Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Aku untuknya


__ADS_3

Rahang Al mulai mengetat dan wajahnya berubah menjadi lebih garang , sebuah pemandangan yang tak pernah terjadi sebelumnya ketika Al berdebat dengan siapapun.


Tapi hari itu, hatinya benar-benar perih dan terluka akibat semua ucapan Florentina yang tidak berdasar pada bukti. Apakah semua itu hanya perasaan manusiawi belaka, atau sebaliknya.


"Tolong aku sangat minta tolong padamu untuk menghentikan drama ini semua ..." pinta Al dengan menarik lengan Florentina.


"Ah!" Pekik Flo dengan mencoba melepaskan tangan Al yang memegangnya begitu erat.


Bahkan Al sendiri tak sadar jika perbuatannya itu dapat melukai Florentina disana.


"Sakit...!" protes Flo dengan wajah mengernyit menahan rasa ngilu.


Melihat sang putri dalam keadaan tersudut sendirian, Tanoe mulai mendekat dan mencoba mengajaknya pergi dari sana.


"Mari kita pulang!" ajak Tanoe yang sudah tidak tahan dengan semua keadaan yang terjadi.


"Tidak pa!"


"Al harus memilih dulu, siapa yang akan dia pilih kali ini. Aku atau dia,"


"Wanita kotor itu!" ucapnya dengan nada menggerutu namun masih jelas dapat didengar oleh Al.


Al menghirup nafasnya semakin kuat dan dalam, dengan tangan mengepal di ujung keduanya. Dia rupanya sudah tak kuat lagi mendengarkan segala caci maki Florentina untuk Khadijah.


"Jawab Al !" teriak Flo sekali lagi menggema begitu kencang di sepanjang lorong dan memancing perhatian beberapa mata orang disana.

__ADS_1


"Baiklah baik ."


"Aku memilihnya, yah Khadijah Rahman!"


"Apa kau puas!"


Satu jawaban yang tidak pernah Florentina sangka maupun sang ayah. Tapi nyatanya jawaban itu mampu membungkam mulut pedas Flo yang sejak tadi sudah terlalu panjang lebar seperti layaknya jalanan kereta api.


Masih dengan ekspresi wajah datar dan kaku , Florentina sepertinya merasakan kekalahan begitu telak dihadapan semua orang. Terlebih lagi dihadapan keluarga Khadijah.


"PLAKK!" tamparan yang cukup keras, bahkan mampu membuat wajah Al hingga menoleh ke arah lain.


"Cukup kau hina Flo kali ini, aku takkan pernah mengampuni dirimu Al. Tadinya aku mengira bahwa pendidikan mu setara dengan putriku. Namun ternyata kalian berbeda sangat jauh, yah kalian tidak akan pernah setara!" umpat Tanoe dengan kesal dan menggelandang tangan putrinya untuk segera pergi dari sana dengan kecewa dan malu teramat dalam.


Florentina hanya mampu menahan tangisnya dibalik telapak tanganya sepanjang jalan.


Tanoe begitu benar-benar dibutakan oleh rasa sayang pada sang anak, hingga dengan segala cara apapun ia halalkan demi membela sang putri.


"Ayah bangga padamu nak, dapat menentukan sikap terbaik mu." ujar Mumtaz yang kali ini baru bersuara.


Mumtaz memeluk erat sang putra dengan bangga.


"Sebelumnya saya beserta suami saya benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya dalam hal ini nak Al. Terlebih lagi pada yai, sungguh tolong maafkan kami!"


Ujar Fatimah dengan air mata berlinang penuh penyesalan karena semua masalah itu harus terjadi karena Khadijah.

__ADS_1


"Saya hanya mendukung apapun yang menjadi keputusan Al bu, selebihnya saya anggap semua itu ujian dari Allah SWT." jelas Mumtaz.


Ucapan Ayah Al rupanya tidak cukup untuk menghentikan isak tangisnya yang sudah berlarut disana.


Melihat seorang wanita bahkan seorang ibu tengah menangis sejadi-jadinya, Al tidak dapat menahan rasa hatinya untuk tidak menghiburnya. Ia melangkah lebih dekat kepada Fatimah dan mulai memegang tangan halus ibu dari Khadijah tersebut.


"Ibu , lihatlah Al. Tatap kedua mata Al ini dalam-dalam. Apakah ada sebuah kesedihan ataupun penyesalan disana , hingga membuat mu harus menangis seperti ini?"


"Ta-pi..." sambung Fatimah terbata-bata, sambil sesekali menahan air matanya menggunakan tanganya .


"Tidak bu tidak, jangan biarkan Al semakin merasa berdosa jauh lebih lama padamu. Berhentilah menangis! " pinta Al dengan lembut.


Kini ia pun berjalan untuk mengarahkan tangan Fatimah pada Rahman yang masih duduk di kursi roda, kini tangan keduanya ia satukan dalam satu genggaman.


Semua masih nampak kebingungan atas hal yang dilakukan oleh Al disana.


"Bu , pak tolong ijinkan Al untuk berbicara serius kepada kalian berdua kali ini." imbuhnya sambil duduk bersimpuh dihadapan Rahman.


"Hari ini dihadapan ayah Al dan juga kalian, Al ingin menyampaikan niat baik ini pada Khadijah. Bolehkah Al meminangnya sebagai istri Al?"


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...Mampir kesini ya!...

__ADS_1



__ADS_2