Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Selisih paham


__ADS_3

"Saya sama sekali tidak menyinggung harta kekayaan sama sekali disini. Maaf." terang fatimah dengan merendahkan dirinya sekali lagi.


Tapi rupanya itu tak membuat Nambiya berhenti berapi-api. Ibu dari Furqon itu terus mencaci maki keluarga Rahman terlebih lagi Khadijah.


"Anda pikir siapa yang mau menikahi anak gadis yang sudah berbadan dua!"


"Bahkan untuk berpikir meminangnya saja takkan pernah terbesit oleh lelaki manapun!" olok Nambiya tanpa berpikir dahulu.


Tanpa ia sadari bahwa perkataannya yang pedas barusan dapat didengar oleh Khadijah dengan jelas di depan pintu kamarnya. Saat itu Khadijah memang tak tahu jika hari ini akan kedatangan kedua orang tua Furqon disana.


Tangannya terlihat mengepal dan jantungnya berdegup cukup kencang, ia begitu merasa terhina dengan perasaan Nambiya. Khadijah melangkahkan kakinya dengan perlahan untuk menghampiri Nambiya.


"Lantas, gadis mana juga yang akan sudi memiliki ibu mertua seperti anda. Belum menjadi bagian keluarga saja sudah pandai menghina anak orang lain!"


"Saya pastikan tidak akan ada satu gadispun yang mendekati putra kebanggaan anda yang busuk itu!" balas Khadijah tak kalah menohoknya.


"Dan jangan berharap bahwa saya akan sudi menerima pinangan ini, beruntung orang tua saya tak sekolot pemikiran anda. Jadi saya masih bisa terselamatkan dari orang seperti anda!" imbuh Khadijah dengan nada penuh penegasan.


Tak terdengar lagi suara Nambiya menggema disana, bahkan ia terlihat mati kutu seketika saat mendengar semua penolakan mentah-mentah dari Khadijah.


"Ayo berdiri, mari kita pulang!" bisiknya lirih kepada sang suami yang sejak tadi hanya terdiam .

__ADS_1


Keduanya pun berlalu dari hadapan orang tua Khadijah dengan angkuhnya. Sementara Fatimah yang masih begitu menghormati tamunya, masih dengan senang hati mengantarkan keduanya sampai depan pintu rumah.


*


*


*


"Eh, nak Al?"


"Sejak kapan disini, kenapa tidak langsung masuk saja tadi?" sapa Fatimah dengan lembutnya.


Tanpa diduga, Khadijah yang berada dibalik punggung Fatimah juga menyapanya dengan penuh manja.


Bukan hanya Fatimah saja yang terpancing penuh keheranan, kedua orang tua Furqon pun juga tengah memperhatikan Al semenjak pertemuan mereka saat itu. Terlebih lagi Nambiya, tak ada sedetik pun ia memalingkan pandangannya terhadap Al. Apalagi ia telah mendengar jika Khadijah menyerukan soal pemilihan tanggal terhadap Al.


"Cih, memang dasar gadis murahan!"


"Beruntung anakku tak jadi mempersuntingmu!" sarkas Nambiya dengan pandangan sinis terhadap Khadijah.


Mendengar umpatan Nambiya baik Khadijah ataupun Fatimah sama sekali tak memberikan respon apapun. Keduanya membiarkan begitu saja keduanya pergi dan berlalu dari sana.

__ADS_1


"Ayo mari silahkan masuk nak Al." ajak Fatimah kemudian.


Saat Al melangkah masuk kedalam rumah, Rahman yang masih duduk di kursi roda menyambutnya penuh dengan senyuman. Pria itu sejak tadi telah melipat mukanya semenjak kedatangan Nambiya.


Al kemudian meraih tangan Rahman untuk memberikan salam.


"Maafkan aku mas atas ucapanku tadi didepan mereka berdua. Aku hanya ingin..." terang Khadijah dengan rasa teramat bersalah, tapi terhenti ketika Al menjawabnya dengan cepat.


"Tidak perlu meminta maaf, saya sangat mengerti." terang Al dengan senyuman.


Fatimah pun mencoba mengalihkan pembicaraan keduanya yang terasa cukup tegang disana dengan meraih sebuah godie bag kecil berwarna gold disebelah kue memanjang.


"Nak Al kalau mau main, main saja nak. Nggak perlu serepot ini." ujar Fatimah dengan memegang kedua buah tangan Al.


"Tidak, hanya ingin menyambung tali silaturahmi saja saya bu." imbuhnya .


"Tas paling kecil itu untuk Khadijah, saya khusus membelikannya untuk ia kenakan jika berkenan." ujarnya dengan rasa sungkan dan malu-malu.


Mendengar perkataan Al, Khadijah yang sejak tadi tak begitu menghiraukan keberadaannya seketika menunjuk dirinya sendiri seraya berkata "Aku?"


"Tentu, itu untuk kamu. Sebenarnya itu adalah titipan dari abah." jelasnya.

__ADS_1


Al dengan cepat memutar otaknya supaya tidak terjadi kesalahpahaman disana, ia membawa nama sang ayah dalam hal ini terlebih lagi itu menyangkut Khadijah.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2