Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Mengingatnya dengan baik


__ADS_3

"Tapi rasa-rasanya aku mengenal suara mereka, entah dimana ." serunya dengan tertegun memandangi segerombolan para pemuda yang telah menjauh pergi.


*


*


*


"Kamu lihat apa nak?"


"Apa kau ingin keluar."


Suara Rahman yang mengejutkan Khadijah dari belakang tubuhnya.


"Ayah ..."


"Tidak, Khadijah hanya rindu berdiri disini sambil menatap jalanan."


"Sesekali keluarlah dengan abangmu, hirup udara segar ditaman. " tuturnya pada sang putri.


"Aku akan memikirkannya kembali ayah." imbuh Khadijah dengan sejenak merenung.


Hari itu, Abizar telah lebih dulu tiba dirumah. Dan seperti biasa, ia akan menghabiskan seluruh waktunya dikamar setelah mengikuti sholat berjamaah di masjid.


Seusai membersihkan dirinya, Khadijah tiba-tiba saja berteriak didepan kamarnya sambil berteriak memanggil namanya.


"Bang Abi ..."


"Keluarlah, ayo turun kita makan." ajaknya sambil berlalu seketika.


Kini mereka telah menikmati makan malam bersama, tapi tanpa Bilal. Kakak kedua Khadijah itu, telah berpamitan sebelumnya akan pulang tidak tepat waktu karena banyaknya kiriman yang harus ia antarkan dihari itu.


"Sepi nggak ada bang Bilal..." celetuk Khadijah disela makanya.


"Ssst, habiskan dulu makanan dimulutmu itu." titah Abizar sambil mengusap lembut rambut sang adik.


Fatimah dan Rahman saling menatap satu sama lain, karena mendapati putri semata wayangnya telah kembali ceria.


Tapi tidak dengan hati Rahman yang gusar saat ini, masih ada persoalan besar yang belum ia ungkapkan pada sang istri Fatimah. Sebuah kenyataan pahit itu, perlahan tapi pasti akan mencuat juga seiring dengan besarnya perut Khadijah.


"Papa duluan ya, kalian lanjutkan dulu makanya." imbuh Rahman yang telah menyudahi makan malamnya.


Saat itu, hanya Fatimah satu-satunya orang yang mengetahui bagaimana mimik wajah Rahman seketika berubah setelah memandang Khadijah beberapa saat .


"Ayo, jika udah selesai cepat naik dan lekas tidur ya." perintah Fatimah penuh ke ibuan.


Keduanya tampak menyegerakan makan malam saat itu dan terlihat mulai meninggalkan meja makan.


Setibanya dikamar, Fatimah yang sudah sangat resah dengan sikap murung Rahman bertanya dengan nada lembut.


"Pa, apa yang tengah papa pikirkan saat ini?"


"Berbagilah denganku, inshaAllah dirimu akan merasa lega." Jelas Fatimah.

__ADS_1


Pria itu menghentikan lamunannya dan menarik nafasnya kuat-kuat.


"Ma, anak kita ..." suara Rahman terhenti sejenak sambil menatap ke dua bola mata Fatimah.


Sedangkan sang istri sudah sangat tak sabar ingin mengetahui apa penyebab gundahnya sang suami.


"Khadijah ma..."


"Dia hamil." ucapnya disegerakan, seolah ingin segera merasakan lega karena telah mengeluarkannya dari dalam hati.


"Innalilahi ..." seru Fatimah diiringi dengan air mata yang menetes tiba-tiba.


Hati ibu mana yang tak hancur ketika mengetahui segela masalah yang bertubi merundung anak perempuan satu-satunya. Seketika, Rahman mengeratkan tangannya untuk merengkuh pundak Fatimah seakan ingin memberikan penguatan disana.


"Lantas apa langkah kita selanjutnya untuk Khadijah pa?" suara gemetar Fatimah menyiratkan luka mendalam.


"Papa berencana akan memasukkannya kedalam pondok pesantren ma, tapi apa mungkin kita akan mengirimkan ke pondok kolega kita. Rasanya sungguh tidak mungkin, jika harus mengumbar aib anak sendiri."


Fatimah semakin sedih mendengarnya.


Ditengah pembicaraan keduanya, tiba-tiba saja bel rumah berbunyi berulang kali.


"Selamat malam?"


"Ingin bertemu dengan siapa tuan?" tanya bibi Halimah pembantu rumah Rahman.


"Apa pak Rahman sedang dirumah ?" tanyanya sembari sedikit menundukkan kepalanya ketika berucap.


"Ah, bapak. Tentu tuan, mari silahkan masuk." ajak Halimah .


Halimah pun segera masuk kedalam rumah kembali untuk memanggil Rahman yang sedang berada dikamar.


"Tok tok ..."


"Tuan." seru Halimah sambil mengetuk pintu kamar Rahman yang belum tertutup sempurna.


"Iya bi?"


"Ada apa." tanyanya


"Ada tamu mencari tuan di luar, namanya Al kalau tidak salah." terangnya .


Rahman mencoba mengingat lebih jauh lagi tentang semua teman anak lelakinya saat itu.


"Apa dokter Al, baiklah bi tolong berikan minuman dan camilan ya. Saya akan segera menemuinya."


Ia pun kembali ke kamar untuk mengajak Fatimah menemui Al.


"Ma, ikut papa. Mungkin didepan adalah dokter Al."


Fatimah beranjak dari duduknya dan segera menyapu kering seluruh air mata yang membasahi pipinya.


*

__ADS_1


*


*


"Ah, benar. Dokter Al rupanya."


"Selamat malam dok."


Sapa Rahman sambil diikuti Fatimah yang memberikan salam melalui senyumnya.


"Ada apa gerangan sampai dokter repot-repot datang kemari?" sambut Rahman dengan begitu gembira.


"Sebelumnya saya minta maaf pak, harus mengganggu semalam ini. Tapi saya lupa meresepkan obat ini untuk Khadijah." jelasnya sambil memberikan satu resep obat berkantong biru.


"Astaga, kan saya bisa mengambilnya sendiri ke rumah sakit dok. Saya jadi merasa tidak enak hati kalau begini."


"Tolong jangan katakan seperti itu, ini memang sudah menjadi tanggung jawab saya pribadi sebagai seorang dokter ." jelas Al dengan tegas tapi dengan perkataan santun.


Rahman beserta sang istri pun menyilahkan Al untuk mencicipi kue yang telah disiapkan dimeja untuknya.


"Mohon maaf, tapi saya harus segera kembali ke rumah sakit dengan cepat." ujar Al sembari melihat jam miliknya.


"Ada pasien yang harus menjalani operasi malam ini juga," imbuhnya dengan menyatukan kedua telapak tangannya dihadapan Rahman dan Fatimah.


Kedua orang tua Khadijah pun tak bisa memaksa Al lebih jauh lagi dari ini. Rahman pun segera mengantarkan Al keluar rumah setelah berpamitan.


Meskipun pertemuan mereka yang begitu singkat, tak dapat dipungkiri jika komunikasi diantara mereka terjalin begitu baik.


"Dokter Al, apa saya boleh bertanya sesuatu?" kaki Rahman terhenti tepat di depan teras rumahnya sambil terus meremas tangannya sendiri berulang kali.


Sebagai dokter tentu Al dapat mengetahui dengan mudah, jika Rahman tengah berusaha menutupi segala kegelisahannya.


"Tentu pak, silahkan."


"Seingat saya, dokter Al pernah berkata bahwa ayah adalah seorang pemilik pondok pesantren?"


"Apa benar?"


Al menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Begini dokter, apa mungkin jika pondok itu ditempati oleh seorang santri wati yang memiliki masalah seperti putri saya." imbuhnya dengan resah.


Mendapati keresahan Rahman, Al pun memberikan penjelasan sebaik mungkin padanya.


"Tentu, pasti ayah akan dengan senang hati menerima khadijah disana pak."


"Disana, tak ada pembedaan bagi kami. Semua sama dimata kami, tidak pernah ada juga pembatasan bagi kami dalam menerima setiap calon santri ataupun santriwati disana."


Mendengar penjelasan Al, pria dari tiga orang anak itu sedikit bisa bernafas lega. Ia akan menimbangnya kembali segala ucapan Al malam itu, sembari berunding dengan Fatimah istrinya.


"Terimakasih banyak dokter, saya akan mempertimbangkan hal ini dengan istri saya nanti." imbuh Rahman dengan senyum lega.


"Jika saya boleh sedikit memberi saran, ada baiknya sebelum mengirim Khadijah ke pondok jelaskan segala sesuatunya dengan rinci terlebih dahulu pak. Hal ini akan menghindarkan Khadijah dari rasa shock yang begitu dalam nantinya."

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2