Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Tiba waktunya


__ADS_3

Senja sudah meninggalkan sore dan kini hari semakin petang. Adzan maghribpun telah berkumandang dengan merdunya disana, Khadijah juga sudah bersiap untuk mengikuti sholat berjamaah di surau.


Ia benar-benar mengikuti perkataan yang telah tertulis diselembar kertas tersebut dengan baik, dengan mengenakan selendang putih tipis untuk menutup kepalanya tepatnya dibagian rambut begitu cantik ia hari itu berjalan di sepanjang lorong dan tertimpa cahaya lampu remang.


Al pun begitu terkesima ketika dirinya juga hendak ingin memasuki surau sambil membuka salah satu kancing lengan bajunya dan mulai menggulungnya naik ke atas.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam..." suara keduanya saling bersautan di depan surau tersebut dengan tatap mata Al yang masih saja terjebak dalam pemandangan begitu indah disana.


"Al ..." sambung sang ayah yang menepuk punggungnya lirih.


"MasyaAllah, ayah." ujar Al dengan mengusap dadanya berulang.


"Astaghfirullah Al." Mumtaz mengingatkan sambil tersenyum ramah.


"Mari kita sholat, seusai sholat ayah ingin bicara penting sama kamu nak!" ajak Mumtaz, keduanya pun sholat berjamaah dengan seluruh para santri disana.


*


*

__ADS_1


*


Selepas Sholat.


Saat keduanya hendak berjalan bersama, Mumtaz masih memperhatikan betul jika sikap sang putra masih begitu gelisah dengan sesekali menaikan kepalanya sambil terus memutarnya ke arah berlawanan.


"Al cari siapa nak?" tanya Mumtaz yang sebenarnya sudah mengetahui kemana arah jalan pikiran Al.


"Eh, enggak kok ayah. Mari kita balik ke rumah dan berbincang." Sambung Al yang segera menurunkan pandangannya sambil terus mencari-cari keberadaan sandal miliknya diantara banyaknya pasang sandal lainnya.


Setelah sampai di depan teras rumah, keduanya memutuskan untuk duduk sejenak di kursi sambil berbincang ringan.


"Al, apa kamu menyetujui pernikahan yang diminta oleh pak Tanoe?"


"Al ikuti saja apa yang terbaik menurut ayah selagi itu memang baik." terangnya dengan tak menatap mata Mumtaz.


Sebenarnya Mumtaz sangat mengetahui jika hal ini akan sulit bagi sang putra, tapi ia sendiri juga telah memutuskan bahwa semua akan terjadi sesuai dengan keinginan Al bukan pada keinginan hatinya.


"Ayah tidak akan pernah memaksa Al dalam urusan ini, apalagi ini menyangkut perasaan dan masa depan Al dikemudian hari. Ayah selama ini hanya mengarahkan saja pada yang baik nak, tapi kembali lagi semua keputusan itu ayah kembalikan pada Al yang akan menjalani semuanya." tutur Mumtaz sambil mengakat sebuah teh panas yang selalu siap di teras meja untuknya.


Belum selesai Al memberi jawaban padanya, sudah terdengar suara riuh dan gemuruh para teriakan santriwati di ujung tempat pengambilan makan sore.

__ADS_1


Terlihat segerombolan santri membentuk lingkaran seolah mengepung dua orang didalamnya saat itu , pihak yang bertentangan dengan hal itu hanya mampu menjauh tanpa melerai. Sementara mereka yang begitu mendukung aksi buruk itu ikut bersorak ramai untuk mengadu keduanya.


"Sudah ku bilang kau perempuan paling najis, jadi jangan sok paling cantik disini !"


"Lihat perutmu itu, bukankah sudah sangat mencerminkan siapa dirimu. Apa orang tuamu tak tahu malu sehingga memasukkan dirimu kemari !"


"Bodoh!" umpat kesal seorang santriwati yang begitu tidak menyukai keberadaan Khadijah.


Bahkan kali ini ia bertindak lebih brutal dan jauh dari kata sopan. Tubuh Khadijah didorong sekuat tenaga sampai tersungkur ke lantai dan sebelum akhirnya tersungkur tubuhnya menghantam sebuah meja kayu yang berukuran tebal. Perutnya terkena ujung meja dan langsung terkulai lemah dengan jeritan kesakitan sambil terus memegangi perutnya.


Semua terlihat panik ketika aliran darah segar mulai melintas di kedua selang kangan Khadijah, ia seperti tak bisa menahanya lagi sambil terus mengerang kesakitan.


Gadis yang begitu arogan itu nampak tak perduli dengan kesakitan Khadijah disana, ia kembali mengangkat dagu Khadijah dengan cepat dan ingin menarik kembali tubuh Khadijah hingga terbangun. Semua itu ia lakukan karena rasa sakit hatinya pada Khadijah yang sudah merebut perhatian Al.


Tapi kali ini tindakan nekat berikutnya dapat dihentikan oleh Al seketika, ia tak dapat berkutik dan teramat malu ketika aksi kejinya itu harus diketahui oleh Al.


Sedangkan Mumtaz yang masih menunggu jawaban sang anak, juga beranjak mengikutinya dari belakang seraya mengucapkan "Kini ayah tahu siapa sebenarnya gadis yang sudah mampu merebut hatimu. "


...BERSAMBUNG ...


...----------------...

__ADS_1


...Mampir kesini juga ya!...



__ADS_2