Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru

Butir Cintaku Diatas Sajadah Biru
Empat mata


__ADS_3

Setelah pertemuan tersebut berlangsung, kini Tanoe dan Flo berpamitan kepada keduanya untuk meninggalkan pondok. Dan seperti biasa , Flo tidak akan pernah berhenti menempel ditubuh Al meski pemuda itu begitu risih dengan sikap anak perempuan Tanoe.


"Flo ...!" Seru Tanoe dengan menarik lengan sang putri yang sejak tadi sudah bergelayùtan manja.


"Baiklah kami permisi dulu, ditunggu kabar baiknya yai. Assalamualaikum. " pungkasnya.


Florentina lantas memberikan ciuman mengudara khasnya penuh dengan centilnya pada Al. Anak lelaki Mumtaz tersebut hanya bisa tertunduk pasrah dan malu.


"Iiiiiiiiih menjijikan! " teriak dua orang perempuan yang sudah mengawasi Florentina dari jendela dapur.


"Sttt!" sahut Sukma dengan geramnya dengan menempelkan ujung sendok penggorengan ke arah bibir Komariyah.


Wajahnya berubah aneh seketika setelah benda hangat-hangat kuku tersebut mengenai ujung bibirnya.


"Sontoloyo! "


"Opo lambemu wae sing tak goreng!" maki Komariyah dengan mengecek sekali lagi bentuk bibirnya.


Ia pun melanjutkan pengintaianya melalui balik jendela tersebut dengan mengawasi seluruh sekujur tubuh Florentina dengan sinisnya.


"Masak iya ayang beb mau aja di tempelin demit bolong kayak begitu. Pakaian aja kurang kain dan jahitan, apa lagi akhlaknya kan!" cecarnya dihadapan Sukma.

__ADS_1


"Cantikan aku juga kemana-mana!" imbuh Sukma dengan tingkat kepedean di atas rata-rata.


Keduanya begitu sibuk menghujat penampilan Flo saat itu, hingga semua makanan yang tengah mereka masak di atas kompor hangus serentak. Dua kuali besar yang berisikan gorengan tempe dan tahu mendadak hangus tak tersisa. Dan sayur santan daun pepaya juga berubah menjadi kuah hitam sebagian.


"APA INI ...!" teriak Ema yang baru saja mengecek dapur.


Rupanya teriakan itu tak cukup menyadarkan keduanya yang masih asyik mengintip disana. Bahkan aroma yang begitu menyengat akibat kepulan asap pun tak lantas membuatnya bangkit.


"Aw aw awww!" teriak Komariyah dan Sukma hampir bersamaan setelah Ema menjewer kedua telinga mereka tanpa belas kasih.


Bagaimana tidak, seluruh hidangan yang hendaknya akan disajikan untuk makan siang para santri harus mubazir akibat ulah keduanya.


"Tanggung jawab nggak kalian!"


Protes Ema tanpa henti dan mengajak keduanya untuk menghadap Mumtaz yang kebetulan tengah berjalan menuju dapur utama karena melihat kepulan asap membumbung tinggi.


"MasyaAllah apa itu ..." seru Mumtaz yang kemudian berjalan cepat yang juga di ikuti dengan Al dibelakangnya.


"Ah , sakit!" ujar Komariyah sambil terus mengusap satu telinganya yang mungkin barangkali sudah membengkak kebiruan akibat jeweran sang ibu.


"Yaii ..." sapanya yang tak kalah terkejut ketika Mumtaz sudah berada didepanya dengan wajah yang begitu panik dan mencari dari mana berasal kepulan asap tersebut.

__ADS_1


Keduanya sontak menurunkan pandangannya pada Mumtaz dan Al karena rasa bersalah yang begitu hebat di dasar hatinya. Bukan hanya itu , akibat keteledoran yang mereka ciptakan semua santri terancam tak bisa mendapatkan jatah makan siang hari ini.


"Maaf yai, ini salah mereka karena sudah teledor menjaga dapur hari ini. Karena keduanya memang telah piket memasak." terang Ema yang begitu sungkan dengan prilaku sang anak, meski Komariyah putrinya sendiri ia bahkan tak segan mendidiknya dengan begitu keras.


"Astaghfirullah Komar ..."


"Bukan hanya dapur ini saja yang bisa terbakar, seluruh pesantren juga bisa ludes kalau kamu tidak benar-benar menjaga tanggung jawabmu sebaik mungkin."


"Tak apa, yang penting semua selamat. Sekarang tolong saya untuk kumpulkan semua para santri di aula untuk berkumpul bersama. Karena 5 menit lagi sudah waktunya mereka makan siang." Ujar Mumtaz yang selalu begitu bijak menyikapi setiap satu masalah .


*


*


*


Ternyata semenjak sang ayah dan Ema telah berkomunikasi, Al menyimaknya dengan baik. Bahkan Mumtaz tak perlu meminta pertolongan darinya untuk membantu memecahkan masalah ini. Al sudah lebih dulu sigap untuk membantu sang ayah dalam mengatasi situasi tersebut.


Setelah semuanya berkumpul di aula, dan terpisah menjadi dua bagian. Disana rupanya Mumtaz meminta Ema untuk menyiapkan makan siang seadanya bagi para santri. Tak lupa ia pun segera bangkit untuk menyampaikan rasa maafnya pada seluruh santri sebelum acara makan siang dimulai.


Tapi belum tanganya menyentuh ujung mic tersebut , tiga mobil box datang beriringan dan berhenti tepat didepan aula gedung pesantren. Bahkan semua tak asing lagi, karena mobil box tersebut telah tertempel logo stiker ayam merah yang cukup besar dari salah satu restoran cepat saji yang sudah memiliki nama besar.

__ADS_1


Suara riuh dan sorak yang bergemuruh pecah seketika di dalam sana menyambut para pelayan restoran tersebut.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2