Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Tepat pada waktunya


__ADS_3

Dengan tubuh setengah terseok, Furqon kembali duduk disudut ruangan itu sambil meratapi nasibnya yang kian hari semakin memprihatinkan.


*


*


*


Hari itu, pagi begitu dingin di imbangi desiran angin lirih setelah rintiknya hujan.


Khadijah juga mulai terbangun dan sadar, masih tetap setia Al menjaganya sepanjang malam bergantian dengan seorang perawat.


Nampak ia menyadarkan sebagian tubuhnya disebuah kursi lipat dikejauhan. Pemuda itu terlihat begitu letih, hingga di atas kursi pun dapat memejamkan kedua matanya dengan baik.


"Mas Al?" gumam Khadijah.


Ia seolah tak percaya jika pemuda itu akan berjaga menemani dirinya sepanjang malam. Kini ia pun terbangun dan berjalan sambil membawa cairan infus yang masih tertempel ditangannya.


Begitu lirih ia berjalan, hingga Al pun tak dapat mendengar hentakkan kakinya berjalan.


Tapi, tiba-tiba saja suara gemiricik air dari dalam kamar mandi membuat Al terbangun dari tidurnya.


Dan ketika Al mendapati Khadijah telah usai keluar dari dalam kamar mandi, wajahnya seketika panik dan salah tingkah dibuatnya.


"Kenapa pergi sendiri, aku bisa panggilkan suster didepan untuk membantumu tadi ..." terangnya dengan gugup.


Bahkan Al tak dapat menutupi wajah kantuknya dari hadapan Khadijah.


"Tidak perlu mas , aku bisa lakukan sendiri." imbuh Khadijah.


Ia pun kembali untuk naik ke atas ranjangnya dengan cara duduk perlahan ditepi.


"Mas ..." panggilnya sembari membelakangi Al.


"Iya." sahut Al sigap dengan berdiri.

__ADS_1


"Apakah dia baik-baik saja disana?" tanya Khadijah lirih sambil terus mengusap perutnya .


Al yang sudah memperhatikan gerak tubuh Khadijah sedari tadi, mengetahui jika apa yang ditanyakan oleh gadis tersebut adalah mengenai keadaan calon bayinya.


"Baik, dia tumbuh dengan bagus!" tegas Al dengan tegas.


"Yang perlu diperhatikan hanya ibunya saja." imbuh Al.


Mendapati ucapan Al, seketika Khadijah menghentikan gerakan tangannya dan mengernyitkan kedua bulu alisnya.


"Jangan salah paham, yang aku maksud disini adalah keadaan sang ibu. Tidak boleh terlalu stres , harus rileks."


"Karena apa yang dirasakan sang ibu, bisa tersalurkan nantinya pada si kecil. Kalau mood kamu kurang bagus, ataupun perasaan kamu sedih bahkan. Dia bisa menangkap sinyal itu dengan cepat." jelas Al dengan perlahan.


Khadijah yang sudah berprasangka buruk pada Al, berangsur menghilangkan perasaannya tersebut dan mulai mengerti apa arti dari kehamilan yang sesungguhnya.


Wajar, karena ini adalah pengalaman pertamanya sebagai seorang ibu muda. Apalagi terlebih tanpa seorang suami yang menemani.


*


*


*


Itu adalah Abizar dan Bilal, keduanya sengaja datang bersamaan karena telah di utus oleh Rahman.


"Selamat pagi ..." sambut Al dengan segera bangun dan menyambut tangan keduanya untuk saling berjabat.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu." pungkas Al yang kemudian berlalu dari hadapan keduanya.


"Cie cie, perhatian banget dia sama kamu!" ejek Bilal tepat di samping adik perempuannya.


Tapi, gadis itu tak lagi mengembangkan tawa di pipinya. Ia terlihat begitu sedih kala melihat kedua kakaknya datang tanpa papa dan mamanya.


"Murung gitu, kenapa sih?" hibur Bilal sambil mengangkat kepala Khadijah.

__ADS_1


"Mana papa sama mama ..." sahutnya dengan bibir bergetar menahan tangis.


Kedua kakaknya saling berpandangan disana dan telah menyiapkan segala kemungkinan buruk pada sang adik.


"Papa, dirumah lagi sakit ." terang Abizar dengan menghentikan ucapannya yang masih menggantung.


Mendengar kata sakit, Khadijah sontak mengangkat kepalanya kembali dan memperhatikan betul setiap perkataan yang keluar dari bibir kakaknya.


"Serangan jantung dan stroke." jelasnya dengan menatap Khadijah .


Seolah ingin memberikan kekuatan, Abizar lantas memegangi kedua pundak Khadijah dan berkata "Tenanglah semua akan baik-baik saja!"


*


*


*


"Pasti ada sebabnya jika papa sampai seperti itu bukan?"


"Jelaskan!" sentaknya seakan tak menerima keadaan sang papa.


Khadijah memang dikenal begitu dekat dengan sang papa, terlebih lagi dia adalah putri tunggal Rahman. Dirinya begitu disayang dan dijaga betul oleh papa dan kedua kakak lelakinya.


Tentu ini adalah hal yang berat bagi ke dua kakaknya untuk mengungkap kebenarannya disana.


"Papa ..."


Ucapnya terhenti sejenak.


"Pa-pa sudah mengetahui siapa pelaku keji itu !" terang Abizar menyambung kembali perkataannya.


Sontak tangan Khadijah meremas begitu erat sudut ranjang dan begitu jelas tergurat amarahnya disana.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2