Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Terkejut


__ADS_3

"Mas Al ini kenapa toh!"


Masih dengan rasa panik Komariyah lantas bangkit dari duduknya untuk membantu Al yang tak bisa meredakan batuknya.


"Air air ..." teriak Komariyah .


Sang penjual nasi tersebut malah membawakan air untuk mencuci tangan dalam baskom kecil.


"Iki piye to, kobok an yang dibawa!"


"Air minum tambah lagi ..." protes Komariyah terhadap sang penjual yang telah salah menerima ucapanya.


"Kenapa nggak bilang toh mbak mbak ..." penjual pecel lele tersebut memprotes balik Komariyah dengan tak kalah paniknya.


Setelah meminum cukup banyak air putih, suara batuk Al sudah semakin mereda bahkan ia dapat mengatur kembali nafasnya yang sempat sengal.


Dengan mengangkat satu tangannya, Al mencoba memberi isyarat berhenti pada Komariyah yang sejak tadi menepuk bagian punggungnya.


"Oh, sudah toh."


"Aku yang ke enakan nepuk sampai nggak berhenti-henti." ujar Komariyah dengan genitnya sambil tersipu malu dibalik hijab yang ia tutupkan ke wajahnya.


"Sudah mbak, lanjut saja makanya." pinta Al dengan ramah.


Tapi tak cukup berhenti sampai disitu, Komariyah seakan ingin memastikan Khadijah yang tengah berlari ke arah toilet segera kembali dan tak membuat ulah kemari.


"Aku tak jemput dia dulu mas, tunggu ya." terangnya.


Setelah tiba didepan toilet, Komariyah yang hendak mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu tersebut. Tiba-tiba saja terhenti pada pemandangan kecil dibalik cela pintu toilet tersebut.


"Haaaaaaah!" ucapnya dengan ekspresi terkejut.


Karena takut Khadijah mendengarnya, ia lantas membungkam mulutnya dengan erat. Dirinya pun lantas memutuskan untuk mengurungkan niatnya menjemput Khadijah.


Dengan wajah gugup, Komariyah melanjutkan sisa makanan miliknya bersama dengan Al. Ia sadar, apa yang barusan telah ia lakukan adalah hal yang salah.


*


*


*


"Maaf semua, lama menunggu." terang Khadijah yang kembali duduk bersama.


Melihat kehadiran Khadijah, Komariyah bertambah kesal dan memasukkan suapan nasi dengan cepat kedalam mulutnya.


"Pelan mbak, nanti tersedak." tutur Khadijah.

__ADS_1


Wajahnya semakin sewot tak kala Khadijah dengan berani menegurnya seperti itu.


"Udah keselek dari tadi akunya!"


"Mas, lagian wanita kayak dia kok bisa si diterima sama yai !"


"Apa emang yai belum tahu aja sebenarnya!"


"Nanti aku akan lapor sama yai saja sendiri ."


Omel Komariyah dengan jawabannya sendiri.


Sejenak Al dan Khadijah begitu terheran dengan sikap ketus Komariyah .


Kini ketiganya telah selesai menyantap makanan malam itu, hanya tersisa Khadijah yang nampak menyisakan satu potong bebek diatas piringnya.


"Mas bungkus ini, mubazir tenan sama anak ini ..." pinta Komariyah.


Selama berada dalam perjalanan, Komariyah sama sekali tak mengeluarkan satu patah katapun dibandingkan keberangkatannya tadi. Ia lebih banyak diam dan sekali lagi menatap Khadijah penuh kebencian.


"Brakk."


Suara pintu mobil yang tak sengaja ditutup dengan kasar oleh Komariyah yang terlebih dulu turun dibandingkan Al dan Khadijah. Ia pun berjalan dengan tergesa-gesa untuk menjumpai Mumtaz malam hari itu.


"Tok tok tok."


Mumtaz yang masih melantunkan ayat suci dimalam hari, dengan segera berdiri dan membukakan pintu rumahnya.


"Ada apa Komar..."


"Hari sudah malam, apa tidak bisa ditunda esok pagi ?" tanyanya.


Suara Komariyah terdengar bergetar dan seakan menahan tangis begitu hebat.


"Hei, ada apa. Istighfar!" perintahnya.


"Huuuu huuuu ..." tangis Komariyah.


"Anu pak yai, mas Al ." jelasnya tak berkelanjutan hingga membuat Mumtaz pun kebingungan.


"Ada apa dengannya?"


"Mas Al, ada hubungan apa dengan wanita itu yai. Kenapa dia hamil, terus kenapa dia dekat sekali dengan ayang beb ku ..."


Mumtaz hanya bisa berucap istighfar disana sambil terus menghela nafasnya sepanjang mungkin.


"Komar, Komar. Tak ada ikatan apapun diantara kalian berdua, jangan seperti itu. Nggak dapat pahala malah nambah dosa jadinya." imbuhnya lembut.

__ADS_1


"Gadis itu memang hamil, memang kenapa?"


Mendengar jawaban Mumtaz tangisan Komariyah semakin menjadi disana. Karena ia takut jika itu adalah anak Al.


"Ya Allah mas Al ku..."


"Bisa-bisanya berbuat seperti itu, padahal pengen ku cuman sama aku aja lo." protesnya dibalik suara tangisnya yang tak kalah heboh.


"Apa maksudmu!"


"Sudah-sudah diamlah, tidak enak jika yang lain sampai mendengar tangisanmu ini."


"Yai gimana toh, anaknya berbuat maksiat malah didukung..." imbuh Komariyah kesal.


"Astaghfirullah ..."


"Cepat ambil wudhu dan tenangkan pikiranmu!"


Mumtaz tak mengiyakan ataupun membantah ucapan Komariyah, ia justru menyuruh gadis itu untuk segera pergi mengistirahatkan pikiran buruknya.


Setelah tak mendapati apa yang menjadi keinginannya, di pertengahan jalan Komariyah yang tak sengaja berpapasan kembali dengan Al dan Khadijah pun dengan sengaja menabrak punggung bagian kanan Khadijah dengan keras hingga membuat gadis itu hampir saja terjatuh.


"Ah ..." teriak Khadijah dengan tubuh yang sudah hendak terjatuh.


Beruntung, Al dengan siaga menangkapnya dengan cepat sebelum tubuhnya tersungkur ke lantai.


"Mas Al iiih ..." api cemburu semakin besar bergejolak di hati Komariyah.


*


*


*


Setelah sekian beberapa detik kemudian. "Uhuk!" Mumtaz mencoba menyadarkan keduanya dengan suaranya.


"Astaghfirullah , maafkan saya."


"Saya tidak bermaksud apapun!"


"Hanya ingin menolong saja."


Jelas Al dengan segera melepaskan kedua tangannya yang telah menopang tubuh Khadijah.


"Saya yang minta maaf ya mas." seru Khadijah yang kembali membenarkan hijabnya dengan baik.


Dan ia pun segera berlalu dari hadapan Al dan ayahnya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2