Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Keadaan baru


__ADS_3

"Sebentar lagi dia akan menjadi imamku ayah, apakah tidak bisa kau memberikan pengertian sedikit saja padanya!"


"Setidaknya bersikap manis sedikit saja padaku!" Florentina melanjutkan protesnya dihadapan Mumtaz.


Sekali lagi, Mumtaz hanya bisa mengembangkan senyuman tanpa perlu menjawab semua permintaan konyol Flo padanya. Bahkan ia sendiri yakin jika putranya tersebut dapat menentukan segalanya dengan baik dan benar.


*


*


*


Bulan 8 kehamilan.


Saat ini kehamilan Khadijah sudah hampir dekat dengan persalinan, ia mengalami begitu banyak perubahan drastis pada tubuh dan moodnya.


Tak dapat ditutupi lagi perut yang sudah mengembang besar setiap kali ia memakai baju, bahkan tak jarang mata kejam para santriwati yang tidak begitu menyukainya berkomentar buruk tentangnya. Terkadang tak dapat dipungkiri jika cibiran buruk itu dapat mempengaruhi tingkat stres ibu muda tersebut dengan cepat.


Khadijah bahkan lebih nyaman menggunakan daster dalam kondisi ini.

__ADS_1


Beberapa anggota tubuhnya juga terlihat berubah drastis, seperti bagian dada yang sekarang terlihat lebih padat dan berisi seringkali juga di area itu terlihat basah akibat asi yang sudah terisi penuh namun belum tersalurkan dengan sempurna. Pinggulnya sedikit melebar dan dua lengan beserta pipinya juga berisi.


Semua perubahan itu selalu Khadijah amati disetiap pagi, pada sebuah cermin kayu bulat melingkar di dalam kamar.


Hari itu, tepatnya pada saat senja sore ia terduduk di tepi kamar dengan menatap langit kemerahan.Wajahnya nampak sendu dengan menyandarkan kedua punggungnya pada sebuah kayu tepian ranjang. Pikirannya jauh menerawang ke depan, ia membayangkan bagaimana nasibnya nanti setelah melahirkan. Terlebih sang anak, apakah dia akan mendapatkan kebahagian yang sama seperti anak pada umumnya. Atau justru dia akan hanya tumbuh berdua dengan dirinya saja, membayangkannya saja ia sudah teramat sedih dan pilu. Apalagi harus menjalani kenyataan buruknya nanti jika memang sudah terlahir ke dunia.


Lamunanya berganti menjadi senyum, ketika Khadijah mendengar suara kecil memanggilnya dengan sebutan ibu. Yah, panggilan yang sejak dulu ia gambarkan jika nanti akan memiliki seorang anak.


Lalu ia mengakat kedua tanganya seraya berdo'a pada sang pemilik skenario kehidupan.


"Ya Allah, pilihkanlah apa-apa yang terbaik untuk takdirnya kelak di dunia dengan suratan takdirmu!" bisiknya lirih diantara dua telapak tangan yang terangkat.


Tak lagi ia mengeluhkan hal itu pada sesama makhluk sang pencipta, kali ini Khadijah benar-benar berserah diri dengan semua ketentuan yang Allah pilihkan untuknya.


"Dok dok dok." tiba-tiba pintu kamarnya terdengar berbunyi tapi tanpa suara panggilan sepeti biasa Komariyah lakukan.


"Iya mbak, sebentar lagi aku pasti keluar!" sahut Khadijah setengah berteriak dan menganti pakaiannya secepat mungkin.


Dirinya pun mulai membuka pintu dan segera keluar dari dalam kamar, tapi belum sampai kakinya melangkah sebuah kotak biru polos berukuran sedang berada tepat di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


Entah siapa yang mengirimkan kotak tersebut , sejauh mata memandang ia tak menemukan sang pengirim kotak misterius itu.


Khadijah menyempatkan diri untuk membuka sejenak kotak tersebut dengan duduk kembali di tepi ranjang.


"Srk srk srk ." Ia buka seluruh lapisan kertas yang membungkus rapi permukaan kotak tersebut hingga tersisa kotak coklat bermotif daun.


Sebuah baju bewarna biru dengan motif dedaunan warna putih, sejenis gamis simpel yang memiliki satu retsleting cukup panjang cocok untuk ibu-ibu muda yang baru memiliki bayi dan hendak menyusui. Meskipun simpel tapi baju itu terlihat begitu elegan jika di pakai Khadijah.


Tak lupa juga disana terdapat sebuah pesan manis disecarik kertas.


"Pakailah, ini akan membuat mu terasa nyaman dalam beraktifitas." bunyi dari pesan tersebut.


Ia masih tak percaya jika di pondok itu masih ada orang yang benar-benar memperhatikan dirinya meskipun juga begitu banyak yang mencibirnya selama ini.


Tapi tiba-tiba saja dalam diamnya, bayangan wajah Al melintas begitu saja.


...BERSAMBUNG...


...----------------...

__ADS_1


...Mampir kesini juga ya!...



__ADS_2