Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Hari kebebasan


__ADS_3

Hari sudah mulai larut dan bayi kecil super menggemaskan itu tertidur dengan pulas setelah mendapatkan hak nya sebagai seorang bayi. Tentunya sebuah asi.


"Ma, Khadijah akan jaga dia. Mama kembalilah ke kamar dan beristirahatlah." jelasnya pada Fatimah yang begitu terlihat lelah.


Fatimah mengiyakan permintaan sang putri dan bangkit dari duduknya, tapi langkah kakinya harus terhenti ketika hatinya kembali resah memikirkan nasib sang cucu.


"Sayang, segera beri ia nama. Bukankah dia belum memiliki nama?" tanyanya dengan memperhatikan secara seksama wajah kecil yang sedang tertidur pulas.


"Boy ma," celetuk Khadijah saat panggilan Al terngiang ditelinganya.


"Boy?"


"Iya boy. " Fatimah dan Khadijah menetap bayi itu kembali dengan bersamaan .


"Beri nama yang benar sayang..." protes Fatimah.


"Pakai nama itu sementara ma, nanti Khadijah akan pikirkan kembali. Lagi pula tidak ada salahnya memakai nama itu sementara bukan?" celetuknya berkelanjutan.


Fatimah hanya menaikkan dua bahunya dengan bersamaan.


"Oke boy ..." Tiru Fatimah dengan ragu namun masih menggoda sang putri dengan senyuman.


"Bukankah kalian senang jika panggilan itu berasal dari Al?" imbuh Khadijah sambil tertunduk malu.

__ADS_1


"Al ?" sambung Fatimah dengan kedua mata yang tak lagi mengantuk.


Khadijah hanya terus menganggukkan kepalanya dengan menepuk punggung boy dengan lirih.


Melihat hal itu Fatimah begitu senang, karena mungkin sejatinya ada sedikit rasa cinta dihati sang putri yang terpendam untuk Al. Namun karena terhalang oleh rasa trauma begitu dalam membuat ia menepis kuat-kuat rasa yang harusnya akan disambut bahagia oleh banyak pihak.


*


*


*


5 Bulan berlalu begitu cepat, tak terasa boy juga sudah tumbuh menjadi bayi yang menggemaskan setiap harinya. Bahkan berat badan bayi kecil itu semakin bèrtambah hingga membuatnya begitu lucu.


Baik Al dan Abizar sama-sama sepakat akan menjadi partner terbaik bagi adik perempuan satu-satunya disana selama mengasuh boy seorang diri.


Tentu kebahagiaan ini adalah hal yang selalu didambakan oleh Fatimah dan juga Rahman, terlebih lagi jika melihat Khadijah sudah mau membuka hatinya untuk lelaki. Mungkin semua kegundahan ke dua orang tua itu akan semakin memudar.


Dibalik kebahagiaan mereka, tiba-tiba saja satu mobil terparkir tepat dihalaman rumah dan kebetulan juga semua orang saat itu tengah berkumpul di taman kecil milik keluarga Rahman.


Semua mata pun tertuju pada mobil tersebut sambil menunggu siapa kira-kira orang yang berada didalam sana. Hingga sampai akhirnya, wajah yang tak pernah diharapkan kembali oleh Khadijah muncul dengan langkah penuh kesombongan.


"Apa kabar?" sapa Furqon bersama dengan sang ibu Nambiya.

__ADS_1


Wanita itu terlihat begitu berbangga diri dan puas karena dapat menggandeng sang anak tanpa bayang-bayang petugas kepolisian.


"Selamat pagi ..." sambung Nambiya disana setelah melihat respon keluarga Rahman yang sejak tadi berdiam diri melihat kedatangan keduanya.


Fatimah mengangguk untuk mewakili keluarganya , ia berdiri tepat dibelakang Rahman sambil terus memegangi kursi roda nya.


"Apa kalian tidak mempersilahkan tamu ini untuk masuk atau sekedar duduk?" imbuhnya dengan wajah ketus.


Fatimah saling memandang dengan Rahman disana , sampai akhirnya ia mendapatkan ijin dari sang suami untuk menjamu mereka berdua.


"Tentu mari silahkan." Ajak Fatimah dengan membawa keduanya masuk kedalam rumah.


Bukan hanya mereka bahkan seluruh anggota keluarga Rahman juga ikut masuk untuk mendampingi sang ibu.


"Langsung saja tanpa basa-basi terlalu panjang, kedatangan kami kemari tentu bukan tanpa alasan!" sambung Nambiya yang baru saja duduk di sofa.


"Tentu kami tahu!" batin Khadijah mengumpat.


"Saya dan juga anak saya, berniat ingin mengasuh bayi itu. Oh maaf maksud saya cucu saya!" tegasnya dengan tatap mata tak menyenangkan.


Seakan tak percaya jika wanita itu beraninya kembali mengungkit peristiwa yang pernah terjadi dirumah sakit beberapa waktu silam. Khadijah terperangah dengan semua ucapan Nambiya yang terkesan terlalu memaksakan kehendaknya.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2