
Kehidupan setelah pernikahan.
Setelah resmi menyandang status sebagai nyonya Al, kini Khadijah hidup bahagia bersama sang putra. Sungguh sosok suami idaman bagi semua wanita, apalagi juga sebagai seorang ayah Al begitu berperan baik dan penting selama tumbuh kembang Ata.
...Putranya kini telah tumbuh menjelma menjadi pemuda tampan....
Atalarik Ghifary.
Pesonanya tentu akan mampu memikat hati wanita manapun yang melihatnya, terlebih lagi pemuda tampan tersebut masih memilih menyendiri hingga sampai saat ini.
Jejak sang ayah ia ikuti dengan baik, hingga ia didapuk menjadi lulusan terbaik di kampusnya. Jalur kedokteran ia pilih karena sejak kecil telah terbiasa mengikuti kesaharian Al dalam menangani pasien.
Ata kecil bahkan telah terbiasa dengan semua peralatan dokter saat usianya masih 4 tahun .
*
*
*
"Ibu, do'akan Ata hari ini agar semuanya lancar." ucapnya pada sang ibu yang tengah berada didalam dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
Hal itu selalu ia lakukan pada sang ibu, sebelum ia melakukan tindakan operasi dirumah sakit. Baginya, do'a ibulah yang terpenting hingga sampai saat ini. Dan semua itu tentu berkat didikan Al.
__ADS_1
"Do'a ibu akan selalu bersamamu sayang!" sambung Khadijah dengan memberikan kecupan kasih sayangnya pada sang putra.
"Ayah do'akan Al juga ya!" Ujarnya pada Al dengan satu kepalan tangan yang menyatu satu dengan yang lain. Hal seperti itu sudah lama mereka terapkan, dan cukup jitu dikala Ata tengah terpuruk oleh keadaan yang begitu berat. Hanya cukup dengan mengulurkan tangan , Al mampu membuat rasa percaya diri sang anak kembali dengan sempurna.
Flashback Ata.
Sewaktu ia masih duduk di bangku sekolah dasar , Ata sering kali mendapati ejekan dari beberapa teman kelasnya hingga berlarut-larut. Kala itu hingga membuat Ata cukup tertekan dengan kondisi yang ada, hingga ia tak ingin lagi melanjutkan sekolah.
Dalam kesunyian malam, Al mencoba masuk kedalam kamar Ata yang sejak pagi tengah mogok makan dan mengunci diri didalam kamar .
"Sayang kemarilah,"
"Jagoan ayah ini sudah tumbuh besar nak, coba lihat Al sudah sangat besar dan sebentar lagi akan menggantikan posisi ayah menjaga ibu." Bujuk Al.
Ia menuntun putranya tersebut tepat dihadapan sebuah cermin didalam kamarnya .
"Nah , mulai dari sekarang. Iya sekarang, Ata harus bisa memimpin diri Ata sendiri untuk terus jauh melangkah ke depan. Jangan mau di pimpin oleh keadaan nak, kitalah yang akan mengendalikan keadaan itu dengan baik. Bukan malah keadaan yang memimpin kita!"
Semua ucapan Al yang begitu terdengar sulit baginya, ternyata mampu merasuk dan meresap ke jiwa Ata saat itu.
"Kemarikan tangan Ata, jika tengah bersedih dan hampir putus asa ingatlah satu salam persahabatan ini dari ayah nak. Yang nantinya selalu akan Ata ingat hingga sampai kapanpun."
"Tos ..." serunya dengan bersamaan .
*
__ADS_1
*
*
"Baiklah sarapan untuk ke dua jagoan ibu sudah siap ..." Ujar Khadijah dengan lembut sembari menyiapkan bekal lengkap bagi Al dan juga sang putra.
Itu selalu ia lakukan disetiap pagi, setelah keduanya usai melakukan sarapan pagi bersama. Khadijah tak ingin jika keduanya harus sampai susah payah mencari makan jika jam makan siang telah tiba.
"Kau memang istri terbaik, aku berangkat." serunya dengan mengecup kening sang istri dan Khadijah meraih tangan Al untuk memberikan sebuah salam.
Pemandangan indah yang selalu Ata saksikan jika dirinya hendak pergi bertugas dengan sang ayah, bahkan ia berangan jika kelak sang istri akan memiliki sikap yang sama persis dengan sang ibu.
"Hei, ayo kita jalan..." jelas Al yang tengah membuyarkan lamunan Ata kepada keduanya.
"Kau melamun kan seorang gadis?" ejek Al seraya menepuk punggung Ata.
Anak lelakinya itu makin tersipu malu saat sang ayah terus meledaknya tanpa henti.
"Ata hanya ingin kelak jika berumah tangga akan sama persis seperti ibu dan ayah." imbuhnya.
*
*
*
__ADS_1
Jangan sampai lupa mampir di next cerita yah guys, ππβ€β€β€