Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Kebenaran


__ADS_3

"Tolong hentikan semua ini, alangkah baiknya jika menyikapi semuanya dengan kepala dingin." lerai Al yang sejak tadi hanya menjadi pemerhati keduanya dari kejauhan.


Al sadar jika dia bukanlah bagian dari kedua belah pihak keluarga tersebut, tapi sebagai rasa kemanusiaan diantara sesama hati nurani Al merasa terpanggil untuk menghentikan pertikaian tersebut.


Sesaat setelah Al berbicara, Furqon kembali digelandang oleh petugas untuk berlalu dari hadapan keluarga Khadijah. Sama sekali tak ada kesempatan lagi bagi Furqon untuk memperbaiki kesalahannya yang telah fatal.


*


*


*


Setelah mengikuti jalannya persidangan, kini seluruh keluarga Khadijah termasuk juga Al segera pulang kembali ke rumah Rahman. Setibanya dirumah, mereka semua nampak berjalan masuk kedalam rumah tapi tidak dengan Al yang masih tetap berdiri tepat disamping mobilnya.


"Kenapa disana Al, ayo masuk." ajak Abizar yang tak lagi sungkan dengannya lagi tapi lebih pada rasa segan.


"Terimakasih, tapi maaf saya tidak bisa lebih lama lagi disini. Harus cepat-cepat balik lagi ke rumah sakit. "


"Oh iya, pasti pasien kamu juga sudah menunggu kamu disana." sahut Abizar yang juga memalingkan wajahnya pada Khadijah yang sejak tadi sudah sangat tak berselera kembali lagi ke pondok.


Al pun tidak meminta Khadijah untuk kembali bersama dengan dirinya disana, ia lebih memberikan kebebasan bagi gadis tersebut untuk menentukan pilihannya sendiri. Dan karena saat itu tak ada lagi jawaban dari Khadijah, Al segera memutuskan untuk memacu mobilnya segera pergi ke rumah sakit.


"Dok, tolong cepatlah pasien sudah kehabisan banyak cairan disini." ujar seorang perawat yang tengah menghubungi dirinya dari saluran telepon.

__ADS_1


Al tak menjawab apapun kecuali hanya fokus pada jalanan sekitar, agar sampai tepat pada waktunya. Sesekali wajah cemasnya menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


Mulutnya terlihat terus bertasbih meminta agar diberikan kelancaran pertolongan dari sang pemilik alam semesta.


Benar saja, dirinya tiba lebih awal dibandingkan prediksinya saat itu. Kedatangannya benar-benar telah ditunggu oleh dua pasang nyawa yang tengah bertaruh di meja operasi.


Dengan wajah gugup tapi langkah yang begitu pasti, Al segera mendekati meja tersebut dan mulai melakukan tindakan tersebut dengan penuh kehatian.


Hari itu Al harus mengupayakan agar ibu dan bayi nya terselamatkan dengan baik.


Setelah sekian jam berlangsung, ruangan yang tadinya begitu hening bahkan sempat terasa menegangkan kini berubah pecah dengan suara tangis haru.


Al dan timnya baru saja mampu menyelamatkan ibu dan bayinya dari masa kritis. Meskipun sesaat bayi itu terlahir dengan keadaan membiru dan tak ada respon yang berarti.


Tangisan bayi itupun mampu membuat kesadaran ibunya yang tengah melemah kembali normal. Sebuah keajaiban yang tidak pernah ia duga bahkan seluruh orang diruang operasi hari itu.


Tangis haru pun tak dapat terbendung oleh ayah sang bayi yang tiba-tiba saja memeluk Al diruang operasi.


Al pun tak dapat menyembunyikan rasa harunya dalam tindakan medis kali ini, bahkan dirinya juga tak membayangkan jika berada dalam posisi suami dari wanita tersebut. Sesaat ia pun mengingat kembali wajah Khadijah dalam lamunanya.


"Papa ..." bayangan suara anak kecil yang datang dengan tiba-tiba saja melintas dibenaknya membuyarkan seluruh lamunanya seketika.


"Astaghfirullah ..." serunya sambil mengusap seluruh wajahnya.

__ADS_1


"Ada apa kamu ini Al, dia bukan mukhrimu!" bentaknya pada dirinya sendiri.


Kian hari, bayangan Khadijah merasuki pikirannya perlahan namun pasti.


*


*


*


"Tidak ma, Khadijah tidak mau lagi kembali ke pondok itu!" teriak Khadijah dengan suara tangisan bergetar di seluruh rumah.


Setelah melakukan perdebatan yang cukup alot dengan sang mama, Khadijah benar-benar sulit untuk dibujuk dengan halus. Pertemuannya dengan Furqon selama jalannya persidangan benar-benar membuat Khadijah kembali resah.


Bahkan gadis itu dalam tekanan bayang-bayang Furqon yang ingin mengambil paksa anaknya nanti jika kelak terlahir ke dunia.


"Tidak , aku tidak akan menyerahkannya pada lelaki brengsek itu!"


"TIDAKK!" teriak Khadijah histeris.


Wajahnya begitu berantakan, bahkan sebagian rambutnya terlihat kusut karena Khadijah tengah mengacak-acak seluruh tubuhnya tanpa terkendali disana.


Mendengar teriakan putri semata wayangnya tepat didepan pintu kamar, tak terasa air mata Rahman kembali menetes membasahi pipinya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2