Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Terguncang kembali


__ADS_3

Sudah tepat satu pekan lamanya Khadijah tak pernah kembali berkirim kabar pada pondok pesantren yang telah Rahman pilihkan untuknya.


Kamar yang dulunya ditempati oleh Khadijah pun terlihat kosong tanpa penghuni, tak ada satupun dari mereka ataupun pengurus pondok yang berani untuk masuk kedalam kamar itu.


Karena sesuai ketentuan, Khadijah masih tetap menjadi santriwati disana selama belum adanya pemutusan dari kedua belah pihak.


"Assalamualaikum, Al coba silaturahmi pada keluarga pak Rahman karena sudah satu pekan lamanya anak itu tidak kembali lagi ke pondok. Khawatir jika terjadi yang tidak-tidak."


Mumtaz memutuskan untuk mengirim Al untuk mengunjungi keluarga Rahman dan bertanya kabar tentang Khadijah.


"Waalaikumsalam, baik." Al segera mengiyakan permintaan sang ayah. Dan mengakhiri panggilan keduanya disana.


Sejak sidang perdana Khadijah saat itu, Al memang tengah memutuskan untuk tidak pulang ke rumah sementara waktu karena tengah melayani begitu banyak pasien dirumah sakit.


Siang itu, ketika jam istirahat Al memutuskan untuk berkunjung ke rumah Rahman dengan membawakan sedikit buah tangan. Tapi ketika ia hendak memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Rahman Al mendapati mobil lain selain milik Rahman juga terparkir didepan sana.


Tapi, Al masih berpikir jika itu mungkin adalah mobil Abizar ataupun Bilal. Ia memutuskan untuk segera turun dan membawa beberapa buah tangan di tangannya.


*

__ADS_1


*


*


"Tolong bebaskan putra kami ..."


"Tolong!" seru suara seorang wanita setengah baya yang tengah melakukan negosiasi pada kedua orang tua Khadijah.


Al yang hendak melangkah masuk ke dalam seketika menghentikan langkah kakinya dan terpaku diteras rumah.


"Ijinkan juga dia menikahi putri anda, bagaimana mungkin sekelas pendakwah cukup terkenal seperti anda rela reputasinya hancur begitu saja akibat ulah anaknya sendiri. Bahkan gosip diluar sana sudah semakin luas beredar di telinga masyarakat, apa anda tidak ingin menghentikan badai ini?" jelas perempuan tersebut dengan semua dalihnya.


Sementara Fatimah yang notabene adalah seorang wanita pendiam hanya bisa mendengarkan apa yang telah keluar seluruhnya dari bibir Nambiyah. Dan sesekali ia menatap Rahman ditengah penjelasan Nambiya.


"Bagaimana, apakah penawaran ini tidak lah cukup baik untuk kalian. Jika kalian menyetujuinya reputasi putri dan nama keluarga ini akan kembali bersih. Tidak seburuk saat ini."


Perkataan demi perkataan Nambiya begitu terasa memilukan bagi Fatimah, bagaimana tidak dia juga seorang ibu tapi rasanya Nambiya tidaklah bisa melihat duka Fatimah selaku ibu Khadijah. Nambiya seolah acuh dengan pandangan itu, ia hanya terus fokus terhadap pembebasan putranya dengan segala cara dan upayanya.


Setelah Fatimah mengatur nafasnya dengan baik setelah hatinya berkecamuk begitu lama disana, kini ia pun mewakili suaminya untuk memberikan jawaban untuk kedua orang tua Furqon disana.

__ADS_1


"Kami begitu senang menyambut silahturahmi anda berdua disini." ucap Fatimah yang mulai bergantian berbicara.


"Sudahlah, anda tinggal jawab apa yang kami tawarkan tadi !" bentak Nambiya yang seolah sudah tak sabar lagi mendapatkan jawaban yang ia inginkan.


Fatimah lantas tersenyum dan tetap dengan kelemah lembutanya untuk menanggapi Nambiya.


"Bukankah kita berdua seorang ibu?"


"Seorang ibu sudah pasti inginkan yang terbaik untuk anaknya, dan saya begitu paham dengan hal itu pada anda berdua."


"Tapi apakah tidak terlintas sedikitpun dibenak anda sebagai seorang ibu, jika kita memaksakan kehendak yang nantinya menjadi jalan masa depan bagi buah hati kita bisa membahayakan dan berdampak buruk bagi keduanya?" Fatimah masih dengan segala kerendahan hatinya.


"Apa maksud anda, keluarga kami buruk?. Apakah kalian merendahkan kami." pangkas Nambiya kembali.


"MasyaAllah bukan seperti itu maksud saya." jelasnya.


"Harta kami begitu banyak, dan sudah dipastikan jika harta kami tidak akan pernah ada habisnya sekalipun kami mati berdua!" Jelas Nambiya dengan begitu sombongnya .


Memang setelah perceraian dengan suami pertamanya, Nambiya kembali memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang duda kaya raya beranak satu. Dan tanpa ia sadari kekayaan sang suami begitu membutakan hati dan matanya. Hingga ia menjadi sosok Nambiya yang begitu jauh dari dirinya terdahulu.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2