
Perkataan Al membuat Khadijah seketika menciut saat mendengar nama Mumtaz disebut. Ia merasa tak enak hati karena sudah sesuka hatinya meninggalkan pondok dengan semaunya.
"Gimana kabar abah nak Al?" sahut Fatimah lirih.
"Baik alhamdulillah, abah juga salam buat ibu dan bapak." terangnya.
"Ah, iya. Ibu juga ingin sampaikan rasa maaf yang teramat dalam untuk abah ya, karena sampai dengan saat ini Khadijah sama sekali belum mau untuk kembali kesana. Ibu jadi tak enak hati."
"Karena Khadijah benar-benar sudah merepotkan semuanya .
Khadijah dengan cepat menyambar Fatimah sebelum ia semakin tersudut seorang diri disana.
"Mama ..." rengeknya dengan wajah cemberut.
"Khadijah kan cuman mau liburan sebentar aja, masih kangen juga sama papa!" serunya sambil memeluk Rahman sembari meminta dukungan.
Rahman menyambut tangan Khadijah dengan penuh kelembutan. Sementara Fatimah hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat ulah sang putri.
*
*
*
Setelah lama berbincang-bincang, Fatimah mengajak Al untuk makan siang bersama. Karena kebetulan hari itu ia telah menyiapkan menu masakan cukup banyak. Yah, kebetulan hari itu adalah hari kelahiran Bilal.
"Nah itu dia yang umurnya makin tua sudah datang!" celetuk Khadijah yang sudah tak tahan menyantap seluruh hidangan didepanya.
Bilal dan Abizar yang baru saja datang memberikan salam kepada kedua orang tuanya, beserta juga Al.
__ADS_1
"Nah sudah lengkap, ayo kita segera makan bersama." terang Fatimah yang menghidangkan masakannya satu per satu di atas piring masing-masing.
"Tunggu jangan dimakan dulu !" ujar Khadijah yang mengejutkan semuanya dengan teriakanya.
Semua lantas menurunkan semua sendok beserta garpunya disana. Dan mengalihkan pandangannya memusat pada Khadijah.
"Make a wish dulu baru makan..." imbuhnya dengan wajah riang gembira.
"Eh iya, kira-kira di usia setua ini mau minta apa ya?" Seru Bilal sambil memainkan sendok di atas kepalanya.
Meski ketiganya sudah memiliki usia yang begitu dewasa, tak membuat mereka berhenti bersikap layaknya anak kecil jika berkumpul bersama.
"Baiklah sudah diputuskan, harapan ditahun ini semoga adik perempuan tersayangku menemukan seorang pendamping hidup yang dapat menerima dirinya dengan segala kekurangannya. Terlebih dalam menjaga dan mengasihinya, semoga mendapatkan yang terbaik."
Tutur Bilal dalam harapannya ditahun ini, tak terasa semua orang yang ada di meja makan turut mengaminkan do'anya. Tetapi pemandangan berbeda justru ditunjukkan oleh Khadijah disana, ia terlihat tak dapat membendung air matanya dikala mendengar harapan Bilal di tuturkan.
"Eh menangis pula!" ejek Bilal yang juga menghampiri dirinya untuk memberikan pelukan kasih sayang.
"Cup cup!" seru Bilal kembali memberikan celotehnya pada Khadijah.
Tanpa mereka sadari Abizar pun juga turut memberikan ejekan pada sang adik dengan wajah datarnya.
"Semoga saja lelaki itu seperti dokter Al ..." jelasnya dengan memasukkan suapan berikutnya ke dalam mulut.
"Uhukk!"
Al terkejut bukan main ketika Abizar memberikan pendapatnya. Tapi bukan malah meredakan batuk Al, Bilal yang berada di seberang meja lainnya juga turut mendukung Abizar.
"Hah, betul itu." terang Bilal dengan anggukan.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama Khadijah dengan cepat menginjak kaki Bilal yang berdiri tepat disebelahnya.
"Aw!"
"Ih, sikapnya yang manis kenapa!" imbuhnya dengan merintih kesakitan.
"Maaf bawaan orok!" Oceh Khadijah dengan singkat.
Saat itu makan siang disana berlangsung cukup sederhana, meski sejatinya itu adalah hari perayaan ulang tahun Bilal. Tak ada kemeriahan seperti tukar kado dan sebagainya, Fatimah setiap tahunnya cukup membuatkan ke tiga anaknya dengan sebuah nasi kuning.
*
*
*
"Assalamualaikum..."
Teriak seorang wanita yang tengah berada didepan teras rumah Fatimah.
"Sudah ma, biar Khadijah saja yang akan bukakan pintu. Mama lanjutkan makannya." seru Khadijah yang segera bangkit dari duduknya.
"Waalaikumsalam. " jawab Khadijah dengan membukakan pintu selebar mungkin.
Ternyata ibu-ibu tersebut adalah sekelompok ibu-ibu pengajian komplek yang berada dalam naungan Fatimah. Mereka rutin melakukan hal itu disetiap hari jum'at.
"Astaghfirullah..." ucap salah seorang wanita yang terkejut menatap perut buncit Khadijah.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1