
Niat baik yang tadinya sudah tertata rapi dihatinya kini harus buyar dengan amarah yang semakin mengusai dirinya secara perlahan namun pasti telah bergejolak.
"Kau bahkan tak lebih dari seorang pengemis!" ujar Khadijah dengan mengetatkan rahangnya .
Furqon berdecak sambil menyunggingkan senyum sinis dengan penuh arti. Hal itu semakin membuat ia memiliki jarak begitu jauh dari Khadijah dan sang anak. Bahkan ia lupa niat awalnya kesana adalah berbicara dari hati ke hati dengan wanita yang ingin ia pinang.
Belum sempat ia merebut hati Khadijah , Furqon sudah mampu menggores luka untuk kedua kalinya didasar lubuk hati gadis yang terlihat kuat diluar namun ringkih didalam.
"Menjijikkan, pergilah! " umpat Khadijah kembali. Sedangkan Fatimah yang sejak tadi hanya mampu menahan gelisahnya berharap ada seseorang yang mampu untuk menenangkan keduanya. Setidaknya utnuk putrinya yang sejak tadi sudah tertindas oleh semua ucapan ibu Furqon Nambiya.
Pemuda itu terlihat maju lebih dekat dengan Khadijah , bahkan mungkin hanya berjarak satu langkah saja disana. Melihat tatap mata Furqon yang berbalik menjadi tatapan penuh kekesalan, Khadijah sama sekali tak gentar untuk menantang pemuda itu dengan tatapan sinisnya.
Dengan membusungkan dadanya, Furqon mencoba menarik dagu Khadijah tapi sudah ditepis terlebih dahulu dengannya.
"Galak sekali dirimu sayang, apakah ini ditempat umum ?"
"Apa kau lupa lelaki yang kau sebut menjijikan ini juga ayah biologis darah dagingmu?"
"Tentu, dia juga darah dagingku. Darahku mengalir ditubuh kecilnya, bisa dibilang darah kita berdua menyatu disana penuh dengan cinta malam itu!" Bisik Furqon dengan sedikit memberikan penekanan hingga membuat mata Khadijah terbuka lebar dan ingin rasanya membinasakan dirinya.
Entah dinding setebal apa yang ia bangun untuk membendung rasa kesal bahkan amarahnya untuk menghadapi ibu dan anak yang nyatanya tak memiliki sikap jauh berbeda. Bahkan terkesan sama saja dimata Khadijah.
"Kenapa diam, marahmu lebih seksi dibandingkan dengan seribu diam mu!" goda Furqon dengan tangan nakalnya.
__ADS_1
Hal itu juga semakin memantik bara api dihati Fatimah sebagai seorang ibu.
"Jika sudah cukup silahkan pergi anak muda!" sambung Fatimah dengan raut wajah yang tak segan lagi terhadap dirinya. Bahkan ibu dari Khadijah tersebut menunjuk pintu keluar dihadapan Furqon untuk mempersilahkan dirinya segera pergi secepat mungkin.
"Jangan lupa ibu, ini bukan rumah anda." balas nya dengan senyuman licik.
"Jadi anda tidak bisa mengusir saya sesuka hati anda dari sini seperti itu!"
"Saya pikir anda dari keluarga yang memiliki basic islami begitu dalam, tapi nyatanya sama sekali tak diterapkan dengan baik jika tengah berinteraksi dengan orang baru seperti saya!"
"Payah!" makinya dengan kasar.
Tentu hal itu tak dapat lagi ditoleransi oleh Khadijah yang sudah mengepal tanganya dengan erat hingga memerah.
Sebuah tamparan cukup keras dari Khadijah yang nyatanya mampu membungkam mulut besar Furqon dengan seketika.
"Beraninya kau!" maki Furqon dengan mengerang kesakitan.
Tangan itu sudah terangkat dan hampir mendarat diwajah Khadijah. Bahkan ibu satu anak itu sudah memejamkan matanya untuk bersiap menerima tamparan balik Furqon .
"Hentikan," teriak Al yang belum sempat mendekat pada keduanya tapi mampu menghentikan laju tangan Furqon.
Furqon menatap seorang lelaki yang pernah ia jumpai sewaktu sidang pertamanya dulu digelar, wajah itu tak lagi asing bahkan ia saat itu juga berada ditengah-tengah keluarga Khadijah meski hanya memilih sikap diam dan netral.
__ADS_1
"Jangan lanjutkan lagi tanganmu bung!" jelas Al yang kini menepuk punggungnya.
"Siapa kau berani mengatur diriku dan calon istriku!"
"Kau!" Pekik Khadijah yang tak begitu menerima omong kosong Furqon disana.
*
*
*
Setelah beberapa lama terdiam Al yang tadinya menunduk seketika mengangkat wajahnya dengan menatap kedua mata Furqon penuh keyakinan.
"Kenalkan aku Al, calon suami Khadijah!"
Khadijah menatap Al sembari menatap Furqon silih berganti.
"Jangan berani kau menyebutnya seperti itu, dia lebih pantas denganku dibandingkan dirimu yang terlihat begitu polos dan bodoh!"
Ia mengumpat sesuka hatinya dengan penuh penekanan dan perlawanan, ia tak mau jika harga dirinya harus hilang dan terinjak oleh pemuda asing yang baru saja dikenalnya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1