
Tak ada lagi kisah pertemanan diantara mereka yang terjalin dengan baik saat ini. Bahkan mereka memandang satu dengan yang lain selayaknya musuh bebuyutan.
Melihat Furqon yang sudah meringis kesakitan dan sesekali mengusap darah segar mengalir di sela bibirnya, para temannya sama sekali tak menggubrisnya. Bahkan mereka benar-benar terkesan acuh hari itu.
"Cepat pergilah, jangan membuat onar didalam sini ..." seru seorang petugas.
Furqon bangkit dan segera pergi dari hadapan teman-temannya yang sudah terasa asing baginya.
Hari yang begitu pelik itu ia lewati dengan hati yang masih gusar, bahkan sepanjang hari Furqon terlihat hanya diam meskipun segerombolan teman satu sel nya telah berbuat ulah.
Bahkan mereka tak segan menumpahkan nampan jatah makanan milik Furqon . Seluruh makanan yang hendak ia nikmati tengah berserak dilantai dengan berhamburan. Wajah sedihnya hanya menatap semua makanan itu dengan lemas, bahkan terlihat tangannya mengutip satu persatu nasi yang sudah tertumpah tanpa sisa.
"Cepat bersihkan, jangan seperti bocah makan saja kau tak becus!" ujar petugas kembali memperingati dirinya.
Masih dengan sikap yang sama, Furqon bahkan terkesan acuh tanpa memberikan respon apapun.
Dibalik kesedihannya, ke dua orang tua Furqon yang telah menunjuk seorang pengacara untuknya datang untuk menemui dirinya.
"Keluarlah, ada yang ingin bertemu denganmu!" ajak seorang petugas padanya.
*
*
*
Keduanya memang tak pernah bertemu apalagi bertegur sapa sebelumnya.
"Mas Furqon?" sapa seorang pria dengan setelan kemeja yang begitu rapi.
"Ya, saya. Anda siapa?"
"Perkenalkan nama saya Sandy, pengacara yang akan mendampingi mas Furqon selama masalah ini berjalan." jelasnya .
__ADS_1
"Aku tak ingin dibantu oleh siapapun!" tolaknya yang berdiri seketika dan hendak meninggalkan Sandy .
Pengacara itu sangat terkejut dengan sikap tertutup Furqon sebagai seorang tersangka yang masih belum tentu benar tuduhan yang dilayangkan pada dirinya. Semua penjelasan satu arah itu ia dapati dari kedua orang tua Furqon dikala Sandy bertemu untuk pertama kalinya.
Flashback Sandy .
"Tolong bebaskan anak saya, Furqon adalah pemuda pendiam. Jadi dia pasti telah dijebak oleh gadis itu!" jelas Nambiya umi selaku umi Furqon .
Mendapati penjelasan Nambiya, Sandy begitu yakin jika kliennya tersebut akan dengan mudah terbebas dari jerat hukum yang saat ini membelenggunya.
*
*
*
"Tapi, anda belum tentu bersalah dalam hal ini mas!" imbuh Sandy yang mencoba menghentikan langkah Furqon sebelum terlanjur menjauh.
Furqon menghentikan langkah kakinya sambil menengok kembali ke arah Sandy dan berkata "Aku akan menjalani semua ini sendirian!"
"Baiklah, aku akan memperjuangkan dirimu..." ucap Sandy dengan pedenya seraya menatap punggung Furqon yang sudah menghilang dari hadapannya.
Saat itu sidang pertama Furqon telah ditetapkan oleh pihak kepolisian dan akan berlangsung esok hari.
Malam itu terasa begitu cepat berlalu, Furqon hanya bisa membayangkan bagaimana tegangnya perjalanan sidang esok hari bersama dengan teman lainnya yang akan dipertemukan untuk pertama kali oleh Khadijah.
Sementara dikediaman Rahman telah mempersiapkan diri untuk sidang esok hari, begitu terasa ketar ketir sejak tadi. Rumah itu nampak senyap setelah mendapatkan surat persidangan yang akan berjalan esok oleh Khadijah.
Al pun memutuskan untuk menemani Khadijah selama persidangan berlangsung esok.
*
*
__ADS_1
*
Keesokan harinya, Khadijah beserta seluruh keluarganya sudah bersiap untuk mengikuti jalannya persidangan.
Ke enamnya sudah sangat terlihat siap dan berada dalam ruangan yang masih belum di datangi oleh pihak terduga tersangka.
Para hakim pun memasuki ruangan dan telah duduk pada posisinya masing-masing.
Setelah kedatangan para hakim , kini bergantian untuk para terduga tersangka yang berjalan memasuki ruangan sidang. Kelimanya berjalan serempak dengan baju senada dan dalam posisi tangan terborgol.
Terdengar ketukan palu hakim ketika jalanya sidang mulai berlangsung.
Baik tim pengacara Khadijah ataupun Furqon telah bersiap dimejanya masing-masing dengan membawa pembelaan kepada masing-masing kliennya hari itu.
Setelah penyampaian alasan keberatan dari kubu Khadijah, kini tiba saatnya tim pengacara Furqon melakukan pembelaanya.
"Tidak yang mulia, kami sangat keberatan sekali dengan penyampaian saudari Arab atas tuduhan tanpa adanya sebuah bukti yang cukup kuat!" elak Sandy terhadap tim pengacara Khadijah.
Arab adalah pengacara dari kubu Khadijah, ia pun tak kan gentar sedikitpun atas kasus yang dirinya bela kali ini. Meskipun memang benar, tidak ada cukup bukti digital dalam kasus ini. Tapi Arab telah menyiapkan satu orang saksi yang akan menguatkan keyakinannya terhadap hakim .
"Ijinkan saudara saksi untuk memberikan kesaksiannya disini yang mulia ..." pinta Arab dengan segala kerendahan hatinya.
Dan saksi itu telah berjalan disana dengan penuh keyakinan.
Yah, dia adalah Bilal. Hari itu memang Furqon telah menyatakan pengakuannya dihadapan Bilal.
"Keberatan yang mulia, saksi adalah kerabat dekat terduga korban. Jadi pasti akan memberikan keterangan yang akan memberatkan terduga tersangka." elak Sandy dengan dalihnya ketika melihat Bilal mulai duduk dihadapan hakim .
Melihat penolakan Sandy, hakim tidak mengambil keputusan sepihak dan tetap akan mendengarkan kesaksian dari Bilal.
"Silahkan saksi untuk memberikan kesaksiannya disini."
"Baik yang mulia, hari itu saya secara tidak sengaja bertemu dengan terduga tersangka. Dan dengan jelas jika saya mendengar ucapannya bersama dengan satu temannya yang lain jika ia telah melakukan tindak asusila itu . Karena hari itu saya merasa begitu curiga, saya lantas mendekatinya lebih dekat untuk mendapatkan kebenarannya disana. Saya mendesak terduga tersangka agar mengakui siapa nama gadis yang telah ia nodai pada hari itu. Karena menurut sepengetahuan saya, mereka menyebutkan ciri-ciri gadis tersebut sama persis dengan adik saya."
__ADS_1
"Dan secara mengejutkan, ia mengakui segalanya disana tanpa secara terpaksa dan dalam kondisi sadar sesadarnya."
...BERSAMBUNG ...