Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Aku ingin pulang


__ADS_3

Khadijah benar-benar tak mengingat lagi tengah dengan siapa kali ini dirinya berada. Bahkan gadis tersebut tak sadar tentang semua ucapanya. Al yang sejak tadi memandangi dirinya pun , kini beralih fokus kembali untuk mengemudikan mobilnya.


*


*


*


Setibanya dirumah, dengan wajah yang masih cemas dan berdebar Khadijah membunyikan bel rumahnya berulang kali mengenakan jentiknya.


Sementara Al sudah siap berdiri dibelakangnya.


"Iya ..." suara Fatimah dari dalam rumah sambil berjalan ke arah pintu.


"Ceklek."


"Sayang ?"


Wajahnya begitu terkejut ketika sang putri sudah tiba dihadapannya tanpa kedua kakak lelakinya. Masih dengan wajah yang kebingungan, Al tiba-tiba saja muncul dari balik punggung Khadijah yang sejak tadi menunduk . Saat itu wajahnya tak nampak jelas karena masih tertutup oleh Khadijah.


"Dokter Al ?" sahut Fatimah kembali masih dengan rasa heran yang tiada hentinya.


"Bagaimana mungkin anak yai pemilik pondok tersebut, dapat menyetujui sikap santriwatinya yang ingin kabur dari sana." gumam Fatimah.


"Masuk masuk silahkan." ajaknya yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Papa mana ma ..." suara Khadijah sudah mulai bergetar tatkala menanyakan keberadaan sang papa.


"Sebentar ." terang Fatimah .


Ia lantas menuju kamarnya untuk menjemput Rahman suaminya. Tidak lama kemudian, keduanya kini tengah berjalan keluar dari dalam kamar. Nampak Fatimah mendorong tubuh Rahman yang sudah berada diatas kursi roda.


"Papa ..." Khadijah setengah berteriak dan berlari ke arah Rahman dan Fatimah yang masih berjarak beberapa langkah lagi disana.


Putrinya tersebut menangis terisak-isak kala melihat kondisinya yang seperti itu, bahkan Al pun tak menyangka jika Rahman bisa mengalami hal sedemikian rupa. Karena terakhir kali perjumpaan keduanya, Rahman begitu sangat sehat dan bugar.


Al berjalan dan memberikan salam pada Rahman, papa Khadijah tersebut hanya menganggukkan kepalanya ketika membalas salam dari Al.


"Dokter hari ini tidak praktik?" tanya Fatimah.


Mendengar ucapan sang ibu, Khadijah tiba-tiba membalikkan wajahnya pada Al dan memberikan sebuah kode untuk membantunya berbohong. Al pun spontan melihat reaksi putri dari Rahman tersebut yang tangan mengerlingkan matanya.


"Ah ... anu ." elak Al dengan terbata-bata , tapi bibirnya tak mampu untuk berbohong.


Dengan cepat Khadijah menyambar pertanyaan Fatimah " Dia hari ini cuti ma."


Fatimah tak heran lagi dengan tingkah sang putri , ia merasa bahwa Al kini berada dalam tekanan Khadijah. Bisa dibilang, Al melakukan semua itu dengan begitu terpaksa.


*


*

__ADS_1


*


Setelah puas menumpahkan semua tangisnya diatas pangkuan sang papa, kini ia beralih untuk membujuk Rahman agar diperbolehkan tinggal dirumah saja.


"Pa, Khadijah nggak mau lagi balik ke pondok ..." jelasnya dengan kedua jari telunjuk yang dimainkan saling menempel satu sama lain.


Rahman mengupayakan untuk menulisnya dikertas dengan susah payah.


"Harus balik." tulis Rahman yang tak lupa menyematkan sebuah emot senyum kecil di akhir kalimatnya.


Tak berhasil membujuk sang papa, kini Khadijah beralih pada sang mama dengan tatapan sendu dan memelasnya.


"Ma ..."


Belum selesai ia melanjutkan protesnya, jari Fatimah sudah terangkat disana dengan penolakan.


"Gimana nih, nggak ada yang dukung Khadijah sedikitpun." rengeknya sambil terus memelintir ujung bajunya.


Wajahnya begitu kesal tatkala permintaannya tak dipenuhi. Al hanya tertawa sejak tadi melihat tingkah lucu Khadijah yang tak pernah ia dapati sebelumnya.


"Dokter, mari silahkan diminum ..." seru Fatimah yang sudah menghidangkan minuman dan sebuah camilan untuk Al.


"Maafkan Khadijah ya, jika sudah membuat repot dokter dan yai disana." tuturnya.


"Tidak, sama sekali tidak merepotkan."


*


*


*


Pukul 5 sore, disebuah tempat penginapan polisi kini meringkus teman Furqon yang telah tega melancarkan aksi bejatnya pada Khadijah.


"Angkat tangan kalian ..." teriak petugas kepolisian ketika hendak meringkusnya.


Polisi harus menggunakan satu tembakan ke udara untuk memperingati satu diantara mereka yang hendak ingin kabur dari kejaran para anggota kepolisian. Bahkan didalam kamar itu, polisi juga menemukan beberapa barang bukti senjata tajam ilegal milik mereka.


Keempatnya kini berhasil diringkus dan dibawah menuju tahanan untuk dimintai keterangan. Satu diantara mereka harus berjalan dengan terpincang-pincang karena akibat luka tembakan petugas kepolisian.


Setelah semua masuk kedalam mobil, petugas pun meluncur dan membawa ke empatnya untuk dimasukkan didalam sel tahanan.


Mereka pun telah berganti pakaian khas seorang tahanan pada umumnya.


"Pak , saya tidak mau disini tolong lepaskan saya!" rengek seorang di antara mereka.


"Enak aja nggak mau, kalau nggak mau jangan bertindak bodoh!" cela petugas yang hendak meninggalkan ke empatnya disana.


Keempatnya saat itu tak berada dalam satu sel bersama dengan Furqon. Tapi sel miliknya hanya berjarak satu sel dengan milik Furqon .


"Ini semua pasti Furqon yang membuka mulut ."

__ADS_1


"SIAL ... " teriaknya begitu kencang dan melengking.


Sedangkan dalam sel nya, Furqon yang merasa mengenali suara pemuda itu dengan cepat bangkit untuk mengecek keadaan disekitar sel. Dan benar saja, hanya dalam hitungan detik ia mampu menemukan keberadaan ke empat temannya tersebut.


"Itu Furqon!" teriak Faisal salah seorang dari mereka .


Mereka semua menatap Furqon penuh dengan kekesalan, tak ada lagi rasa segan seperti layaknya seorang teman ataupun sahabat. Tatapan mata keempatnya bahkan penuh kebencian.


Furqon menunduk sedih ketika melihat wajah dari semua temannya tak lagi bersimpati kepada dirinya.


*


*


*


Setelah penangkapan ke empatnya, saat itu jam telah menunjukkan untuk di mulainya pembinaan bagi para tahanan disana. Dan seperti biasa, para tahanan akan dikeluarkan untuk mengikuti binaan seperti biasanya.


Furqon berjalan dengan para napi lainnya dengan wajah tertunduk. Tapi langkahnya terhenti ketika teriakan Faisal melengking memanggil namanya.


"Furqon, cepat kemari ..." teriaknya dibalik jeruji besi. Saat itu keempatnya memang sengaja tidak di ikutkan untuk pembinaan, karena masih termasuk tahanan baru.


Pemuda tersebut dengan santainya menghampiri ke empatnya dengan tidak menyematkan rasa curiga sedikitpun disana.


"Iya." sahut Furqon yang jaraknya begitu dekat dengan Faisal.


Tanpa ia sadari bahwa kehadirannya saat itu justru akan mengundang masalah. Dengan cepat faisal menarik ujung kerah baju Furqon dengan kuat, alhasil tubuhnya tertarik


"Dakk." bagian kepalanya terbentur di balik jeruji.


"Argh..." teriaknya kesakitan.


Faisal seolah sudah sangat menunggu pertemuan itu dengan tidak baik. ..


"Kenapa mulutmu tidak bisa dijaga hah!" teriaknya dengan kedua bola mata yang hampir saja lepas karena begitu marahnya ia disana.


"Maafkan aku ..."


"Tapi yakinlah, jika kita tidak akan lama disini ..." jelasnya tanpa rasa gentar sedikitpun.


"SIALAN!" cela Faisal dengan menghantam wajahnya bertubi-tubi meski tengah berada dalam sel.


Keramaian kelimanya pun mengundang perhatian para petugas disana dan berlarian ke arah mereka untuk menghentikan aksinya.


"Hentikan hentikan ..." teriaknya.


Mereka masih tetap asyik melakukan pemukulan terhadap Furqon meskipun harus dari balik jeruji besi.


*


*

__ADS_1


*


...BERSAMBUNG...


__ADS_2