Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Muak


__ADS_3

Mendengarkan hal itu, khadijah yang telah berada dibangku belakang barisan paling depan bersama dengan keluargannya seketika murka. Wajahnya merah padam serta kedua tangannya mengepal. Begitu sempurna gurat wajah kebenciannya terpancar disana.


"Tutup mulutmu, seumur hidupku aku tidak akan membiarkan anak ini jatuh pada seorang ayah bejat sepertimu!"


Perkataannya gemetar, bahkan derai air matanya tak sanggup ia sembunyikan lagi sejak jalannya persidangan dimulai. Terlebih lagi ketika ia mendapati pengakuan Furqon, emosinya seketika meledak.


Hakim mengetuk palunya, untuk menghentikan protes Khadijah yang sudah diluar haknya.


"Saudari, mohon tenangkan diri anda terlebih dahulu. Biarkan saudara ini msnyelesaikan semuanya dengan jelas." pinta hakim .


Fatimah segera bangun dari duduknya untuk membimbing Khadijah duduk kembali seraya mengusap air mata sang putri. Ibu mana yang akan kuat melihat penderitaan seorang anak , bahkan juga Fatimah. Ia hanya berusaha untuk tegar dihadapan Khadijah yang tengah menghadapi hatinya yang remuk.


Perlahan pundak Khadijah diturunkan oleh Fatimah dan duduk secara bersamaan.


Saat itu mereka suka tidak suka pun harus merelakan hatinya untuk lapang menyaksikan segalanya.


*


*


*


Setelah usai persidangan, hakim telah memutuskan dengan segala pertimbanganya untuk menjatuhi hukuman pada Furqon selama 11 tahun penjara lamanya.

__ADS_1


Disana, lagi-lagi keduanya harus dipertemukan kembali dalam keadaan yang tak begitu mengenakkan.


Dengan mata yang masih sembab Khadijah berjalan sambil dipeluk oleh Fatimah ibunya. Sementara Furqon yang masih dalam keadaan terborgol kedua tanganya tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat disebelah Fatimah.


"Ku mohon berhentilah ..." pintanya dengan bertekuk lutut dihadapan Khadijah.


Khadijah begitu terkejut dengan sikap Furqon yang secara tiba-tiba seperti itu.


"Berikan aku waktu sebentar saja aku mohon!" Ujarnya dengan sepenuh hati.


Saat itu Khadijah pun berhenti untuk melangkahkan kakinya disana, dan menatap kembali Furqon yang masih bersimpuh.


"Katakan apa mau mu!" serunya dengan acuh, bahkan wajahnya sama sekali tak menatap pemuda yang tak lain adalah ayah dari calon anaknya.


Hatinya kembali mendidih setelah mendengar ucapan tak pantas itu kembali menggema di ujung telinganya. Tangan Khadijah sudah bersiap untuk memukul wajah Furqon. Tapi belum tangan itu sampai menyentuh ujung wajah pemuda tersebut, dari belakang Rahman dan kedua kakaknya memberhentikan aksi Khadijah yang ingin nekat memberikan sebuah tamparan.


Terlihat begitu kesal wajahnya ketika ayunan tangannya terhenti di udara. Ia mencoba menggerakkan kembali tangannya disana, tapi hanya sia-sia belaka karena Bilal begitu kuat memeganginya.


"Jangan kotori tangan mu dengan melakukan hal yang tak pantas bagi seorang wanita!" ujar Bilal yang selangkah lebih maju dari Khadijah.


Bahkan kini Furqon telah berlutut tepat dihadapan Bilal, bukan lagi Khadijah.


"Mau apa lagi kau dengan adikku?" sahut Bilal dengan nada tegas dan lantangnya.

__ADS_1


Furqon mengangkat lagi wajahnya dan menatap Bilal sembari memperhatikan Rahman. Betapa kecewanya Furqon ketika melihat kondisi Rahman sampai sejauh ini, padahal terakhir kali pertemuan keduanya masih terlihat baik dan sehat.


Furqon memutuskan untuk menghampiri Rahman, berjalan menggunakan kedua lututnya. Kebetulan jarak mereka tak begitu jauh disana.


"Ampuni saya pak, tolong ampuni saya!" pinta Furqon dengan isak tangis yang ia tumpahkan dipangkuan Rahman.


Melihat aksi Furqon, Bilal sudah bersiaga tepat di depan sang papa yang telah merasa risih dengan kondisi saat itu. Setengah mati rasanya ia ingin menarik tangannya dari dekapan tangan Furqon, dan sesekali ia terlihat memalingkan wajahnya.


"Bajingan ..."


"Hentikan sandiwara palsumu itu, apa kau tidak melihat bahwa papa ku sudah sangat tidak nyaman melihat kehadiranmu disini hah?" serunya dengan menarik tubuh Furqon menjauh dari sang papa.


"Aku hanya ingin meminta restu dari ayahmu Bil ..."


"Aku berniat baik kali ini pada adik perempuan mu!" teriak Furqon yang sama sekali tak menyerah.


"Bag bug bag bug."


Hantaman itu Bilal lakukan agar Furqon lebih bijak lagi dalam berkata kepada kedua orang tersayangnya.


"Kau boleh menghajarku!"


"Bahkan sampai matipun kau boleh memukulku, tapi satu hal yang takkan pernah salah dalam hal ini. Dia adalah tetap darah dagingku Bil !"

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2