
"Ma ...!"
Dalam tidurnya, Khadijah mengigau berulang kali memanggil Fatimah. Ada kerinduan yang begitu mendalam yang tengah ia alami disana. Dan terpendam seorang diri.
"Mas Al, sepertinya Khadijah sudah sadar." terang Ema sembari terus memperhatikan gerak tubuh gadis tersebut.
"Belum bi, dia hanya mengigau."
"Kasihan sekali dia..."
"Apa sebaiknya kita sampaikan saja pada keluarganya kalau dia benar-benar membutuhkan mereka disini."
Ema memberikan sebuah saran yang tak terlintas sebelumnya dalam benak Al.
"Ada baiknya begitu bi."
"Sebentar , aku akan menghampiri paman Yudho untuk menghubungi mereka ." sahut Al.
Setelah berjumpa dengan Yudho, Al pun kembali lagi ke kamar Khadijah malam itu dan mengecek kembali suhu badannya.
"Tinggi sekali suhu badannya." ujar Al dengan wajah yang begitu cemas dan prihatin.
Wajah Khadijah begitu pucat, bahkan bibirnya begitu kering disana.
"Bi, tolong kompres sementara menggunakan air hangat. Aku akan menghubungi rumah sakit terdekat untuk membawanya kesana."
Al mengusahakan semaksimal mungkin untuk memberikan pertolongan pada Khadijah, sesuai amanat yang telah ia emban.
Karena panas yang teramat tinggi dan tak kunjung menurun, Khadijah terpaksa dilarikan kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Tak ada pilihan lain selain itu, atau keadaan akan membuatnya semakin buruk.
Terlihat Al meminta bantuan para tenaga medis untuk menandu tubuh Khadijah memasuki mobil ambulance .
"Hiiii, mas Al itu loh. Nggak bisa apa, sebentar aja nggak nempel sama uler bulu kuduk itu!" gerutu Komariyah dengan terus menarik ujung bajunya dengan kesal.
Di posisi yang sama, Sukma ternyata juga benar-benar tidak menginginkan jika Khadijah memiliki hubungan dekat dengan Al.
*
__ADS_1
*
*
Setelah menghubungi keluarga Khadijah berulang kali, Yudho tak mendapatkan respon apapun disana. Ia pun memutuskan untuk memberitahukan Al dengan cepat.
Kediaman rumah Rahman.
Malam hari itu, telepon rumah berdering berulang kali dalam sunyi. Tak ada satu orang pun disana untuk menjawabnya, karena seluruh orang rumah juga berada dirumah sakit.
"Pa, kuat pa kuat."
"Istighfar ..." seru Fatimah menguatkan hati suaminya.
Rahman terkena serangan jantung setelah mendapatkan kabar penangkapan Furqon, pemuda yang sudah tega merusak masa depan sang putrinya.
"Papa, tenanglah semua akan baik-baik saja!" imbuh Bilal dan Abizar yang juga mendampingi keduanya disana.
Akibat serangan jantung tersebut, Rahman juga mengalami stroke ringan yang mengakibatkan satu sudut bibirnya tertarik ke bawah.
Dan itu membuatnya sulit untuk berkomunikasi. Tapi, beruntung karena Rahman masih bisa menulis dengan lancar tanpa ada hambatan. Ia menggunakan cara itu untuk berkomunikasi dengan istri dan kedua anaknya.
"Baik pa, Abizar akan menghampiri Khadijah esok hari dipondok bersama dengan Bilal."
Rahman merespon kedua putranya dengan anggukan beberapa kali.
*
*
*
"Cepat katakan siapa saja yang membantumu untuk melancarkan aksimu malam itu!" teriak salah satu petugas di ruang interogasi .
Kali ini polisi benar-benar bergerak cepat untuk kasus yang menimpa Khadijah. Malam itu, Furqon bahkan tak bisa berbuat lebih banyak lagi untuk menutupi segalanya.
"Jika tidak kau beritahu lagi , maka kau sudah tahu sendiri konsekuensinya nanti yang akan menunggumu didepan ."
__ADS_1
"Jadi, katakan saja agar kau tidak rugi mendekam didalam sana sendirian!"
"Bayangkan saat ini mereka tengah asyik atau mungkin berpesta sendirian tanpamu disana . Apa kau tidak menginginkan hal itu juga?" Imbuh seorang petugas dengan nada tegas dan menatap Furqon lebih dekat.
Dalam keadaan tangan terborgol dan wajah yang hampir saja memar tak bersisa Furqon meraung kesakitan.
"To-long jangan siksa aku lagi..." serunya dibalik wajah yang hampir mengenaskan.
Bahkan petugas disana takkan segan menghantam wajahnya jika ia masih terus berkelit.
Flashback Furqon.
"Argh!"
"Hentikan semua ini..." rintih dan teriaknya di balik jeruji besi. Tubuh dan wajahnya sudah terlebih dulu mendapatkan hantaman dari kawan satu selnya.
Yah, seperti pada umumnya seorang napi kasus tindak asusila. Ia pasti akan mendapatkan sambutan seperti itu dengan teman napi lainnya.
*
*
*
"Aku akan membuka segalanya, jadi tolong hentikan." pintanya dengan mengangkat jari telunjuknya disana.
Kini ia memberikan segala informasi yang polisi butuhkan untuk meringkus temanya yang lain. Furqon bahkan membuka secara terang benderang setiap rumah para pelaku tersebut dihadapan polisi.
Setelah mengantongi cukup informasi, polisi lantas membentuk tim untuk melakukan penangkapan kepada ke empat tersangka pelaku berikutnya.
Karana polisi telah mengantongi cukup bukti, Furqon lantas dikembalikan lagi kedalam sel untuk mendekam kembali disana.
"Lihatlah, ia kembali dengan mengenaskan!"
"Yah begitulah kalau bertindak ceroboh dan bodoh!"
Suara dan penilaian miring terhadap dirinya terdengar jelas menggema di ujung telinganya.
__ADS_1
"Selamat kau tidak mati dalam ruang pesakitan itu!" imbuh seorang lelaki dengan kumis cukup tebal dan memiliki ke dua ujung panjang yang sering ia pelintir memanjang ke kanan dan kiri.
...BERSAMBUNG ...