Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Tangis haru


__ADS_3

"Subhanallah..." seru tim dokter dan perawat lainnya.


Mereka semua terkesima dengan kejadian alam yang begitu nyata dan menakjubkan.


Meskipun pandangan matanya masih belum sempurna, Khadijah sudah bisa mencium aroma tubuh sang anak yang kini berada tepat dalam pelukan tanganya yang masih lemah.


"Sayang, kau selamat nak." ucapnya pertama kali saat mengecup sang buah hati.


"Beristirahatlah dengan baik, bayi ini begitu hebat hingga bisa melalui masa sulitnya!" tegas Al yang juga mendekat pada keduanya.


Ketiganya bahkan seperti seorang anggota keluarga kecil baru yang penuh kebahagiaan dan suka cita. Pemandangan yang selalu dirindukan oleh kedua orang tua Khadijah jika kelak bayi itu terlahir ke dunia. Memiliki ayah dan juga ibu, akan melengkapi hidupnya dengan sempurna.


"Al, bolehkah aku meminta sesuatu?" ucapnya dengan suara parau dan lemah.


"Katakan, setelah itu berjanjilah kau akan beristirahat kembali." sambut Al dengan sebuah harapan.


"Tolong segera adzani bayi ini..." pinta Khadijah dengan begitu bergetar, ia sadar hal itu tak semestinya dirinya minta pada Al mengingat anak itu juga memiliki ayah kandung yang sebenarnya. Tapi sungguh Khadijah tak rela jika Furqon lah yang melantunkan ayat suci tersebut.


"Baik!" sambung dengan mantap.


Karena sudah berjanji dengan Khadijah, Al segera menyusul bayi yang masih belum mempunyai nama disana disebuah ruangan bayi. Ia terlihat begitu mungil dan lucunya di dalam ranjang dengan kelambu putih tertutup diatasnya. Mata kecilnya melihat ke kanan dan kiri meski ia belum sempurna bisa melihat dunia ini dengan baiknya. Sesekali bibir kecilnya menjulurkan lidah mungilnya keluar dan kedalam berulang.


Rambutnya begitu tebal dan hitam, tak lupa bahwa kulitnya begitu putih dengan kedua pipi merah merona. Ia nampak begitu sehatnya dengan pipi yang chuby.


"Hai sayang , aku harus memanggilmu apa jagoan. Mama mu masih terlalu lemah untuk memberimu sebuah nama." sapa Al dengan manis yang menatapnya dibalik kelambu.


Hingga pada akhirnya ia menyibak kelambu itu dan mengangkat perlahan penuh kehatian dan kehangatan.


Kali ini Al benar-benar merasakan takut beserta juga takjub. Al takut jika anak itu sampai merasa tak nyaman dalam dekapanya. Dan ia begitu takjub dengan laki-laki kecil tersebut, ia mampu membuat ibunya kembali sadar dalam masa kritisnya dengan suara lembut tangisan.

__ADS_1


Al mengangkatnya lebih dekat dengan bibirnya, dan segera memulai lantunan adzan yang sudah diminta oleh Khadijah. Begitu merdu lantunan adzan Al disana , hingga beberapa bayi yang tadinya menangis mendengar suara Al diam seketika .


Usai mengadzani bayi tersebut, Al segera memberikan kabar pada Bilal malam itu jika keponakannya telah terlahir didunia dengan selamat dan sehat tanpa kekurangan satu apapun.


"Katakan Al, bagaimana Khadijah!" sambung Bilal dengan pertanyaan gemetar.


"Baik alhamdulillah, cepatlah datang karena Khadijah membutuhkan kalian." pinta Al yang segera menutup panggilnya beserta mengucap salam.


*


*


*


Al mengambil duduk tepat didepan ruangan bayi untuk menghela nafas karena telah melalui waktu yang begitu berat selama beberapa jam.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, ayah hari sudah malam dengan siapa kemari?" Al menyambutnya dengan wajah tak kalah khawatir.


"Maafkan Al yang tadi meninggalkan ayah begitu saja di rumah. Al minta maaf yah!" sesal Al dengan menundukan kepalanya.


"Sudah tidak perlu minta maaf, ayah tau mana keadaaan yang harus kau dulu kan mengingat itu adalah tugas seorang dokter. Ayah selalu mendukungmu dalam hal baik apapun." tutur Mumtaz yang sangat perhatian dan pengertian.


Al lega dan tersenyum puas dengan jawaban sang ayah.


"Bagaimana Khadijah?" tanya Mumtaz.


Al pun menceritakan bagaimana situasi tegang itu berlangsung selama beberapa jam tadinya hingga semua terlihat baik dan kondusif hingga saat ini.

__ADS_1


"Syukurlah..." imbuh Mumtaz.


Dari kejauhan lorong rumah sakit , terdengar derap langkah kaki berjalan menuju ke arah mereka dengan cepat. Rupanya mereka adalah anggota keluarga Khadijah disana, setelah menempuh perjalanan begitu cepat mereka akhirnya telah sampai .


"Nak, dimana Khadijah dan juga bayinya?" Sapa Fatimah yang sudah tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya begitu hebat.


"Khadijah dikamar dan itu dia jagoan kecil Khadijah disana bu." tunjuk Al dengan bahagianya.


Tak menutupi raut bahagia dan juga sedih terpancar jelas diwajah Fatimah dan Rahman. Keduanya sedih karena baik anak kecil tersebut juga putrinya tanpa seorang pendamping dalam kondisi ini.


Belum juga Fatimah dan seluruh keluarganya keluar dari rasa sedih yang menjebaknya, suara seorang wanita menggelegar keras menerobos lorong remang rumah sakit tersebut.


"Al ...!" teriak kesal Florentina, kali ini kedatangannya disana bersama dengan Tanoe papanya.


"Ada apa ini rame-rame!" tanya Flo penuh dengan selidik, karena gadis itu juga mengingat betul wajah mereka semua adalah keluarga wanita hamil yang ia curigai bersama dengan Al.


"Mereka anggota keluarga Khadijah, perkenalkan." sambung Mumtaz yang menengahi suasana tegang disana.


Florentina hanya tersenyum simpul dan penuh kepalsuan menyapa mereka dengan hati tidak tulus.


"Katakan Al, kamu disini ngapain si !"


"Pak Yudho bilang kamu ke rumah sakit dengan seorang wanita hamil. Apa itu dia!" Protes Florentina dengan memberikan sebuah kata penuh penekanan.


...BERSAMBUNG ...


I


...----------------...

__ADS_1


...Mampir kesini ya!...



__ADS_2