Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Isu


__ADS_3

"Cepat tolong bawa dia ke kamarnya." perintah Mumtaz .


Beberapa orang santriwati senior membopong tubuh Khadijah beriringan disana. Kini ia pun dibaringkan ditempat tidurnya sambil menunggu kedatangan Al untuk memeriksanya lebih lanjut.


Tapi semua tak usai begitu saja disana, seorang santriwati senior yang bernama Sukmawati yang memiliki umur tak jauh berbeda dengan Komariyah begitu terkejut tatkala mendapati ujung tangannya menyentuh bagian perut Khadijah.


Gadis itu sepertinya sangat kaget dengan apa yang ia dapati disana, dari bibirnya seakan tak percaya dan berucap istighfar banyak-banyak.


Dengan perasaan ragu sekaligus tak percaya, Sukma menutup pintu Khadijah perlahan.


"Ada apa mbak?" tanya santriwati lainnya yang sejak tadi menunggui dirinya didepan pintu.


"Apa dia sudah bersuami sepengetahuan kalian?" tanya Sukma pada teman Khadijah yang kamarnya tepat berada disamping kamarnya.


"Tidak, dia masih gadis mbak." sahutnya.


"Tapi perut itu ..."


"Kalau memang benar, kenapa dia diterima disini ?"


Dengan perasaan bimbang dan juga terkesan kesal , ia memprotes kebijakan Mumtaz menerima murid seperti Khadijah.


"Perutnya kenapa si mbak, kembung ya?" tanya santriwati itu dengan polosnya.


"Alaaah, kamu masih kecil. Bukan waktunya bahas ini ."


"Lihat mbak Komar nggak?" lanjutnya dengan mencari-cari keberadaan Komariyah.


Keduanya memang sering akrab berjalan bersama, hingga tak jarang keduanya diminta Mumtaz untuk mengurus para santriwati disana. Sukma dan Komariyah pun sering menghabiskan waktu bersama untuk menggibah sepanjang waktu disela waktunya.


"Mbak Komar ..." teriaknya dari jauh, ia telah mendapati Komariyah di tengah-tengah lautan orang tua yang sudah tak sabar bertemu dengan anaknya diaula.

__ADS_1


"Mulutmu itu loh, Komar Komar . Miss Riyah you no!" celanya dengan bahasa asing yang masih dibawah rata-rata.


"Duh, ra penting!" tolaknya .


"Mbak, mbak. Anak kota itu hamil ya!" celetuk Sukma yang berbisik ke arah Komariyah.


Dengan wajah terkejut dan juga heran, Komariyah hanya bisa menanggapi ocehan Sukma dengan diam.


"Kata pak yai, aku nggak boleh loh bilang-bilang. Tapi ini anak kenapa tau ya, apa jangan-jangan pak yai sendiri yang sudah kasih pengumuman kalau Dijah hamil." gumamnya .


Dengan segala pertimbangan ia pun memutuskan untuk melanjutkan gibahnya bersama dengan Sukma.


"Baru tahu kamu, gak up to date!" ejeknya dengan wajah menjengkelkannya.


"Halah, situ baru tahu juga kan?" celetuk Sukma yang tak mau kalah dari Komariyah.


"Yaelah, sini kan pacarnya beb Al. Hal receh kayak begitu mah pasti sudah tahu lebih dulu aku dari pada kamu!" ujarnya sombong.


"Eh, beraninya kamu ya. Belum pernah tak timpuk sama sendok kayu raksasa ini?"


Keduanya malah saling adu argumen untuk mendapatkan kedudukan dihati Al.


*


*


*


Setelah cukup lama bertengkar, kini keduanya dilerai oleh beberapa santriwati yang ada disana.


"Awas kamu ya, berani deketin ayang beb ku!" bentak Komariyah dengan kondisi hijab yang sudah begitu berantakan dibuat oleh Sukma.

__ADS_1


"Huuuu!" teriak balik Sukma dengan tak kalah kerasnya.


"Ada apa ini ribut-ribut, malu dengan para orang tua santri disana..." sapa Mumtaz pada keduanya.


Dengan cepat baik Sukma maupun Komariyah membenarkan seluruh pakaiannya yang sudah acakadul dibuat oleh keduanya.


"Maaf yai ..." tutur keduanya beriringan.


*


*


*


Al yang baru saja tiba dipondok malam itu, segera bergegas untuk menghampiri Khadijah dikamar. Ia ditemani oleh kepala dapur pondok tersebut, yang biasanya disapa akrab dengan bi Ema .


"Apa sudah sejak tadi dia begini bi?" tanya Al.


"Bi Ema kurang tau mas Al." jelasnya dengan wajah ragu.


Setelah memeriksa Khadijah cukup lama, Al mendapati bahwa Khadijah begitu kekurangan cairan dan mengakibatkan lemah pada tubuhnya.


Dengan cepat ia meminta asistennya untuk membawakan sebuah cairan infus beserta dengan alatnya ke pondok dengan segera.


Ia tak ingin jika Khadijah mengalami hal buruk lebih jauh, terlebih lagi janinnya.


Setelah menunggu, kini infus itu telah terpasang ditangan Khadijah yang masih saja tertidur sejak tadi.


Masih berada dalam ruangan yang sama, baik bi Ema ataupun Al telah menunggui dirinya dengan telaten sampai sadar.


**BERSAMBUNG**

__ADS_1


__ADS_2