
"Pa ..."
"Papa dan mama tahu, hal itu Khadijah telah hindari sejak dulu. Lantas kenapa sekarang ada pemikiran itu lagi." protesnya sambil terus menghentakkan kakinya berulang kali.
"Begini saja ,dicoba dulu . Kalau dirasa memang tidak baik atau nyaman buat Khadijah disana pulang saja lagi kesini sayang." tutur Fatimah memberikan usulan.
"Nah, papa setuju kali ini dengan mama." sambar Rahman .
"Kahdijah harus tahu, bukan karena kami tak sayang dengan kamu nak. Tapi jika Khadijah memilih untuk sekedar kos atau tinggal sendirian jauh dari kami, itu akan membuat beban lebih besar untuk kami nak. Ada baiknya jika dipondok nanti, disana Khadijah bisa bersosialisasi dengan banyak orang baru. "
Rahman memberikan nasehatnya panjang lebar pada sang putri.
"Tapi pa, hal itu nanti akan membuat aib berikutnya untuk kalian bukan!" ucap Khadijah yang masih belum sadar kemana dirinya akan dibawa .
"Tidak, papa sudah punya pondok terbaik untuk Khadijah nantinya. Dan pondok itu bukan berasal dari kolega terdekat kita sayang." jelasnya lebih lanjut.
Mendengar ucapan papanya, otak Khadijah mulai berkeliling tak menentu. Bagaimana mungkin ia akan tinggal disebuah pondok lain, yang minim dengan fasilitas. Seorang Khadijah mana bisa tinggal di area yang begitu jauh dengan kota.
"Pondok itu jauh dari kota?" tanyanya lirih, bagaikan tengah tercekik lehernya.
Rahman dan Fatimah mengangguk dengan bersamaan.
"Desa?" Khadijah memperjelas maksudnya.
Ia hanya melihat senyum yang begitu lebar di kedua bibir orang tuanya yang menandakan arti iya.
"Nak, yakinlah bahwa apa yang terkadang kita anggap buruk belum tentu selamanya buruk kan."
"Lagi pula, disana udaranya sejuk jauh dari polusi. Bukankah Khadijah suka dengan alam?"
"Kalau untuk perlengkapan lainnya, nanti akan selalu kita kirimkan nak." rayu Rahman berulang kali.
Khadijah memang gadis yang suka menyatu dengan alam, tak jarang ia pun sering melakukan camping bersama dengan dua orang kakaknya jika tengah berlibur panjang.
"Baiklah, Khadijah mau. Tapi ada syaratnya pa, tolong jangan paksa Khadijah pakai jilbab tertutup rapat benar-benar nggak bisa rasanya!" protesnya sambil menutupi wajahnya karena telah membayangkan bagaimana transformasi akan dirinya setelah berhijrah disana.
Baginya, keutamaan seorang muslimah dari berhijab bukanlah sekedar tentang menutup aurat. Apalagi pemikiran itu timbul jika mereka menutup diri dengan baik karena menarik garis keluarganya yang memilih jalan dakwah di agamanya, sama sekali salah.
Khadijah selalu menganggap orang berhijab itu mempunyai beban besar yang harus siap mereka pikul, mulai dari perilaku ucapan perbuatan dan terlebih lagi ibadah. Karena semua itu belum benar-benar ada dalam dirinya.
*
__ADS_1
*
*
Hari berikutnya.
Karena telah menyepakati hal ini dengan kedua orang tuanya, Khadijah pun disegerakan untuk berangkat menuju pondok milik orang tua dokter Al.
Hari itu semua tampak ikut mengantarkan Khadijah secara kompak.
"Ingat, sering-sering kasih kabar ke kami nantinya." tutur Bilal dengan celotehnya.
"Pasti nanti dia akan berkirim kabar pada kita, hanya saja itu kan terbatas. Tak ada penggunaan ponsel selama dipondok nanti, hanya jatah telepon dan berkunjung oleh keluarga saja yang biasa diadakan sebulan sekali." imbuh Rahman yang duduk bersama dikursi depan bersama Abizar.
"Tak ada ponsel!" gumam Khadijah lirih, diiringi wajahnya yang semakin pucat.
Kelimanya kini telah sampai dipondok yang sudah sangat terkenal dan memiliki nama besar dikawasan itu, bahkan setiap orang pengguna jalan selalu menunjukkan pondok yai Mumtaz kepada mereka ketika bertanya.
Pemandangan setempat begitu syahdu dilihat, terdapat hamparan sawah dan sebuah air terjun yang langsung bisa dilihat dari samping masjid pondok itu.
"Wah keren!" seru Bilal terperangah menatap keindahan tempat tersebut.
Sedangkan Khadijah yang masih enggan untuk turun, belum menatap secara langsung view tersebut.
"Ih, abang ni. Paling suka emang kalau lihat aku tersiksa!" omelnya dengan wajah cemberut.
Dan disaat ia mendengar suara gemericik air, Khadijah mulai mengangkat kepalanya untuk mencari dari mana sumber bunyi air tersebut berasal. Matanya terkesima ketika dapat menangkap pemandangan indah yang terpampang dihadapannya dengan indahnya.
Mereka lantas berjalan memasuki area pondok untuk menjumpai seorang pengurus pondok yang sebelumnya sudah dihubungi oleh Rahman.
Masih berkeliling disekitar kawasan pondok untuk mencari tahu keberadaan Yudho, kelimanya bahkan tak sungkan untuk bertanya kepada para santri dan santriwati penghuni pondok setempat.
"Maaf, ruangan pak Yudho dimana ya?" tanya Bilal ramah.
Bukanya langsung menjawab, gadis itu malah sibuk menatap Bilal dari ujung rambut hingga kaki. Bahkan ia tak dapat berbohong jika pesona Bilal juga menggoda kedua matanya.
"Mbak halo..." tegas Bilal sembari menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Wanita itu malah dengan asyik mengikuti gerakannya kesana kemari.
"Mbak, gimana si ada yang tanya tuh!" sahut santriwati lainnya dengan menepuk pundak Komariyah. Berbeda dengan Komariyah, gadis itu terlihat menunduk dan tidak memandang langsung mata Bilal ketika berpapasan.
__ADS_1
"Eh iya, anu apa tadi ?" tanyanya berulang.
"Ruangan pak Yudho!" imbuhnya dengan sabar dan lebih perlahan. Bilal berpikir bahwa Komariyah tidak dapat mengartikan bahasanya dengan baik .
"Oh, pak Yudho. Ngomong to mas dari tadi, miss Riyah kan ora connecting!" ucapnya dengan bahasa yang terdengar asing bagi Bilal.
Pemuda itu hanya membalas ucapan Komariyah dengan sebuah cengiran disana.
"Ayo mari, aku kasih tau ." ajaknya dengan menuntun tangan Bilal.
"Mbak, maaf bukannya nggak boleh seperti ini ya. Ini kan kawasan pondok ." jelas Bilal mempertegas kerisihanya.
Seketika Komariyah menurunkan tangannya dan tersipu malu, sementara Bilal yang masih bingung dengan sikap aneh gadis tersebut terus mengikutinya.
"Pak Yudho, pak lek ..." teriaknya melengking.
"Astaghfirullah ada apa ini Komar ..." sahut Yudho yang baru saja beranjak dari dalam.
"Ehem, Miss Riyah pak lek." tegasnya sambil berdehem.
"Mas nya calon santri baru?" tanya Yudho .
Kebetulan hari ini ia pun menunggu kedatangan salah satu calon santri dari bali.
"Eh bukan saya pak, tapi adik saya ." jelas Bilal sambil menunjuk ke arah keluarga mereka yang kini berjalan menghampirinya.
Lantas Komariyah yang sudah sangat tak sabar menginginkan hal itu terjadi, dengan seksama mengikuti kemana arah jari Bilal menunjuk.
"Waaahh itu juga ganteng banget loh!" gumamnya dengan wajah menganga .
"Assalamu'alaikum ..." sapa Rahman sambil menjabat tangan Yudho.
"Wa'alaikumsalam , wa'alaikumsalam." sahut Komariyah sambil menyibak tubuh Yudho dan berdiri tepat dihadapan Abizar.
Gadis yang super lincah itu seketika mematung disana dengan tatapan mata tanpa berkedip.
"Pak Rahman?" tanya Yudho dengan tebakannya, seolah tak menghiraukan sikap Komariyah yang memang seperti itu adanya.
"Yah benar pak, saya ingin mengantarkan putri saya untuk masuk ke pondok ini." terang Rahman.
Seketika hati dan harapan Komariyah hancur mendapati ucapan Rahman. Karena dia telah menginginkan dua orang pemuda tampan itulah yang akan masuk sebagai santri baru.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...