
Semua para pengurus pondok berdiri membentuk barisan panjang untuk membantu para pelayan restoran tersebut mengulurkan makanan bagi para santri.
Mumtaz hanya tersenyum bangga pada Al, putra semata wayangnya itu selalu bisa diandalkan oleh dirinya dalam kondisi apapun.
Al membalas senyuman Mumtaz sembari menundukkan kepalanya. Akhirnya makan siang dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun.
"Syukurlah , pasti ini kerjaan ayang beb ku!"
"Lope lope pokoknya aku mas Al ..." teriak Komariyah yang berada begitu jauh dari Al.
*
*
*
Tak terasa waktu begitu cepat bergulir, dan malam pun tiba. Hari itu, Al memutuskan utnuk bermalam disana dan pagi hari buta akan kembali bertugas dirumah sakit.
Saat matanya hendak terpejam, di malam yang sudah begitu larut sayup terdengar suara mesin mobil yang baru saja dimatikan dihalaman pondok.
"Tamu, semalam ini?" ujarnya sambil menyibak selimut.
Hari itu, Fatimah memang sudah menghubungi pihak pondok Mumtaz untuk memberitahukan bahwa Khadijah akan kembali lagi ke pondok di jam malam. Hal itu dikarenakan ia harus menunggu ke dua kakak lelakinya pulang bekerja.
Al membuka pintu utama rumah dengan selirih mungkin agar tidak sampai terdengar oleh ayahnya.
__ADS_1
Tanpa ia duga, lelaki setengah baya itu justru menyalakan seluruh lampu rumah ketika melihat Al mengendap-endap untuk keluar.
"Al, apa kamu hendak balik ke rumah sakit semalam ini?" tanyanya dengan membenarkan sorbanya.
"Hm, tidak ayah. Al hanya mau memastikan siapa tamu malam di luar itu."
"Hatimu selalu tahu jika yang datang malam ini adalah Khadijah." tutur Mumtaz yang membuat Al semakin serba salah tingkah, hingga membuatnya terbentur di tiang pintu.
"Yudho sudah mengatur semuanya malam ini untuknya, keluarlah jika kamu mau menyambut mereka. Bukankah itu lebih bagus, tamu adalah raja nak." perintah Mumtaz .
Al hanya berlalu dengan menyembunyikan pipi merah meronanya yang telah mengembang disana. Semantara hal ini menyadarkan Mumtaz, bahwa tidak akan mungkin pernah melanjutkan perjodohanya dengan Tanoe nantinya.
Sebagai seorang ayah dan lelaki juga , Mumtaz tahu betul bagaimana cara lelaki tengah memberikan sikap khusus bagi seorang wanita. Ia pun yakin jika Khadijah adalah gadis baik-baik yang sengaja Tuhan atur untuk dipertemukan dengan putranya.
Tapi semua itu Mumtaz kembalikan lagi dengan masing-masing individunya, ia tak ingin adanya keterpaksaan di kedepannya nanti.
"MasyaAllah, itu Al?" gumam Khadijah yang sejenak terkesima dengan pemuda tampan tersebut.
Entah kenapa rasanya malam hari itu wajah Al berbinar syahdu dibawah remang pantulan cahaya lampu kuning teras pondok.
"Heh, disapa Al tuh. Jawab kek, malah diem!" seru Bilal yang sudah lebih dulu menjawab salam Al dengan Abizar.
"Eh, iya kak. Aku cuman lihat disana, jalan ke kamar ku gelap banget. Jadi takut kalau kesana sendirian. Tolong anterin aku sampai depan kamar ya. Please..." imbuh Khadijah yang secepatnya memutar otak untuk menemukan pengalihan topik agar Bilal tak kembali meledaknya.
Bilal mengikuti kemana arah tangan Khadijah menunjuk, dan memang benar adanya jika jalan menuju kamar itu terlihat begitu gelap karena kurangnya pencahayaan.
__ADS_1
"Iya maaf, karena memang kamar itu kosong jadi pak Yudho tidak menyalakan lampu bagian kamar itu. Habis ini pasti akan saya bantu nyalakan." jelasnya dengan santun.
"Untung Al selalu bisa di andalkan bukan?" imbuh Bilal yang kembali menggoda, jauh berbeda dengan Abizar yang jauh lebih pendiam dan kharismatik.
*
*
*
Sedangkan hal yang berbeda dirumah Tanoe, perdebatan itu tak kunjung usai ketika rengekan Florentina tak kunjung usai setelah mendengarkan semua obrolan Tanoe dan Mumtaz hari ini. Ia semakin tak tahan lagi untuk menahan diri untuk jauh dari Al.
"Pa ..."
"Ayolah, mau tunggu apa lagi si kita. Bukanya uda pada setuju juga . Cepetan gih prosesnya, besuk aja gimana!"
"Yah yah ..." rengeknya dengan seenaknya sendiri, Ia paham betul jika sang papa akan dengan mudah melakukan hal itu dengan baik hanya dalam jentikan jari.
Tanoe yang sejak tadi meladeni sang putri hanya terdiam sembari berpikir kira-kira jawaban apa yang tepat untuk Flo terima malam ini dengan baik.
"Kita pihak perempuan sayang, mana mungkin pihak perempuan bisa seenaknya sendiri tergesa-gesa sepeti itu!" pungkasnya yang kemudian berdiri dan berlalu.
...BERSAMBUNG...
...----------------...
__ADS_1
...mampir kesini juga yuk !...