Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Cukup!


__ADS_3

Ternyata niat baik itu telah sampai juga di telinga Khadijah secara langsung, entah sejak kapan ibu muda itu telah berdiri lama disana sambil memegangi cairan infus disebelah tanganya. Wajahnya masih terlihat begitu lemah dan sedikit pucat.


"Cukup Al !" ucapnya sambil berjalan lirih dengan sedikit gemetar.


Semua mata berbalik menatap keharidaranya disana, awalnya ia hanya ingin melihat keadaan bayi kecilnya diruang bayi kala itu.


"Sayang ..." suara Fatimah menggema penuh dengan getar, ia berjalan dan menghampiri sang putri untuk memapahnya berjalan.


"Aku mendengar segalanya." air matanya mulai merebak dengan ujung hidung merah seperti buah chery.


"Tolong jangan lakukan itu, jangan pertaruhkan reputasi nama baik mu dan juga abah. Benar apa yang dikatakan Flo tadi, aku bukanlah ..."


"Bukan wanita yang baik !" sambung Khadijah dengan memilih kata yang jauh lebih pantas diucapkan dari pada perkataan Florentina.


Dia terlihat begitu rapuh dengan semua kesakitan batin yang ia dapat selama ini, tapi bukan Khadijah namanya jika dirinya tak pandai menyimpan rapat-rapat hal itu dari semua orang tersayangnya .


Keputusan Khadijah membuat semua mulut sunyi terbungkam tanpa suara lagi, bahkan Rahman sejak tadi hanya menitihkan air matanya untuk sang putri.


Setelah ia puas menyampaikan segalanya disana , dirinya mulai mendekat pada sebuah kaca ruangan yang teramat lebar dan luas. Yah , semua para bayi yang baru saja terlahir didalam sana berderet dengan rapi.


"Yang mana anakku Al?" tanyanya tanpa memandang Al tapi terus berjalan lirih bergulir ke kaca satu dan lainnya untuk mendapati wajah bayinya.


"Sebentar ..." imbuh Al, pemuda itu lantas masuk kedalam sana untuk membawa jagoan kecil itu pada sang ibu yang sudah sangat merindukannya.

__ADS_1


"MasyaAllah cucuku..." sambung lirih Fatimah dengan tangis haru.


Mata Khadijah begitu lembut memandang wajah bayi tampan yang putih berseri. Hampir semua bagian wajahnya adalah wajah Khadijah, mereka berdua begitu mirip hingga siapapun yang melihatnya akan tahu jika ia adalah anak Khadijah. Yang hanya pembeda adalah, ia seorang anak lelaki.


Tadinya tangan itu masih kaku untuk menggendong tubuh kecil bayinya, tiba-tiba saja begitu terampilnya menyangga tubuh itu dengan lihai dengan rekap penuh kasih sayang.


"Pa, ini cucu papa. Jangoan Khadijah pa..." tuturnya yang kini mendekat pada Rahman dengan sang putra. Semua menyambut bahagia kelahiran putranya tersebut. Termasuk juga dengan kedua kakak lelakinya.


"Cepat kemarikan, aku akan adzani jagoan kecil itu agar menjadi sepertiku nantinya. Pemberani dalam kebenaran!" seru Bilal yang begitu menggebu ingin menggendong sang keponakan.


Permintaan Bilal sejenak membuat Khadijah terdiam kembali sambil menatap wajah Al dengan sendu.


"Maaf, tadi sudah saya adzani setelah ia lahir." sambung Al dengan malu-malu.


"Wah kacau si ini, kamu udah curi start lewat anaknya nih Al?"


"Kapan ibunya?!"


Kakak kedua Khadijah tersebut mencoba mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang dan rileks, dan benar adanya ucapannya itu mampu mengkuir senyum pada semua bibir orang disana termasuk juga Khadijah.


Tapi sebenarnya dibalik perkataan itu pula ada maksud terselubung untuk ia dapat membantu membuka hati Khadijah yang masih membeku.


*

__ADS_1


*


*


Ditempat yang berbeda , kabar kelahiran Khadijah kini telah sampai di telinga keluarga Furqon begitu juga dengan dirinya. Entah kabar itu kenapa begitu cepat sampai di telinga mereka semua sedangkan hubungan kedua keluarga ini sedang tak baik-baik saja.


"Apa benar anakku sudah lahir?" ucapnya penuh haru dengan mata berkaca-kaca.


"Yah, anak itu sudah lahir. Apa kau ingin melihatnya , kalau mama jadi kamu akan mama ambil alih hak asuh anak itu nantinya!" jelas Nambiya dengan angkuhnya .


Wanita itu terkenal begitu glamour meski penampilannya begitu syar'i. Seluruh tubuhnya dipenuhi dengan mas berkilau bagaikan toko emas yang sedang berjalan .


"Tidak , aku tidak akan merebutnya dari Khadijah. Dia adalah ibunya , dan dia berhak dekat setiap saat denganya!" tepis Furqon yang masih memiliki naluri yang begitu baik.


"Sudah diamlah, biar aku yang akan melakukan semua tugas ini dengan mudah. Anak itu akan berada dalam genggamanku! " seru Nambiya dengan melipat satu kakinya ke atas dan meneliti setiap jarinya yang terisi oleh kilau emas.


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...Mampir kesini ya!...


__ADS_1


__ADS_2