.


*


*


*


Setelah melewati malam yang panjang, kini Khadijah telah mengikuti kegiatan para santriwati dipagi hari. Rutinitas membaca Al-Qur'an akan santriwati lewati setiap harinya sebelum memulai aktifitas lainnya.


"Siapa namamu kak?" tanya seorang santriwati yang sejak tadi memandangi Khadijah yang kesulitan dalam membaca .


"Khadijah."


"Nama saya Zahra, mari kita belajar bersama." ajaknya dengan santun.


Disana, Khadijah sama sekali tak merasa keberatan dengan tawaran Zahra. Bahkan ia menyambut niat baik Zahra dengan baik.


Keduanya terlihat belajar bersama dengan beriringan.


Tak terasa hari demi hari Khadijah lalui dengan baik tanpa menemukan kendala berarti, hingga tiba pekan para orang tua untuk datang berkunjung kesana.


Hari itu, tepatnya setelah ba'da sholat maghrib. Para orang tua dan santriwati saling bertemu disebuah aula besar pondok tersebut. Bahkan tak jarang dari mereka yang hanya bisa murung menunggu datangnya kedua orang terkasih datang.


Sebut saja Faridah, gadis asal bengkulu tersebut sangat muram di sudut ruangan aula hanya bertemankan Al-Qur'an saja. Tangan dan bibirnya tak pernah lepas dari benda suci tersebut dan melantunkannya berulang kali, tapi satu yang nampak berbeda darinya.

__ADS_1


Dari sekian banyaknya para santri, yang duduk berdampingan dengan kedua orang tua hanya dia seorang yang tak mendapatkan kunjungan saat itu. Jangankan untuk mengunjungi Faridah setiap bulannya dipondok, bahkan untuk mencukupi ke tiga adik dan ibunya saja terkadang kurang disana.


Ayah Faridah hanyalah seorang buruh kuli kasar serabutan selama ini, bahkan ketiga adik Faridah terpaksa tak bersekolah karena kurangnya biaya. Tapi begitu beruntung Faridah yang dapat menimba ilmu dipondok pesantren tersebut tanpa harus membayarnya sedikitpun.


Flashback Faridah .


"Tapi, sebelumnya saya minta maaf pak yai. Mungkin nantinya saya akan terlambat membayar setiap uang sekolah anak saya ini."


Tutur ayah Faridah dengan penuh suka cita setelah mendengar jika Faridah dapat masuk ke pondok itu tanpa perlu membayar uang pendaftaran terlebih dahulu. Berulang kali ayahnya mengucapkan rasa terimakasih pada Mumtaz dengan berlinang air mata.


"Saya hanya kuli serabutan dirumah yai, jadi pendapatan saya tak menentu." imbuhnya.


Mumtaz yang memiliki hati yang begitu lembut bahkan terkenal paling perhatian pada setiap anak didiknya satu persatu , begitu terenyuh mendengar cerita ayah Faridah.


Ia juga adalah seorang ayah, jadi Mumtaz dapat merasakan apa yang tengah di rasakan olehnya.


*


*


*


Faridah yang mendapati sang kyai segera mengusap bersih air matanya sampai dengan kering. Tapi masih terdengar sisa tangis di suaranya yang gemetar, saat menjawab Mumtaz.


"Jangan bersedih, ingatlah jika ayah dan ibumu dirumah begitu bahagia karena kamu bisa menjadi anak kebanggaannya nantinya. inshaAllah aamiin." tuturnya mencoba membesarkan hati Faridah.


"Nah, ini juga ada titipan yang tadi sore ayah mu kirimkan untukmu nak. Bukalah ..." terangnya.


Dulu Mumtaz juga seorang santri yang juga jauh dari kedua orang tuanya. Mumtaz kecil juga pernah dalam berada dalam posisi Faridah saat itu, tak kala pekan bertemu dengan orang tua selalu ia lewati sendirian berdiam diri dikamar dengan melantunkan hafalan hingga tertidur.


Mumtaz tak pernah mengeluh, apalagi hingga menaruh rasa iri dihatinya kepada semua temannya. Ia bahkan menjadikan hal itu sebagai motivasi untuk supaya lebih baik lagi menjadi seorang santri berkualitas. Dan berkat kegigihannya, Mumtaz di nobatkan sebagai santri terbaik pada masanya. Ia pun beberapa kali menyabet beberapa medali juara dalam bidangnya.

__ADS_1


*


*


*


Faridah menerima kotak coklat yang berisikan camilan, beserta baju baru dan perlengkapan lainnya dengan hati yang riang. Meski tak dapat dipungkiri jika hati kecilnya begitu merindukan keluarga dirumah.


"Alhamdulillah ..." seru Mumtaz mengiringi senyum Faridah yang sumringah.


"Enggeh yai, alhamdulilah." ujarnya.


Karena merasa Faridah telah mendapatkan semangat dan senyumnya kembali, Mumtaz pun berkeliling disepanjang aula tersebut sembari menyapa setiap para orang tua disana.


Setalah berjalan melewati padatnya para santri dan orang tua masing-masing, kini langkah kaki Mumtaz kembali terhenti pada anak tangga ke tiga paling atas. Matanya tertuju pada Khadijah yang sedari tadi hanya sibuk memandangi ponselnya dan melamun sendirian juga.


"Assalamu'alaikum ..."


Khadijah yang kaget seketika berdiri.


"yai, wa'alaikumsalam..."


"Kenapa nak, apa orang tuamu tak berkunjung pekan ini?" tanyanya.


Dengan wajah menunduk, Khadijah mencoba mengatur nafasnya dengan baik.


"Mungkin papa sibuk yai." sahutnya kembali tersenyum dengan senyum palsu di bibirnya.


Tapi bukan Mumtaz namanya jika tak mengetahui jika Khadijah tengah menutupi sesuatu. Ia pun melakukan hal yang sama pada Khadijah seperti apa yang ia terapkan pada Faridah.


"Dalam sesi ini, kau bisa menelponya selama mungkin yang kau mau nak. Maka dengan itu inshaAllah rasa rindumu akan terobati juga."

__ADS_1


Tapi belum lagi Khadijah melanjutkan obrolannya, tiba-tiba saja ia mencengkram perutnya dengan kuat. Ia merasakan kram begitu hebatnya hingga membuat ia tak bisa menahan tubuhnya dengan seimbang. Seketika ia pun ambruk dihadapan Mumtaz.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2