Catatan Rahwana : Skandal

Catatan Rahwana : Skandal
Catatan 9 : Kumpulan Cerita Seram


__ADS_3

Lalu Rahwana teringat satu hal,


“Saya pernah melihat Pak Firman yang satunya,” katanya.


Dalam sekejab, seringai yang lain lenyap. Lalu mereka saling memandang. “Kami juga pernah lihat. Dan tampaknya bukan hanya Pak Firman yang ia tiru,”


“Dia pernah menyamar juga menjadi Pak Rey, dan tingkah lakunya mirip sekali,” sungut Pak Jared. “We talked a lot, I even shared my personal life with him!” (kami bicara banyak, saya bahkan menceritakan kehidupan pribadi saya dengannya), “Tiba-tiba pulpen saya jatuh, dan saat saya ambil ke bawah meja...”


Pak Jared memucat.


“Tidak punya kaki,” tambah Pak Manto.


Pak Jared mengangguk tegang. “Sepanjang hidup saya di New York, baru kali ini, di sini, di gedung ini, saya ketemu hantu,”


Semua tersenyum masam.


“Saya lari keluar ruangan, ketemu Pak Manto yang sedang patroli malam. Ternyata Pak Manto juga sedang ketakutan,”


“Saya sedang dikejar Nenek yang badannya cuma setengah,” kata Pak Manto.


“Kami lari keluar berbarengan. Lalu saya menginap di rumah Pak Manto karena nggak berani tidur sendirian di apartemen,” gerutu Pak Jared.


“Badan saya juga menggigil, tiga hari saya demam! Baru kali ini saya melihat setan sejelas itu,” Pak Manto bergidik.


“Hati-hati Pak, bisa jadi salah satu dari kita juga nggak riil,” sebenarnya Rahwana hanya bercanda, tapi semua malah jadi tegang.


“Ini si Iwan beneran nggak? Lo kan harusnya shift malam,”


“Hoy, gue punya kaki nih!” sahut Rahwana sambil cengengesan.


“Kaki asli nggak niiih,” Junet menyentil-nyentil betis Rahwana.


“Hehe, tenang, kita sekarang di luar area gedung. Kayaknya mereka hanya bisa mengganggu di dalam sana,” Rahwana tahu ini, karena ‘mereka semua’ terikat di sana. Menunggu seseorang membebaskan mereka.


Apa tujuan sebenarnya jebakan ini?


“Gue resign aja kali ya, minta mutasi ke gedung sebelah, gitu?!” gumam Pak Syarif.


“Kalau dari outsourcing sih gampang minta mutasi, apa kabar kita yang dipantek buat nge-cuanin perusahaan ini. Mana sial melulu ,” gerutu Pak Aji sambil mengusap tengkuknya dengan frustasi.


“Makanya saya minta naik gaji, karena kontraknya kan hanya masalah bisnis, ternyata yang saya hadapi juga masalah kesehatan mental,” kekeh Pak Jared.


“Kalau masalah yang itu, gaji sebesar apa pun tetap saja tidak tenang ya Pak,” kata Pak Aji.


Pak Jared mengangguk mengakui.


“Ngomong-ngomong soal astral di luar sana, selain yang di gedung, pada punya pengalaman nggak sih?” tanya Rahwana untuk mencairkan ketegangan.


Pak Syarif menipiskan bibirnya, "Hal seram yang saya alami tidak langsung saya rasakan, sebenarnya. Tapi cukup membuat saya trauma,"

__ADS_1


"Coba ceritakan saja Pak, siapa tahu bisa lebih lega," kata Junet.


"Jadi, waktu Mbah saya masih hidup, kami sering menginap di rumahnya di kampung. Saat malam tiba digantikan dengan suasana pedesaan yang hening, di rumah kami malah ramai suara orang. Ruang tamu kami terdengar hiruk-pikuk seperti kami sedang berada di pasar,"


"Kami sampai tidak berani mengintip keluar, karena kami sudah tahu kalau di luar sana terdapat aktivitas yang tidak sewajarnya,"


"Apakah Mbah-nya Pak Syarif ini memberi sesaji untuk sesuatu yang Ghaib?"


"Wah, saya tidak berani bertanya seperti itu, Mas," Pak Syarif menggaruk kepalanya. "Tapi pernah suatu waktu saat saya menginap, saya pernah merasa sedang diamati. Di pikiran saya, saya melihat banyak sekali mata yang menempel dimana-mana. Di dinding, di lemari, di semua tempat. Entahlah hanya halusinasi atau tidak. Yang jelas ya saya lumayan panik,"


"Juga, saat kakaknya si Mbah, jadi ya masih mbah saya juga ya, menempati rumah itu, para tetangga sering bilang kalau rumah itu menyala. Warnanya membara seperti warna nyala api,"


"Banaspati, mungkin Pak?" tanya Hariyanto sambil melahap gorengannya.


"Yaaa mungkin, saya harap sih tidak, ya. Saya tidak ingin memfitnah Mbah saya. sendiri,"


(Cerita dari pembaca NT dengan akun Daisy Hilvi)


“Pengalaman itu hampir serupa dengan pengalaman saya, Pak,” Kata Pak Manto.


“Ini cerita istri saya. Saya kan sering pulang malam, saya sering tinggal istri saya sampai subuh saya baru balik pulang karena shift malam. Waktu itu kami masih tinggal di rumah mertua di Cirebon. Rumahnya besar dan luas, Pak. Istri saya hanya berdua sama anak saya yang namanya Bima,”


“Di malam-malam tertentu, istri saya cerita, seperti ada suara orang masak, sampai bau wanginya masuk ke dalam kamar. Bau masakan khas Cirebon seperti empal gentong dan lainnya. Awal-awal istri saya berpikir, oh itu tetangga kali ya. Tapi Istri saya merasa aneh, kok masaknya malam sekali jam 2 - jam 3 malam,”


Rahwana menyeringai, “Istrinya bapak keluar kamar tidak saat kejadian itu terjadi?”


“Ya tidak, lah. Kan itu malam-malam waktunya orang tidur,”


Lalu semua orang hening berusaha mencerna perkataan Rahwana.


“Lo bercanda tapi kok serem yak!” dengus Junet


(cerita dari pembaca NT dengan akun Bue)


"Kalau gue," Junet meletakkan gelas plastik kopinya ke kursi plastik di depan mereka. "Paling dulu banget waktu kecil, Almarhum Abah gue pernak dikasih nomer togel sama Mbak K. Katanya Mbak K itu penghuni pohon giri di depan rumah. Togelnya jitu pulak!"


“Nomor togel itu apa?” tanya Jared.


“Kalau di Amerika namanya lotre,”


“Oooh ada yang begitu di sini? Rekrut aja jadi karyawan treasury gimana? Siapa tahu bisa kasih tahu saham mana yang akan profit?”


Lalu semua cekikikan.


(cerita dari pembaca NT dengan akun City)


“Kalau saya nggak pernah lihat,” Hariyanto bersuara, “ Tapi keponakan saya pernah lihat budenya melototin dia lagi duduk di kursi teras. Matanya hitam semua. Padahal budenya ada di dalam rumah. Itu kejadiannya siang bolong loh,”


“Loh, gue ketemu Pak Firman abal-abal itu juga pagi-pagi malah,” kata Rahwana.

__ADS_1


(cerita dari pembaca NT dengan akun Wennz)


“Banyak juga kasus begitu yang ketemu siang hari, tampaknya energi mereka semakin kuat. Entahlah mau ada apa di dunia ini,” Kata Pak Aji.


“Mungkin kiamat semakin dekat Pak,”


“Duh,” keluh pria gemuk itu. “Tapi saya juga ada cerita ini. Teman saya juga ada yang diberi karunia indera keenam yang kuat. Dari lahir memang dia sudah bisa melihat hal gaib, namun karena semakin ke sini semakin mengganggu, dan malah ada orang yang minta dibantu kesannya mereka orang pintar, teman saya itu merasa capek sendiri. Akhirnya dia minta sensenya ‘dilepas’,”


“Memang sekuat apa mata batinnya Pak?”


“Tanpa mendalami ilmu, tanpa ritual dan tanpa berguru dengan siapapun, dia sudah bisa bertemu Ratu Penguasa Lautan di wilayah Barat, ya tahu lah ya siapa, saya tak perlu sebut nama entitasnya,”


“Mata batin walaupun dilepas atau diruqyah, seringkali tidak bisa sepenuhnya tertutup,”


“Betul,”


“Apa saja yang sudah teman bapak lalui?”


“Yang berbekas di ingatannya, saat dia dan suaminya kerja di daerah Cibatu, kalau pulang sellau melewati jembatan yang terkenal angker. Ia melihat ada wanita berbaju merah yang selalu ikut di samping mobil mereka. Si suami bertanya ke wanita astral itu, mengenai permasalahannya. Dan wanita itu tampaknya dibunuh oleh istri juragan, karena... wanita itu tampaknya simpanan si juragan. Lalu teman saya dan suaminya minta si wanita itu untuk ‘kembali’ dan didoakan. Sejak itu si wanita berbaju merah itu tidak tampak lagi. Malah sekarang di lokasi samping jembatan itu dibangun pesantren,”


(cerita dari pembaca NT dengan akun Nenkk Renita)


“Aneh-aneh saja ya Pak kalau berhubungan dengan begituan, dinamikanya lebih bervariasi daripada yang ada di Amerika,” kata Pak Jared


“Hantu Barat ada yang menyeramkan?” tanya Hariyanto


“Seram atau tidaknya itu tergantung perasaan manusia yang melihat. Di Amerika lebih gila pembunuh berantai daripada supranatural,” gerutu Pak Jared.


“Loh, kalau di sini ngeliat setan bisa bikin sakit. Saya itu pernah ngeliat kepala kucing di pojokan rumah kosong mewah tetangga saya, yang bikin kaget, itu kucing gede banget Pak, eh tiba-tiba dia nyengir, dan seringainya seperti manusia! Besoknya saya sakit!” kata Hariyanto,


(cerita dari pembaca NT dengan akun OFF)


Lalu para bapak-bapak itu pun terdiam.


Saat itu Rahwana pun teringat sesuatu.


“Bapak-bapak pernah lihat sosok Noni Belanda di gedung itu?” tanya Rahwana.


Semua menggeleng, “Nggak ada yang secantik itu, Wan,”


“Di sini semuanya amburadul, kalau maksud lo Noni Belanda yang suka ada di sekolah-sekolah tapi jalannya melayang,” kata Junet.


(cerita dari pembaca NT dengan akun Lusyana)


“Nggak, ini Noninya lebih modern. Bajunya setelan pekerja kantoran biasa, tinggi, putih, dada besar, rok mini, kalo senyum cantik banget,” kata Rahwana.


Semua diam.


“Itu sih khayalan lo kalo kesepian,” sahut para bapak-bapak sambil cengengesan.

__ADS_1


Rahwana mendengus kesal.


__ADS_2