Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Jawaban Instan


__ADS_3

Setelah cukup lama semua orang menahan emosinya masing-masing dan hanya terpaku menatap kesal Nambiya dan juga Furqon. Terdengar kembali suara mesin mobil yang baru saja dimatikan tepat didepan halaman rumah juga.


Bahkan kini derap langkah beberapa orang juga tengah berjalan menuju pintu rumah tersebut .


"Assalamualaikum." ucap Mumtaz yang tengah berpakaian rapi khusus untuk Al.


Karena merasa kenal dengan suara tersebut, Fatimah kemudian berdiri dan menyambut tamu rumahnya diluar.


"Waalaikum-salam." Sambut Fatimah dengan suara terbata karena terkejut.


"Yai , Al ..." sambungnya dengan mengangkat kedua tangannya sebagai salam.


"Maafkan kedatangan kami , jika terkesan mendadak bu Fatimah." Jelas Mumtaz mewakili Al.


Sedangkan pemuda tersebut nampak begitu tersipu malu sejak tadi tanpa bersuara sedikitpun .


Flashback Al.


"InshaAllah Al sudah mantap kali ini."


Pemuda itu nampak mengutarakan segala isi hatinya didepan sang ayah penuh dengan keyakinan.


"Alhamdulillah jika Al sudah yakin dengan semaunya. " imbuh Mumtaz mendukung segala niat baik sang putra.

__ADS_1


*


*


*


"Mari, maaf silahkan masuk. Maaf sekali jika rumahnya terlalu sempit yai..." ujar Fatimah dengan malu.


"MasyaAllah..." sahut Mumtaz dengan senyuman.


Saat ini Al beserta Mumtaz begitu juga beberapa pengurus pondok telah sampai didalam rumah Rahman. Kali ini bukan hanya pihak Rahman saja yang dibuat terkejut dengan kehadiran Al dan rombongan, terlebih lagi Khadijah. Bahkan Furqon dan Nambiya tak kala terkejutnya.


Wanita itu nampak meremas pundak sang anak dengan menatap kesal rombongan Al.


"Ada apa ini rame-rame! " seru Nambiya yang telah membuka kata terlebih dahulu, seharusnya keluarga Rahman lah yang lebih berhak menanyakan hal tersebut.


"Maafkan jika kedatangan kemari terkesan mendadak semua, tapi disini saya sebagai orang tua pihak laki-laki ingin menyampaikan..." tutur Mumtaz yang seketika dihentikan begitu saja oleh Furqon .


Karena mungkin lelaki itu telah mengetahui segalanya disana, termasuk kedatangan Al dan juga rombongan. Furqon berjalan dengan menepikan tubuh sang ibu yang tengah berdiri dihadapanya.


"Maaf, anda terlambat jika baru datang hari ini. Karena kami baru saja melamar putri bapak Rahman tersebut. Jadi ada baiknya anda segera pergi dari sini dengan semua orang orangan ini."


Mumtaz sangat terkejut dengan penjelasan Furqon, namun ia tak ingin langsung mengambil kesimpulan secara sepihak. Berbeda dengan Bilal yang sejak tadi mungkin rasanya sudah tak sabar ingin memberikan bogem mentah pada mantan teman kerjanya tersebut.

__ADS_1


Tapi berulang kali aksinya dihentikan oleh Abizar .


Namun wajah yang jauh berbeda ditunjukan oleh bayi kecil menggemaskan tersebut, reaksi wajahnya seketika berubah saat mendapati kehadiran Al disana. Dia terlihat begitu ceria dan sejak tadi menyunggingkan senyum termanisnya disana.


"Mohon maaf, silahkan duduk dulu yai. Mari semua duduk dulu." pinta Fatimah menetralkan suasana.


"Bagaimana dengan sikapmu ini , kita lebih dulu datang kemari meminang anak mu tapi tamu lain juga kau dipersilahkan duduk disini dengan tujuan sama!" protes Nambiya .


"Maaf sekali, yai beserta rombongan juga tamu saya disini..." pungkas Fatimah singkat.


"Disini saya mewakili suami saya sebagai kepala rumah tangga untuk menyambut semua yang telah hadir, saya ucapkan banyak terimakasih. Tapi sungguh saya tidak ingin memberikan kekecewaan sedikitpun pada pihak manapun, karena yang akan menjawab niat baik kalian semua adalah putri saya Khadijah."


Fatimah memberikan anggukan pada Khadijah yang sejak tadi telah menggendong boy seorang diri dibalik Abizar. Ia berjalan dengan gugup namun penuh dengan ketegasan yang tersirat di wajahnya.


"Tentu pastinya dia akan memilihku!" Furqon beranjak dari duduknya sambil terus memperlihatkan kesombongan dirinya dihadapan keluarga Al.


Seolah ingin menyambut kehadiran Khadijah disana, ia sudah mengulurkan tangan untuk menyambut wanita yang tengah lama ia impikan . Tapi malang, sambutan tanganya diabaikan begitu saja oleh putri Rahman tersebut dan ia hanya memilih duduk sambil menenangkan boy yang sejak tadi tengah tak sabar ingin meraih Al dari kejauhan.


"Sayang sebentar ya , kita duduk disini dulu." Jelas Khadijah yang berusaha menenangkan boy sejak tadi.


...BERSAMBUNG ...


...----------------...

__ADS_1


...💛...



__ADS_2