Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
3 bulan berikutnya


__ADS_3

Suasana hati Khadijah mulai sedikit berubah-ubah dengan bersamanya rasa mual yang begitu hebat disetiap harinya.


Kahdijah bukanlah gadis kuper, bahkan dirinya adalah gadis cerdas. Mendapatkan keadaan tubuh yang sedemikian rupa, Khadijah yang telah menjalani aktifitasnya sehari-hari dengan normal memutuskan untuk pergi kesebuah apotik terdekat yang tak begitu jauh dari rumahnya.


"Mbak tolong beri saya alat testpack yang paling bagus, lima biji." serunya sambil menyodorkan beberapa lembar pecahan merah.


"Banyak banget mbak, apa ini kehamilan anak pertama?"


"Kira-kira sudah telat berapa minggu , bisa saya bantu untuk cek lebih lanjut biar nggak mubazir alat testpacknya nanti."


Pertanyaan frontal sang penjaga toko bertubi-tubi menghujam Khadijah.


Wanita itu bukanya tak ingin memberitahukan hal apa yang tengah ia rasakan, bahkan dirinya sendiri saja tak tahu kapan kali terakhir hal ini terjadi.


"Nggak papa mbak, saya ambil itu aja semua."


"Saya bisa tes sendiri dirumah nanti." sahut Khadijah terlihat lebih tergesa-gesa untuk menghindari pertanyaan berikutnya yang akan bisa menyerang dirinya nanti.


*


*


*


Setelah beberapa saat kepergian Khadijah, seorang pegawai toko lainya yang begitu mengenali Khadijah pun membuat gosip yang bukan-bukan tentangnya.


"Anak ustadz kelakuannya kayak gitu, kalau gue mending sekalian nggak punya anak aja deh!"


"AIB!"


"Malu-maluin kan, katanya ustadz anak perempuannya kayak begitu ulahnya."


Wanita yang bertempat tinggal tak jauh dari rumah Khadijah itu terus mengumpat keluarga besar khadijah, terlebih lagi Rahman.


Setibanya dirumah, Khadijah dengan segera menutup pintu kamarnya serapat mungkin dan mulai masuk kedalam kamar mandi. Disana ia telah menjajarkan benda itu menyerupai satu garis memanjang.


Bahkan Khadijah memasukkan semua cairan miliknya ke alat tersebut dengan sekaligus.


"Ayo cepatlah, aku sangat ingin mengetahuinya!" serunya berada dalam kamar mandi .


Setelah beberapa menit kemudian, alat testpack tersebut menunjukkan hasilnya satu persatu dengan perlahan. Sebuah tanda merah muda telah muncul dialat testpack yang pertama kali dengan dua garis, dan di ikuti kemunculan lainnya dialat berikutnya.


Mata Khadijah seketika terbelalak melihat kelima alat itu sama sekali tak memiliki hasil yang berbeda, wajahnya seketika berubah datar tanpa ekspresi menatap sebuah cermin kotak dikamar mandi.


"Dijah, sebentar lagi kamu akan menjadi mama ..."


"Tapi, anak ini tidak akan memiliki ayah nantinya. Kau akan merawatnya sendiri bukan, ayo semngatlah jangan pernah lagi membuat beban dihidup kedua orang tuamu." monolog Khadijah.


Tanpa berpikir lebih panjang lagi, hari itu Khadijah yang sudah memiliki tekad bulat untuk ingin lebih jauh mandiri. Segera merapikan beberapa buah bajunya kedalam koper untuk segera pergi dari rumahnya.

__ADS_1


Khadijah yakin jika uang tabungan miliknya akan cukup menghidupi dirinya dan sang anak nanti.


*


*


*


Ceramah ustadz Rahman disalah satu masjid terbesar dikota.


"Jadi ibu bapak sekalian, kita harus pandai menjaga seluruh anggota keluarga kita jauh dari perbuatan zina ataupun maksiat. Karena hal itu akan merusak ..." tiba-tiba saja perkataan Rahman terpotong akibat teriakan salah satu jemaah masjid tersebut yang begitu kencang.


"Jangan dengerin ibu bapak sekalian!"


"Ngaku ustadz, ceramah dimana-mana jaga anak sendiri nggak bener."


"Eh tad, anak situ hamil dengan siapa emangnya. Belagu ceramahin orang lagi."


"Benerin dulu akhlak orang rumah lu dulu!"


Seorang lelaki yang usianya tak jauh berbeda dengan Rahman tengah berdiri tegap diantara banyaknya jamaah masjid hari itu, dan menyuarakan suaranya dengan lantang menggunakan pengeras masjid.


Alhasil, suara pria itu pun menggema hingga keluar dari area masjid dan dapat didengar hingga ke jalanan.


"Pak, sudah pak sudah."


"Jangan berprasangka buruk seperti itu, fitnah!" ucap seorang jemaah lainnya yang berusaha menghentikan aksinya sambil terus menarik ujung kain celananya.


Bukanya terdiam dan segera duduk, pria itu sama sekali tak menggubrisnya dan terus memprovokasi jemaah lainnya untuk segera meninggalkan ceramah Rahman.


"Wah ustadz nggak bener ini."


"Udahlah yok pulang aja!" sahut warga yang sudah mulai termakan isu tak benar hari itu.


Mendadak area masjid pun menjadi kosong seketika, hanya tersisa Rahman dan pengurus masjid setempat yang mendampingi dirinya.


"MasyaAllah pak Rahman, sabar ya ini ujian." imbuh seorang takmir masjid yang sudah lanjut usia.


Rahman terus mengangguk tanpa bisa berkata lebih jauh lagi, ia hanya mampu melantunkan istighfar berulang kali dari dalam mulutnya.


"Terimakasih karena bapak-bapak masih percaya dengan saya." jelasnya sambil menatap satu persatu orang yang masih berdiri dihadapannya.


"Kami semua yakin, pak Rahman orang baik." sahutnya lagi.


Rahman memanglah orang yang paling rendah hati, terlebih lagi tak sombong jika berada dilingkungan setempat dan luar. Sikap dermawanya selalu di sanjung begitu banyak orang, tapi saat tatkala ia diterpa isu yang belum tentu kebenarannya semua orang meninggalkan dirinya begitu saja.


Masih dengan hati yang begitu berat tanpa ada rasa untuk menyalahkan satu pihak manapun, Rahman memutuskan untuk segera pulang dari masjid.


*

__ADS_1


*


*


"Pa, sudah pulang." sapa Fatimah yang mendengar salam Rahman serta dengan cepat mencium tangannya .


Istri Rahman tersebut bahkan melihat ke arah jam dinding rumahnya sebanyak tiga kali untuk memastikan jika suaminya tak salah pulang.


"Bukanya papa ada ceramah hari ini, sampai sore nanti. Tapi, ini masih jam setengah tiga pa." imbuhnya dengan bimbang.


Belum lagi Fatimah mendapatkan kepastian dari pertanyaannya. Kini ia beralih menengok ke arah dalam sambil melihat sang putri yang sudah bersiap dan menyeret koper miliknya.


"Sayang ..." sambut Rahman dengan terkejut.


"Mau kemana bawa koper segala rupa nak?"


Khadijah nampak menggigit bibir bagian bawahnya, karena tak ingin menceritakan hal yang sebenarnya terjadi . Tapi gadis itu tak mengetahui, jika seluruh keluarganya memang telah menyimpan serapat mungkin darinya.


"Khadijah mau kos aja pa, atau sewa apartemen." imbuhnya ragu.


"Kenapa nak, apa rumah ini tak nyaman lagi buat khadijah tempati?"


Khadijah menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Lalu?" imbuh Fatimah.


"Khadijah ..." jelasnya dengan menjeda begitu lama ucapanya.


"Iya." sahut Rahman telaten.


"Ingin mandiri saja ayah." elaknya dengan menunduk.


Rahaman pun teringat akan cerita Fatimah satu minggu lalu pada dirinya.


Flashback Rahman.


"Pa, tadi mama dari kamar Khadijah . Tapi belum mama mulai mengetuk pintunya , mama memperhatikan sikap Khadijah yang mulai curiga dengan perutnya yang mulai membuncit. Anak kita terus mengusap perut itu berulang kali, rasanya dia sudah mengetahui hal itu sejak lama."


*


*


*


"Papa sudah tau dari mamaa sayang, Khadijah harus tau bahwa hal sebesar apapun yang tengah kamu hadapi kami tidak akan pernah membiarkan dirimu sendiri nak!" tegas Rahman sambil mengeratkan tangannya dipundak Khadijah.


"Dan papa sama Mama telah bersepakat untuk memasukkan Khadijah ke sebuah pondok pesantren nantinya." jelas Rahman dengan lembut, tapi tidak dengan wajah Khadijah yang sudah mulai menegang akibat shock .


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2