
Nambiya kembali meneliti setiap lekuk wajah sang cucu dengan tatap mata penuh ketelitian. Hatinya berkecamuk karena bayi itu sama sekali tak mirip dengan sang anak, lebih tepatnya hanya mewarisi wajah sang ibu seutuhnya .
Hal itu rupanya pernah terjadi dalam sejarah hidup Nambiya, saat dirinya tengah mengandung Furqon dahulu dan di tiba dimasa ia harus melahirkan Furqon kecil. Wajah anak itu sama sekali tak mirip dengan sang ayah, bahkan wajah Furqon juga cenderung lebih mirip dengan Nambiya dari pada ayah kandungnya.
Rupanya kejadian itu juga sempat membuat rasa curiga yang berkelanjutan bagi ayah kandung Furqon dan keluarganya. Mereka bahkan ragu jika Furqon adalah darah daging sang putra.
"Ck , bukan hanya bapakmu saja yang bernasib malang. Rupanya juga menurun padamu, kalau begini jadinya mana mungkin aku bisa mudah percaya jika anaku adalah ayahmu!" gerutu Nambiya yang sejak tadi memutar mutar kepalanya untuk mencari cela sedikit saja walaupun akhirnya tak menjumpai paras sang anak disana.
Tanpa ia sadari bahwa sikapnya cenderung sama dengan sikap sang mertua dahulu kala terhadap dirinya. Menuduh tanpa alasan dan sebuah bukti.
Diruangan lain, Khadijah yang baru saja usai membersihkan dirinya ingin berjalan-jalan ke luar kamar untuk mendapatkan kondisi yang jauh lebih baik dan segera pulih.
"Mama akan temani kamu. " seru Fatimah yang sekarang berdiri tepat disampingnya.
Khadijah mengangguk penuh kebahagiaan.
Setelah usai berputar-putar berkeliling disepanjang lorong rumah sakit, ia berniat untuk memutuskan mengunjungi ruangan bayi dan melihat anaknya.
*
*
__ADS_1
*
Wajah Khadijah tiba-tiba menegang ketika kedua matanya menangkap sosok wanita yang asing baginya tengah menggendong sang putra didalam ruangan.
Dengan tak sabar dan gelisah , ia lantas membuka pintu ruangan kamar tersebut tanpa ijin terlebih dahulu pada suster jaga disana.
"Eh mamanya adek ganteng..." sapa perawat jaga tapi Khadijah tak meresponnya dan hanya fokus pada bayi kecilnya.
Saat itu Nambiya masih tak memperdulikan siapa sosok yang tengah berada dalam satu ruangan denganya, karena ia mengira bahwa wanita tersebut adalah salah satu ibu dari sekian banyak bayi lainnya disana.
Hingga pada akhirnya, Khadijah menepuk pundak Nambiya untuk menyapanya.
"Astaga!" Nambiya begitu terkejut ketika dirinya tengah asyik menggendong dan menilai sang cucu hingga sedemikian rupa.
"Kamu?" Suara keduanya secara bersamaan disana saling menyapa.
Kedua mata yang tak pernah saling suka menatap satu dengan yang lainnya. Dan itu sama sekali membuat keduanya tak nyaman dengan pertemuan disana.
"Siapa yang sudah memberitahukan anda tentang kabar ini?" sambung Khadijah dengan suara bergetar menahan marah.
Nambiya hanya menyunggingkan senyuman licik.
__ADS_1
"Siapa!" teriak Khadijah reflek karena sudah sangat geram melihat kehadirannya.
Khadijah benar-benar tak sadar jika dirinya tengah berada dimana, suara teriakan lantangnya sontak membangunkan semua bayi yang baru saja tertidur pulas didalam ruangan itu. Seketika ruangan menjadi penuh sesak dengan suara tangisan bayi, perawat jaga yang tadinya duduk dengan mengisi beberapa lembar form bayi segera bangkit untuk menenangkan semua bayi itu dengan suara lembut.
"Tolong semua untuk segera keluar dari ruangan ini !" semburnya terhadap kedua orang wanita yang sudah bersitegang disana.
Perawat tersebut lantas mengambil alih bayi dalam gendongan Nambiya dengan cepat dan menidurkanya kembali. Melihat itu, sejenak hati Khadijah yang tadinya begitu membara padam seketika.
Kini keduanya sudah berada diluar ruangan dan disaksikan oleh Fatimah juga. Bertemu dengan calon besanya , bukanya ia menegurnya dengan halus dan ramah Nambiya malah terlihat angkuh saat Fatimah mengulurkan tanganya untuk menyapanya.
"Mama tidak perlu bersikap manis denganya!" sarkas Khadijah .
"Baguslah..." sambut Nambiya dengan sombong.
"Lagi pula, jika aku lihat anakmu tadi tidak ada mirip-miripnya dengan putraku. Aku jadi ragu jika ia adalah darah daging Furqon , atau mungkin kau ...?"
"Pelacur ?"
"Wanita murahan?" sambut Khadijah dengan geram dan ingin rasanya meremat wajah ibu dari laki-laki yang sudah merusak kehidupannya.
Nambiya hanya tersenyum tipis melihat semua ungkapan kesal Khadijah .
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...