
"Sejak kapan kamu disana Bil?" sahut Furqon dengan nada terbata-bata.
Sedangkan beberapa pemuda lainnya sudah berancang-ancang untuk segera pergi dari sana, dengan cara melipir perlahan.
"Hei mau lari kemana kalian!" teriak Bilal dengan kerasnya yang hendak ingin mengejar .
Ia yang seketika mengingat bahwa masih ada Furqon di belakang punggungnya, seketika membalikkan pandangannya kembali menatap Furqon dengan murka.
"Katakan, jika kau memang lelaki !" Bilal mengangkat sebagian baju Furqon bagian pundaknya.
Sejenak ia masih tetap mempertahankan diamnya dengan teguh.
"KATAKAN!" bentak Bilal yang tak pernah ia jumpai selama berkawan dengan pemuda itu. Wajahnya merah meradang,serta ke dua biji bola matanya hendak ingin keluar .
Terlihat Furqon sangat ketakutan .
*
*
*
Kontrol rutin .
"Mulai hari ini, setiap bulannya aku akan memantau kondisimu seperti ini. Jika ada hal yang sekiranya menghambat keadaan mu, bisa langsung utarakan itu padaku."
Imbuh Al yang sedang teliti menatap layar monitor didepannya, bahkan Al dengan seksama memperhatikan gambar calon bayi Khadijah dengan wajah serius.
Di sebuah klinik yang tak jauh dari pondok, Al membawa Khadijah untuk bergegas kesana dan memeriksakan kandungannya. Mereka tak hanya berdua didalam ruangan, bahkan ada seorang perawat wanita yang menjadi pihak ketiga bagi keduanya.
"Sus, tolong ambilkan resep ini." tutur Al yang sudah menuliskan beberapa resep obat yang akan dibawa Khadijah kembali ke pondok.
Di klinik itu, Al sudah biasa mengadakan praktek gratis untuk warga sekitar.
__ADS_1
"Terimakasih." sahut Khadijah yang segera duduk dan membenarkan posisi hijabnya dengan baik meski belum tertutup sempurna.
"Sudah kewajiban saya, apalagi itu memang sudah menjadi tugas saya sebagai dokter."
Al memberikan jawaban yang sekiranya tak membuat Khadijah merasa sungkan.
Sedangkan diluar, Komariyah yang telah ikut bersama dengan mereka sudah menggerutu sepanjang waktu disana.
"Duh, lamanya. Sebenere sakit apa juga itu anak, bisa-bisanya enakan begitu sama beb Al." protesnya dengan kesal.
Ketika Komariyah terbakar api cemburu yang begitu dalam, ia pun memutuskan untuk segera masuk kedalam ruangan Al.
"Braaak." Benturan pintu dan kening Komariyah tak terelakkan, bahkan ia meringis kesakitan dan memegang keningnya dengan cara ditekan .
"Duh, piye to mas Al ini. Aku pingin masuk malah dilukain begini..." rengeknya dengan bibir tebal seksinya , menurut pengakuan Komariyah.
"Astaghfirullah, maafkan saya mbak Komar ."
"Hehe, nggak papa kok. Tapi sakit juga si, apa aku bisa diperiksa juga didalam?" pinta Komariyah semakin mendramatisir keadaan.
Al pun mengiyakan permintaan Komariyah dengan segera masuk kedalam dan membawakan sebuah salep lebam utuknya.
"Nih mbak, cukup pakai ini inshaAllah sembuh." terang Al yang seketika memutuskan segala keyakinan Komariyah.
Sementara Khadijah masih asyik dengan senyumnya dibalik hijab yang ia kenakan untuk menutupi sebagian wajahnya.
"Jangan ketawa lu!"
"Aku tahu situ lagi ngetawain saya kan, nggak akan saya biarkan menang banyak kamu!" tuduh Komariyah dengan sombongnya.
Al yang berada ditengah keduanya, lantas pergi meninggalkan mereka dengan santainya.
"Yah memang begitu wanita pak Al, semakin pengen semakin gencar aksinya!" celetuk seorang perawat beranak satu yang juga begitu mengagumi ketampanan Al.
__ADS_1
"Mbak juga bisa saja loh, saya jadi merinding buat punya pasangan kalau begini." ejek Al ringan.
Perawat sekaligus asisten Al sementara tersebut lantas memberikan obat yang sudah diresepkan kepada Khadijah.
"Apa itu calon bapak Al?" goda perawat tersebut dengan kerlingan matanya.
"MasyaAllah." jawab Al yang tak mengarah pada penolakan atau mengiyakan.
*
*
*
"Bajingan dirimu!"
"Hatimu begitu buruk, hingga tega melakukan itu pada adikku!"
Hantaman keras tangan Bilal menghujam seluruh wajah Furqon yang sudah tak memiliki bentuk lagi, bahkan wajah pemuda itu sudah sangat banyak dengan bersimpah darah.
"Bunuh aku jika perlu Bil !" tutur Furqon dibalik ketidakberdayaannya .
"Tidak, iblis sepertimu tidak akan mendapatkan hukuman semudah itu!"
"Ayo ikut denganku!"
Dengan mata yang masih begitu dendam menatap teman satu kerjanya itu, pemuda tersebut menyeret Furqon dengan tangannya sendiri kehadapan kedua orang tuanya.
Flashback Furqon .
"Aku memang adalah lelaki itu Bil, aku yang sudah menghancurkan Khadijah adik perempuanmu itu!" jelas Furqon lantang dihadapan Bilal.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1