Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Hari terakhir


__ADS_3

"Permisi." Sapa Al didepan pintu yang telah mengetuknya terlebih dahulu, entah sejak kapan dia berdiri disana dengan kondisi pintu terbuka.


Semua mata diruangan itu tertuju padanya, terlebih lagi Khadijah yang terburu-buru mengusap air matanya sejak kehadiran Al.


"Maafkan saya jika saya mengganggu. " ucap Al dengan ragu dan ingin berbalik.


"Tidak nak masuk saja , kami hanya duduk santai bersama." ujar Fatimah yang telah memberikan ijin.


Al kemudian masuk dengan membawa selembar kertas ditanganya. Yah, hari ini adalah hari kepulangan Khadijah dan sang bayi. Setelah dilakukan pengamatan, kondisi keduanya sudah sangat membaik.


"Saya hanya ingin memberikan ini bu, tapi sebelumnya saya minta maaf karena sudah mengisi form tersebut dengan tanda tangan saya. Maafkan atas kelancangan saya." mohon Al dengan dua tangan menyatu.


Fatimah adalah orang pertama yang melihat isi berkas tersebut, dan dia malah merasa lebih bangga kembali dengan Al karena apapun keputusannya ia yakin jika itu terbaik untuk Khadijah.


"Ibu yang harusnya meminta maaf karena sejauh ini terus merepotkan dirimu."


"Jangan bilang begitu bu, ini sudah kewajiban Al."


"Khadijah, hari ini kamu sudah boleh pulang. Perhatikan baik-baik kesehatan dan pola makan mu ya. Jangan lupa semua vitamin itu harus di minum setiap harinya. Atur juga istirahat yang cukup."

__ADS_1


"Baiklah, saya permisi dulu kalau begitu bu." pungkas Al dengan menjabat tangan seluruh Anggota keluarga Khadijah kecuali dirinya.


Setelah kepergian Al dari ruangan tersebut, Fatimah kembali mengecek berkas yang ternyata isinya dua lampir kertas. Di kertas berikutnya Al telah menyisipkan juga berkas pembayaran rumah sakit yang telah lunas terbayar oleh dirinya. Bahkan bukan nominal yang kecil bagi Fatimah untuk orang yang baru mengenal keluarganya lantas mau mebayarkan sejumlah uang tersebut.


"Al ..." imbuh Fatimah dengan menitihkan air mata.


Ia memutuskan untuk menyimpan baik bukti pembayaran tersebut dan tidak untuk disampaikan didepan semuanya. Fatimah tahu betul jika dengan hal itu Khadijah pasti akan lebih murka dan tak mau jika Al kembali mengasihani dirinya lagi.


Mereka semua kemudian bersiap untuk membawa Khadijah dengan sang anak kembali pulang.


*


*


*


Saat Khadijah sudah masuk kedalam kamar dengan membawa jagoan kecilnya.


Khadijah hanya mengangguk patuh tanpa penolakan.

__ADS_1


Hari ini adalah hari pertama dia kembali ke rumah itu dengan status seorang ibu muda, tapi tanpa seorang suami. Sebuah status yang tak di inginkan oleh siapapun didunia ini terlebih lagi wanita muda sepertinya.


"Ibu harap kamu jangan rewel ya?" ucapnya sambil terus memainkan ujung tangan bayi kecil tersebut yang masih tertutup dengan sarung tangan.


Seakan tahu apa yang diucapkan oleh sang ibu, bayi kecil menggemaskan itu terlihat tersenyum dengan manis dalam tidurnya.


"Eh, kamu bisa tahu ya. Dasar anak pintar..." seru Khadijah tak kalah gemasnya .


Dalam suasana kamar yang begitu sepi, tiba-tiba saja rasa rindu menyelinap singgah dihatinya . Yah dia merindukan suara Al selama berada didekatnya , suara yang selalu berisik bagaimana Khadijah harus menjaga pola makan dan terlebih lagi pria itu selalu siap siaga dalam hal apapun untuknya. Kini jarak yang begitu jauh telah memisahkan keduanya, entah kapan pertemuan itu akan kembali terjadi meski setelah penolakan berulang kali dari Khadijah untuk Al.


"Sayang cepat istirahat ibu akan menjaganya, nanti jika Khadijah sudah merasa lebih segar gantian kamu yang jagain si kecil ini. " jelas Fatimah sambil mencium pipi merah sang cucu.


Khadijah hanya mengangguk dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang , meski sudah berada dirumah sendiri bukan berarti dia begitu merasa nyaman. Bukanya tertidur ia malah asyik melamun sejak tadi.


Perlahan namun pasti , rasa rindu itu membelenggu kuat dalam dirinya . Rasa bersalah, rasa ingin marah bahkan rasa ingin meminta maaf pada Al berkecamuk menjadi satu.


Tapi siapa yang tak kenal seorang Khadijah, wataknya akan kembali keras jika berhadapan langsung dengan seorang pria.


Boleh dikatakan, keras diluar dan rapuh didalam.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2