
"Siapa pelaku itu kak!"
"Katakan padaku!" teriaknya yang tak bisa mengimbangi emosinya dengan baik, bahkan di balik amarahnya ia begitu terlihat begitu kesakitan sambil terus meremas bagian perutnya.
Sakit itu semakin terus berulang hingga terasa ngilu tak tertahankan lagi.
"Ada apa, apa kau baik-baik saja?" tanya Bilal yang sudah mulai panik melihat wajah Khadijah pucat.
"Cepat panggilkan Al..." pinta Abizar yang sudah tak tahan melihat kesakitan Khadijah.
"Aku mau pulang kak, aku ingin bertemu papa!" imbuhnya kembali dengan teriakan sambil memejamkan matanya.
Abizar sama sekali tak memperdulikan hal itu, yang ada dalam pikirannya kali ini hanyalah keselamatan Khadijah dan calon bayinya.
*
*
*
"Saya akan segera memeriksanya, tenanglah." pinta Al yang sudah tiba disana.
Al mendapati ada sebuah darah yang menyumbat aliran infus milik Khadijah. Hal itu terjadi akibat gerakan tubuh Khadijah yang sama sekali tak rileks dan tegang sejak kehadiran kedua kakak laki-lakinya.
Ia pun segera meminta seorang perawat untuk membenarkan kembali selang tersebut.
"Bunuh saja aku, jangan perbaiki itu lagi ..." terang Khadijah yang terbaring tapi menitihkan air matanya disana.
__ADS_1
Tatapannya kembali kosong ketika mengingat kondisi sang papa yang begitu memprihatinkan saat ini, ia sama sekali tak dapat menerima hal buruk itu terjadi pada Rahman karena ulahnya.
"Jangan berkata seperti itu, Allah tak suka dengan hamba-nya yang berputus asa." jelas Al yang sejak tadi sibuk memeriksa tekanan darah Khadijah yang begitu rendah.
"Istirahatlah dengan cukup, maka kamu bisa kembali lagi ke pondok."
"TIDAK!" bentaknya.
"aku ingin pulang ..." jelasnya yang seketika menurunkan nada bicaranya kembali halus.
"Kalau begitu istirahatlah dan kembalilah pulang jika kau mau." sahut Al yang mencoba mengikuti kemana jalan pikiran Khadijah disana.
"Apa kau bercanda, aku bukan anak kecil yang bisa di bohongi dengan kata-kata manis seperti itu saja." rengeknya dengan menatap wajah Al sedih.
"Aku berjanji akan kabulkan hal itu sekalipun ke dua abangmu tak mengijinkannya. Aku sendiri yang akan mengantarmu nanti." janji Al .
*
*
*
"Syukurlah jika kata Al kau baik-baik saja." imbuh Abizar yang sejak tadi gelisah tak menentu di depan .
"Yah." sahut Khadijah ketus dengan membuang wajahnya.
Ia pun membelakangi kedua kakaknya dengan cepat, hingga selang infus itu kembali tergeser disana.
__ADS_1
"Eh ...eh." sahut Bilal yang begitu ngilu melihat tingkah Khadijah yang begitu sembrono dengan alat itu.
Bahkan mimik wajahnya terlihat begitu kesakitan ketika melihat Khadijah bergerak kesana kemari dengan leluasanya.
"Tak perlu khawatirkan aku lagi, pulanglah kalian!" jelas Khadijah yang sudah marah terlebih dulu.
Baik Abizar dan Bilal keduanya sama-sama kompak untuk meninggalkan Khadijah sendiri disana dan menunggunya di sofa samping ranjangnya.
Ketika ia tak lagi mendapati suara sang kakak, Khadijah membangun kan kembali tubuhnya sambil terus menekan halus perutnya yang masih kram berkelanjutan.
"Dasar egois !" umpatnya kesal melihat keduanya malah asyik tertidur dengan timpang tindih disana.
Tapi, saat keduanya asyik tertidur tiba-tiba saja ponsel Bilal berdering berulang kali disana. Bukanya diangkat, ia malah mendengkur dengan kerasnya.
Khadijah mendekati ponsel sembari berjalan lirih, karena yakin yang menelpon tersebut adalah Rahman .
"Mama ..." ucap Khadijah.
Ia pun memutuskan untuk mengangkat panggilan itu tanpa sepengetahuan keduanya. Sebuah panggilan video berlangsung disana dengan latar ruangan kamar Rahman.
Saat itu, wajah Rahman lah yang pertama kali nampak dilayar itu. Begitu tahu, bahwa itu sang papa Khadijah kembali menangis dengan sejadi-jadinya disana sambil terus membungkam mulutnya agar kedua kakaknya tak terbangun .
Papanya begitu kesulitan untuk menggerakkan wajahnya terutama bagian bibirnya. Tapi Khadijah terus bersembunyi di kejauhan tanpa menunjukkan wajahnya disana.
Ada rasa lega dan rindu begitu berat dihati Khadijah saat ia memandangi wajah sang papa yang begitu menyedihkan.
"Khadijah ..." Sapa Fatimah yang sudah begitu hafal siapa putrinya.
__ADS_1
Anak gadisnya tersebut, akan bersikap seperti itu jika dirinya melakukan aksi mogok bicara dengan siapapun.
...BERSAMBUNG...